Volltexte
Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Ketika Seni Menyoroti Darurat E-Waste di Indonesia

Angelika Saraswati, seniman gen Z, mengubah e-waste atau limbah elektronik menjadi karya instalasi seni. Lewat karyanya, ia menyisipkan…

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Ketika Seni Menyoroti Darurat E-Waste di Indonesia
Deutsche Welle
Ketika Seni Menyoroti Darurat E-Waste di Indonesia 

Tumpukan motherboard, kabel, hingga komponen hasil bongkaran televisi, laptop, dan telepon genggam tak berakhir di tempat sampah. Di sebuah studio seni bernama Asarasa, Jakarta Selatan, limbah teknologi itu justru mendapat kehidupan baru.

Di sana, Angelika Saraswati, sang pemilik studio sekaligus seniman muda, tengah sibuk merangkai papan sirkuit dan kabel-kabel bekas. Tidak untuk ia reparasi, melainkan melahirkan karya seni instalasi yang provokatif.

Baginya, e-waste atau limbah elektronik yang berdampak buruk bagi lingkungan menjadi inspirasi utama dalam berkarya. "E-waste di Indonesia ini masih dibuang sembarangan dan tidak dikelola dengan baik, bahkan ada yang terkubur di tanah karena termasuk golongan bahan beracun dan berbahaya tentunya dapat meracuni tanah di mana pohon tumbuh," ungkap Angelika.

Kesadaran lingkungan itu tumbuh sejak kecil. Keluarga Angelika sudah menerapkan 3R (reduce, reuse dan recycle) yang membuatnya terbiasa untuk mengelola dan mengurangi sampah dari lingkungan rumahnya. Sementara, darah seni yang mengalir dari kakek dan neneknya pun muncul seiring perhatiannya terhadap isu lingkungan semakin besar.

“Sejak kuliah aku ikut mahasiswa pecinta alam. Dari situ merasa harus bekontribusi menjaga lingkungan walaupun kecil. Jadi aku mulai mencoba mendaur ulang plastik menjadi aksesoris, lebih jauh lagi aku kembangkan dan membuat karya seni dari e-waste."

Baginya, seni jadi langkah kecil untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya mengelola sampah, khususnya sampah elektronik.

Seni instalasi dari e-waste

Kini, Angelika telah membuat empat karya seni instalasi dari e-waste yang ia kerjakan sejak akhir tahun 2025. Empat karya tersebut berjudul "Human Tree", "Poisoned Tree", "Disconnected Ground", dan "Hands".

Rekomendasi Untuk Anda

Perempuan lulusan proram studi Jurnalistik ini menuturkan, “Empat instalasi itu semuanya berhubungan. Filosofinya adalah manusia menggunakan barang elektronik yang nantinya menjadi limbah, tapi mereka tidak bertanggung jawab dalam menanggulanginya. Di sisi lain, masih ada harapan dari tangan-tangan yang mau mencari solusi dari kerusakan alam akibat sampah elektronik.”

Selain limbah elektronik pribadi, ia mendapatkan bahan baku untuk karyannya dari komunitas pengelola limbah elektronik bernama E-waste RJ.

Dalam proses kreatifnya, Angelika berusaha memanfaatkan hampir seluruh bagian perangkat, dari komponen terkecil hingga bagian besar yang sulit dibongkar. "Perlu waktu 3 hari untuk pembongkaran, bahkan sampai membongkar TV, laptop, hingga kipas angin untuk memanfaatkan komponen kecil di dalamnya," ungkapnya.

Bukan tanpa risiko, proses tersebut juga memiliki potensi risiko kesehatan. Karena itu, Angelika mewajibkan seluruh tim memakai masker dan sarung tangan saat bekerja. “Semua harus pakai demi keselamatan. Kami khawatir ada baterai bocor yang bisa berdampak ke kesehatan.”

Setelah proses yang panjang, hasil karya Angelika kini dipamerkan di berbagai lokasi, mulai dari sekolah hingga pusat perbelanjaan di Jakarta. Misalnya, karya dengan judul "Poisoned Tree" yang terpampang di SDN 07 Kebon Baru, Jakarta Selatan.

Edyana Nugraha, guru di sekolah itu, berharap karya yang dipasang di ruang perpustakaan sekolah dapat menggugah kesadaran anak-anak agar lebih peduli terhadap lingkungan.

“Karya ini diharapkan memantik anak-anak untuk menggali wawasan terkait pengelolaan sampah khususnya e-waste untuk nantinya diterapkan dalam kegiatan sehari-hari,” pungkas Edyana,

Indonesia darurat e-waste

Menurut laporan Global E-Waste Monitor 2024, Indonesia menghasilkan sekitar 1,9 juta ton limbah elektronik per tahun, menjadikannya penghasil e-waste terbesar di Asia Tenggara. Estimasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2022, Indonesia menghasilkan sekitar 2 juta ton sampah elektronik per tahun, baru 17,4% yang berhasil terkelola.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas