Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Deutsche Welle

Energi Hijau Berlimpah di Eropa, Kenapa Masih Krisis?

Eropa menghasilkan surplus listrik dari tenaga surya dan angin pada siang hari. Namun, minimnya kapasitas baterai dan jaringan listrik…

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Energi Hijau Berlimpah di Eropa, Kenapa Masih Krisis?
Deutsche Welle
Energi Hijau Berlimpah di Eropa, Kenapa Masih Krisis? 

Pada siang hari, ketika angin bertiup dan matahari bersinar, jumlah listrik yang tersedia di Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya sering kali lebih banyak daripada yang dibutuhkan.

Namun, kapasitas penyimpanan baterai yang belum memadai membuat energi tersebut tidak dapat disimpan untuk digunakan nanti. Setelah matahari terbenam, pembangkit listrik berbahan bakar gas alam sering kali harus mengambil alih untuk menutupi kekurangan pasokan.

Hal itu harus berubah jika Jerman ingin menjadi netral iklim pada tahun 2045. Fasilitas penyimpanan energi hijau berskala besar sangat penting untuk menjaga stabilitas harga listrik dan mewujudkan transisi menuju 100% energi terbarukan.

Uni Eropa, yang telah menetapkan target netral iklimnya sendiri pada tahun 2050, saat ini menghasilkan sekitar setengah dari listriknya dari energi terbarukan. Di seluruh Eropa, fasilitas penyimpanan yang ada saat ini memiliki kapasitas sekitar 14 GW, menurut data dari Joint Research Centre Komisi Eropa.

Dalam beberapa tahun terakhir, ekspansi tersebut meningkat secara dramatis: tambahan kapasitas penyimpanan sebesar 84 GW, yang mewakili peningkatan enam kali lipat, saat ini berada dalam tahap perencanaan atau konstruksi dan diperkirakan akan mulai beroperasi dalam beberapa tahun ke depan.

Hal itu mencerminkan tren global, menurut kelompok riset Bloomberg New Energy Finance. Analisis terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan terkuat fasilitas penyimpanan berskala besar diperkirakan akan terjadi di Asia, khususnya di Cina dan India. Di Eropa, Jerman dan Italia, negara dengan produksi energi terbarukan yang signifikan, juga menjadi pasar utama bagi penyimpanan energi baru.

Sebagian dari pertumbuhan pesat itu disebabkan oleh penurunan biaya. Dalam beberapa tahun terakhir, harga baterai lithium-ion turun sekitar 20% per tahun. Pada 2030, menurut proyeksi Uni Eropa, biaya baterai diperkirakan turun setengah dibandingkan dengan harga tahun 2022.

Rekomendasi Untuk Anda

Ketika sistem penyimpanan kecil milik pribadi dan fasilitas berskala besar digabungkan, kapasitas di Uni Eropa telah meningkat sepuluh kali lipat sejak 2022. Namun, untuk memenuhi target iklim blok tersebut, angka itu harus meningkat lagi hingga sepuluh kali lipat menjadi sekitar 750 GW, target yang masih cukup jauh untuk dicapai.

Investasi baterai dapat menjaga stabilitas harga listrik

Harga energi terbarukan biasanya sangat rendah pada siang hari, bahkan terkadang turun di bawah nol, sering kali akibat surplus listrik yang dihasilkan oleh angin dan tenaga surya. Akibatnya, beberapa pembangkit energi terbarukan dimatikan selama beberapa jam untuk menyeimbangkan pasokan, sehingga mengurangi keuntungan produsen energi.

Ketika pembangkit listrik berbahan bakar gas dan batu bara mulai beroperasi pada malam hari untuk menutupi kekurangan energi, hal itu kembali mendorong harga naik, jelas Dirk Uwe Sauer, profesor dan pakar sistem penyimpanan energi dari RWTH Aachen University di Jerman.

“Jika kita melihat harga-harga ini, misalnya dari tahun lalu, maka kita melihat bahwa sekitar tengah hari harga rata-rata listrik tidak jauh lebih tinggi dari €0,03 (sekitar Rp570),” katanya kepada DW. “Pada awal malam, harganya mendekati €0,18 (sekitar Rp.3.420)”

Perbedaan besar ini membuat investasi pada teknologi penyimpanan baterai menjadi menarik secara ekonomi, terutama di saat harga gas alam melonjak akibat perang di Ukraina dan Iran.

Sauer menunjukkan bahwa setiap unit penyimpanan tambahan dapat membantu meredam lonjakan harga, sehingga menguntungkan industri energi terbarukan maupun konsumen rumah tangga. Hingga baru-baru ini, ekspansi energi terbarukan di Eropa terhambat oleh proses perizinan yang lambat, tahap perencanaan yang panjang, serta hambatan besar dalam menghubungkan penyimpanan baterai ke jaringan listrik.

Baterai yang lebih baik menjadi kunci transisi energi

“Setiap tahun, kita menghabiskan sekitar €80 miliar (sekitar Rp1.250 triliun) untuk mengimpor energi dari luar negeri. Itu adalah ketergantungan yang besar, dan energi terbarukan dapat membantu kita melepaskan diri dari hal tersebut,” kata Sauer. Agar itu dapat terjadi, tambahnya, pembangunan fasilitas penyimpanan baterai dan jaringan listrik harus dipandang sebagai satu kesatuan.

“Bersama dengan fasilitas angin dan fotovoltaik, kita harus membangun jaringan listrik lokal untuk mendistribusikan listrik secara langsung, gunaserta fasilitas penyimpanan untuk menyimpannya bagi digunakan di kemudian hari. Keduanya benar-benar sangat penting,” katanya.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas