Eropa "Terbakar" Rekor Panas, tapi Era Fosil Mulai Retak
Cuaca panas Eropa semakin "bagai di neraka", tetapi energi terbarukan kini menyuplai hampir setengah listrik di benua tersebut.
Lapisan es Greenland kehilangan sekitar 139 gigaton es. Selama 50 tahun terakhir, kehilangan es di Greenland dan Antartika telah menyebabkan kenaikan permukaan laut sebesar tiga sentimeter. Setiap tambahan satu sentimeter membuat sekitar 6 juta orang lebih rentan terhadap banjir pesisir.
Secercah harapan bagi Eropa
Bahan bakar fosil tidak hanya memicu cuaca ekstrem ini, tetapi juga menjadi komoditas yang sangat tidak stabil di tengah konflik geopolitik. Eropa merespons dengan berinvestasi pada sumber energi domestik, dengan energi terbarukan kini menyuplai hampir setengah listrik benua tersebut.
Untuk pertama kalinya pada tahun 2025, energi angin dan surya melampaui bahan bakar fosil sebagai sumber energi listrik di Uni Eropa. Demikian menurut Ember, lembaga pemikir energi global.
Energi surya mencetak rekor baru, menyumbang sekitar 13% listrik Eropa. Ini merupakan tahun keempat berturut-turut pertumbuhan lebih dari 20%.
Di Hungaria, Siprus, Yunani, Spanyol, dan Belanda, tenaga surya menyumbang sekitar seperlima listrik masing-masing negara.
"Pencapaian ini menunjukkan betapa cepatnya Uni Eropa bergerak menuju sistem listrik berbasis angin dan surya,” pungkas Beatrice Petrovich, analis energi senior di Ember. "Dengan ketergantungan pada bahan bakar fosil yang menciptakan ketidakstabilan global, pentingnya transisi ke energi bersih menjadi semakin jelas.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Yuniman Farid

Baca tanpa iklan