Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Kasus HAM Cina Terkatung-katung Usai KTT Trump–Xi

Trump mengaku telah membahas tahanan politik di Cina bersama XI, termasuk nasib taipan media Hong Kong Jimmy Lai. Menjelang kunjungan…

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Kasus HAM Cina Terkatung-katung Usai KTT Trump–Xi
Deutsche Welle
Kasus HAM Cina Terkatung-katung Usai KTT Trump–Xi 

Dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) dengan Presiden Cina Xi Jinping bulan ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku sudah menyinggung nasib dua tahanan, yaitu pendeta Kristen Ezra Jin Mingri dan taipan media Hong Kong Jimmy Lai.

Mingri merupakan pendiri Gereja Protestan Zion, salah satu gereja bawah tanah terbesar di Cina, yang ditangkap pada 2025.

Sementara itu, Lai dijatuhi hukuman 20 tahun penjara pada bulan Februari atas tuduhan kolusi asing dan penghasutan terkait kepemilikannya atas surat kabar prodemokrasi Apple Daily yang kini telah ditutup.

Dalam pernyataannya kepada wartawan pada 15 Mei, Trump mengatakan bahwa Xiakan "mempertimbangkan secara serius kasus pendeta tersebut”. Namun, Trump juga menyoroti bahwa Xi menyebut kasus Lai sebagai "kasus yang sulit”, dan Trump mengakui dirinya "tidak merasa optimistis”.

Trump mendapat apresiasi meski perkembangannya lambat

Setelah pertemuan tersebut, keluarga Jin dan Lai menyampaikan terima kasih kepada Trump dan Gedung Putih atas dukungan yang diberikan dalam pertemuan penting tersebut.

"Kami sangat berterima kasih Presiden menyebut ayah saya dalam pertemuan yang begitu penting ini,” kata Grace Jin Drexel, putri Pendeta Jin, kepada DW.

Putri Lai, Claire Lai, juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintahan Trump atas "komitmennya untuk membebaskan ayah saya”, saat menerima Freedom Award untuk ayahnya dari Freedom House pekan lalu.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun, sejak pernyataan Trump tersebut, belum ada perkembangan baru dari Washington maupun Beijing.

"Kami belum mendengar perkembangan lain selain yang sudah disampaikan ke publik,” ujar Drexel. "Saya percaya bahwa pemerintahan dan seluruh staf di kabinetnya (Trump) sedang menindaklanjuti hal ini,” tambahnya.

Namun, para aktivis melihat ada peluang untuk menekan Cina agar membebaskan para tahanan politik saat Trump mengundang Xi untuk berkunjung ke Gedung Putih pada September mendatang.

"Kami di kalangan aktivis sangat memusatkan perhatikan pada kunjungan Xi Jinping,” kata Mark Clifford, Presiden Committee for Freedom in Hong Kong dan mantan direktur Next Digital. "Meski Trump mencoba meredam ekspektasi, ia tidak pernah mengatakan hal itu mustahil.”

Keluarga Pendeta Jin masih 'optimis dengan kehati-hatian'

Jin dan 17 anggota Gereja Zion lainnya ditahan di Guangxi sejak pemerintah Cina menangkap 29 orang pada Oktober 2025. Ia didakwa "menggunakan jaringan informasi secara ilegal” karena berkhotbah secara daring dalam gereja Protestan bawah tanah yang tidak terdaftar dan beroperasi di luar pengawasan pemerintah.

Drexel mengatakan kondisi ayahnya "tidak dalam kondisi yang baik di penjara” dan mengungkap kalau Jin menderita diabetes. Meski demikian, ia tetap bersikap "optimis dengan kehati-hatian” setelah Trump menyebut Xi mempertimbangkan pembebasan pendeta tersebut.

"Ini masih sangat baru, dan saya rasa tidak ada yang benar-benar memiliki panduan untuk ini,” katanya. "Secara historis, Cina adalah negara yang sangat sulit dalam hal membebaskan tahanan hati nurani."

Menurut Drexel, Jin telah menyampaikan kepada otoritas Cina bahwa ia bersedia pensiun dari gereja dan pindah ke Amerika Serikat (AS) jika dibebaskan.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas