Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Mengenal Hantavirus: Cara Penularan, Gejala, dan Risikonya

Tiga orang dilaporkan meninggal dunia di sebuah kapal pesiar di Samudra Atlantik, diduga akibat hantavirus. Penyakit ini juga menyerang…

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Mengenal Hantavirus: Cara Penularan, Gejala, dan Risikonya
Deutsche Welle
Mengenal Hantavirus: Cara Penularan, Gejala, dan Risikonya 

Jenis hantavirus yang paling umum di Jerman adalah virus Puumala, dengan tikus ladang sebagai inang utama. Menurut The Lancet, tingkat kematian akibat virus ini sekitar 1%.

Infeksi manusia oleh virus Dobrava-Belgrade juga pernah dilaporkan di Jerman. Virus Puumala hanya ditemukan di wilayah Jerman bagian barat, sedangkan virus Dobrava-Belgrade terbatas di Jerman bagian timur, sesuai dengan habitat inangnya, yaitu tikus ladang bergaris.

Selain itu, virus Seoul juga sesekali menjadi penyebab infeksi hantavirus di Jerman.

Dampak jangka panjang dan pengobatan

Studi terbaru menunjukkan bahwa infeksi hantavirus dapat menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang, bahkan setelah infeksi akut sembuh. Peneliti menemukan bahwa pasien memiliki risiko yang lebih tinggi terkena kanker darah tertentu dan penyakit kardiovaskular pada tahun-tahun setelah infeksi. Mekanisme penyebabnya masih belum sepenuhnya dipahami, menurut The Lancet.

Pengobatan hantavirus pada umumnya terbatas pada penanganan gejala. Pada kasus berat, pasien mungkin memerlukan cuci darah (dialisis) atau alat bantu pernapasan (ventilator).

Saat ini, belum tersedia vaksin hantavirus di Eropa, Amerika Utara, maupun Amerika Selatan. Vaksin memang digunakan di Cina dan Korea Selatan, tapi efektivitasnya belum terbukti secara ilmiah, menurut laporan The Lancet.

Penelitian mengenai terapi baru terus dilakukan. Sebuah terapi eksperimental berbasis antibodi dari para penyintas berhasil menetralisir beberapa jenis hantavirus dalam uji coba awal. Selain itu, vaksin DNA yang menargetkan virus Puumala menunjukkan hasil menjanjikan dalam uji klinis tahap awal pada manusia, dengan hasil yang dipublikasikan pada November 2024.

Rekomendasi Untuk Anda

Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Jerman

Diadaptasi dari bahasa Inggris oleh Hani Anggraini

Editor: Prihardani Purba

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas