Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Lewat Vinyl, Menemukan Kembali Musik di Era Berlangganan

Mendengarkan musik lewat layanan digital sudah menjadi kebutuhan bagi banyak orang. Namun, minat pada rilisan fisik justru ikut meningkat.…

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Lewat Vinyl, Menemukan Kembali Musik di Era Berlangganan
Deutsche Welle
Lewat Vinyl, Menemukan Kembali Musik di Era Berlangganan 

Namun di tataran industri musik independen, sejumlah musisi masih membuat rilisan fisik. Faktor utamanya adalah permintaan dari para penggemar. Wendi, yang juga manajer band heavy metal Seringai, mengungkapkan, “Lewat label yang kami (Seringai) kelola sendiri, kami tetap konsisten merilis CD, kaset, hingga piringan hitam sejak album pertama hingga album terbaru.”

Menurutnya, rilisan fisik bukan hanya soal distribusi, tetapi juga kebanggaan. Ia bahkan berkelakar, “Yakin lo musisi? Rilisan fisik lo mana?”

Ia juga menambahkan, Seringai pernah menjual 8.000 keping CD saat perilisan album bertajuk "Seperti Api" pada tahun 2018. “Angka penjualan tersebut mungkin kecil untuk tataran industri major label karena mereka dulu sudah bisa menjual jutaan keping CD, tapi untuk musisi independen itu adalah angka yang besar,” pungkas mantan jurnalis Rolling Stone Indonesia tersebut.

Tren baru atau sekedar nostalgia?

Bagi Ika, mengoleksi rilisan fisik terutama piringan hitam bukan sekedar tren, “Bagi saya kebutuhan itu ada sandang, pangan, papan, menabung, dan terakhir vinyl. Sudah ada pos keuangan khusus untuk itu,” ujarnya sambil tertawa.

Ibu dengan satu anak ini juga mengapresiasi generasi muda yang masih menikmati musik lewat rilisan fisik, “Ini jadi tren yang bagus, jadi ada regenerasi, bahkan saya juga menularkan hobi ini ke anak saya dan sekarang bisa berbagi referensi musik dengannya.”

Sementara itu, Wendi menilai fenomena kembalinya minat pada koleksi rilisan fisik, bukan sekadar nostalgia. “Bagi generasi baru, ini adalah pengalaman pertama dengan format fisik. Harapannya, rilisan fisik bisa menjadi alternatif di tengah derasnya disrupsi digital, di mana orang bisa kembali menikmati musik secara utuh, bukan sekadar mendengarkan,” ujarnya.

Ia memprediksi, tren rilisan fisik masih berpotensi tumbuh dan berharap bisa memberi dampak positif bagi industri musik Indonesia di masa depan.

Rekomendasi Untuk Anda

Editor: Tezar Aditya

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas