Kenapa Proyek Militer Terbesar Eropa Bermasalah?
Perselisihan soal prioritas, kepemimpinan, dan kendali industri mengancam proyek pengembangan jet tempur generasi keenam milik Eropa.…
Perselisihan politik tersebut juga dipicu benturan kepentingan industri. Dassault Aviation, produsen jet tempur Rafale asal Prancis, ingin memegang kendali utama atas pengembangan pesawat baru itu. Sementara Airbus Defence and Space, yang mewakili kepentingan Jerman dan Spanyol, menuntut peran lebih besar.
Akibatnya, sengketa berkepanjangan soal kepemimpinan proyek, pembagian kerja, dan transfer teknologi terus menghambat kemajuan FCAS. Berbagai upaya mediasi gagal menghasilkan terobosan.
Kompromi dua pesawat
Kini Airbus memberi sinyal bahwa solusi terbaik mungkin bukan lagi memaksakan satu pesawat untuk memenuhi seluruh kebutuhan.
Bagi banyak analis, bagian paling penting FCAS saat ini justru bukan pesawat tempurnya, melainkan combat cloud.
Pakar pertahanan Christian Mölling mengatakan kepada DW bahwa sistem tersebut krusial karena Eropa masih sangat bergantung pada Amerika Serikat. Sejumlah pengamat lain menilai pengembangan drone, perangkat lunak, dan jaringan pertempuran masih bisa diteruskan meski proyek jet tempur dipisah atau diperkecil.
Namun masalah FCAS kini merembet ke proyek besar Prancis-Jerman lainnya: Main Ground Combat System (MGCS), calon "super tank" Eropa masa depan.
MGCS dirancang untuk menggantikan tank Leopard 2 milik Jerman dan Leclerc milik Prancis. Proyek itu diluncurkan bersamaan dengan FCAS pada 2017 sebagai bagian kompromi politik Paris-Berlin.
Pembagian perannya jelas: Prancis memimpin proyek jet tempur melalui Dassault, sedangkan Jerman memimpin proyek tank berkat kekuatan industrinya di bidang kendaraan lapis baja.
Tujuannya bukan sekadar membangun senjata, melainkan juga mengikat dua kekuatan militer terbesar Eropa dalam satu kepentingan strategis.
Misi elusif Eropa
Namun kompromi itu kini tampak rapuh. Jika FCAS dipecah, direstrukturisasi, atau dilemahkan, keseimbangan yang menopang MGCS juga bisa terguncang.
MGCS sendiri sudah mengalami berbagai penundaan. Prancis dan Jerman baru menyepakati kelanjutan fase berikutnya pada 2024, sementara sistem itu diperkirakan baru siap digunakan sekitar 2040.
Invasi penuh Rusia ke Ukraina mendorong negara-negara Eropa meningkatkan belanja pertahanan sekaligus mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat. Uni Eropa sejak itu menyerukan lebih banyak pengadaan senjata bersama dan penguatan industri pertahanan Eropa.
Namun kekacauan di sekitar FCAS menunjukkan betapa sulitnya ambisi Eropa terwujud.
Analis pertahanan dari Carnegie Endowment for International Peace menilai nasib FCAS akan menentukan masa depan kerja sama pertahanan Eropa selama bertahun-tahun ke depan. Jika proyek ini gagal, pemerintah negara-negara Eropa kemungkinan akan jauh lebih berhati-hati meluncurkan proyek persenjataan multinasional berskala besar serupa di masa depan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Arti Ekawati
