Perang Iran: Trump Sebut Gencatan Senjata “Di Ujung Tanduk”
Setelah menolak respons Iran terhadap proposal damai AS, Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa gencatan senjata dalam perang…
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran berada "di ujung tanduk.” Menurutnya, respons terbaru Teheran terhadap proposal perdamaian Washington "sama sekali tidak dapat diterima.”
Saat ditanya mengenai status gencatan senjata pada Senin (11/5), Trump mengatakan kepada wartawan bahwa kondisinya berada pada titik terlemah. "Saya menyebutnya sangat rapuh sekarang, setelah membaca sampah yang mereka kirimkan kepada kami. Saya bahkan tidak menyelesaikan membacanya,” ujarnya.
"Gencatan senjata ini benar-benar berada dalam kondisi kritis dan hanya bertahan dengan dukungan 'alat bantu hidup', seperti saat seorang dokter masuk dan berkata, ‘Tuan, orang yang Anda cintai hanya memiliki peluang sekitar 1% untuk bertahan hidup,'” papar Trump.
Dalam responsnya yang dirilis pada Minggu (10/05), Iran menyerukan penghentian perang di semua lini, termasuk di Lebanon, menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang, serta menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz.
Iran juga mendesak Amerika Serikat untuk mengakhiri blokade laut, memberi jaminan tidak akan ada serangan lanjutan, mencabut sanksi, serta menghapus larangan penjualan minyak Iran.
Sementara itu, Washington mengusulkan penghentian pertempuran sebagai langkah awal menuju perundingan terkait isu-isu yang lebih sensitif, termasuk program nuklir Iran.
Iran ancam akan membalas jika diserang
Setelah Trump memperingatkan bahwa gencatan senjata di Timur Tengah berada "di ujung tanduk”, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf menyatakan bahwa militer Iran siap menghadapi dan membalas setiap bentuk agresi.
"Angkatan bersenjata kami siap merespons dan memberi pelajaran atas setiap tindakan agresif,” ujar Qalibaf melalui akun X. Ia menambahkan bahwa strategi dan keputusan yang keliru hanya akan menghasilkan konsekuensi yang buruk.
"Dunia sudah memahami kenyataan ini,” katanya. Dalam unggahan terpisah beberapa jam kemudian, Qalibaf menegaskan bahwa "tidak ada alternatif” bagi Washington selain menerima proposal perdamaian Teheran yang terdiri dari 14 poin.
"Pendekatan apa pun selain itu tidak akan membuahkan hasil dan hanya akan berakhir dengan kegagalan demi kegagalan,” tulis Qalibaf. "Semakin lama penundaan dilakukan, semakin besar pula konsekuensi biaya yang harus ditanggung oleh rakyat Amerika Serikat.”
Penolakan Trump terhadap proposal Iran memicu kekhawatiran akan kembalinya eskalasi konflik, yang berpotensi semakin mengguncang pasar energi global yang saat ini sudah terganggu oleh perang.
AS tambah sanksi terkait ekspor minyak Iran ke Cina
Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap perekonomian Iran dengan menjatuhkan sanksi tambahan.
Pada Senin (11/05), Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi terhadap tiga individu dan sembilan perusahaan, termasuk empat perusahaan yang berbasis di Hong Kong, empat di Uni Emirat Arab, serta satu perusahaan yang berbasis di Oman. Pihak-pihak tersebut dituduh memfasilitasi penjualan dan pengiriman minyak Iran ke Cina atas nama Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Dalam pernyataannya, Departemen Keuangan AS menyebut bahwa IRGC menggunakan jaringan perusahaan cangkang untuk "menyembunyikan perannya dalam penjualan minyak serta menyalurkan pendapatan kepada rezim Iran.”
Pengumuman sanksi ini muncul hanya beberapa hari sebelum rencana pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping. Dalam pertemuan tersebut, Trump diperkirakan akan mendesak Cina agar membantu menyelesaikan kebuntuan dengan Iran dan membuka kembali Selat Hormuz.

Baca tanpa iklan