Jerman dan Jepang Uji Masa Depan Hidrogen lewat Mobil BMW dan Toyota
Dalam kunjungan ke Jepang, Menteri Transportasi Jerman Patrick Schnieder meninjau berbagai proyek hidrogen untuk menjadikan bahan…
Pada Rabu (13/05), Menteri Transportasi Jerman Patrick Schnieder tiba di pabrik sel bahan bakar Toyota menggunakan BMW iX5 Hydrogen asal Jerman. Saat meninggalkan lokasi, ia kemudian menggunakan Toyota Crown FCEV dari Jepang. Pilihan kendaraan ini bukan kebetulan. Sebab, kedua kendaraan sama-sama menghasilkan listrik dari hidrogen melalui fuel cell atau sel bahan bakar.
Saat ini, produsen mobil BMW dan Toyota sedang bersama-sama mengembangkan teknologi hidrogen generasi ketiga ini. Tiga karyawan BMW secara khusus pindah ke Jepang untuk ikut dalam proyek tersebut.
Kedua perusahaan menyumbangkan komponen untuk membantu menciptakan fuel cell yang lebih ringkas dan efisien. Setelah tahap ini selesai, BMW akan memproduksi teknologi ini di pabriknya di Austria, sementara Toyota akan melakukannya di fasilitas produksi di Jepang. BMW berencana meluncurkan model hidrogen seri pertamanya pada 2028. Toyota juga akan melengkapi dua model hidrogen yang sudah ada dengan sistem baru ini, meski rincian lengkapnya belum diumumkan.
Tantangan besar permintaan hidrogen hijau
“Kerja sama antara Toyota dan BMW dalam hidrogen sangat penting untuk pengembangan teknologi ini ke depan,” kata Menteri Transportasi Schnieder kepada wartawan setelah kunjungannya ke Toyota.
“Kita perlu mempersiapkan hidrogen untuk produksi massal agar kita tidak hanya bergantung pada baterai dan bahan bakar fosil, serta bisa membangun rantai pasok yang lebih luas,” tambahnya.
Menurut Schnieder, Jerman dan Jepang telah bekerja sama mengembangkan teknologi ini sejak 2019.
Jerman memperkirakan, permintaan hidrogen hijau dari listrik terbarukan, akan meningkat tajam pada 2030. Namun, negara itu tidak akan mampu memenuhi permintaan tersebut. Karenanya, Jerman harus mengimpor hidrogen dalam jumlah besar.
Jepang juga berencana memperluas kapasitas hidrogennya hingga 12 juta ton per tahun pada 2040. Namun, Jepang juga mendorong produksi amonia sebagai pembawa hidrogen. Amonia akan digunakan sebagai bahan bakar transisi di pembangkit listrik tenaga termal.
Hidrogen masih belum umum
Kunjungan menteri Jerman ke Jepang menunjukkan bahwa hidrogen hijau masih belum umum, terutama untuk sektor industri.
Schnieder mengunjungi terminal hidrogen cair pertama di dunia di Pelabuhan Kobe. Sejauh ini, tempat pertama itu pun hanya digunakan untuk pengujian. Ia juga mengunjungi Bandara Kansai di Osaka. Di situ, bus dan forklift sudah menggunakan sel bahan bakar. Namun, ini masih sebatas proyek percontohan.
Jepang dan Jerman belakangan ini memperkuat kerja sama hidrogen mereka. September lalu, mereka sepakat membentuk rantai pasok hidrogen komersial. Perusahaan yang terlibat antara lain adalah: Kawasaki Heavy Industries, Toyota, perusahaan listrik Jepang Kepco, Daimler Truck, pemasok bahan bakar MB Energy yang berbasis di Hamburg, serta Pelabuhan Hamburg.
Sementara itu, otoritas Jerman dan Jepang juga mengeksplorasi cara menekan biaya produksi hidrogen. Sebab, pada tahap awal, hidrogen hijau akan jauh lebih mahal dibanding bahan bakar fosil.
Siemens Energy dan Toray ingin meningkatkan teknologi elektrolisis untuk hidrogen hijau. Sementara itu, Thyssenkrupp Nucera berupaya masuk ke pasar elektrolisis Jepang.
Standar stasiun pengisian hidrogen di Jerman
Dalam hal membuat hidrogen tersedia secara luas, Jerman masih satu langkah lebih maju dibanding Jepang. Awal tahun ini, Menteri Schnieder mengalokasikan total 220 juta euro (Rp4,5 triliun) untuk membangun 40 stasiun pengisian hidrogen di negara tersebut. Ia juga menyiapkan 400 truk berbahan bakar hidrogen di jalan.
Sementara itu, Daimler Truck sudah mulai mengoperasikan stasiun pengisian hidrogen cair pertama di Jerman untuk truk.
