'Pertama di dunia', vaksin dirancang oleh kecerdasan buatan
Sejumlah ilmuwan Universitas Cambridge mengklaim telah menguji sebuah vaksin yang dirancang oleh kecerdasan buatan.
Ia menyebut teknologi ini "mengejutkan kita semua" dan "luar biasa apa yang dapat kita lakukan dengannya untuk kebaikan umat manusia".
Heeney mengatakan kepada BBC News: "Ini tentang membuat vaksin yang melindungi kita, bukan hanya dari virus hari ini, tetapi melindungi kita dari apa yang dapat menyebabkan wabah atau penyakit berikutnya.
"Ini adalah perubahan mendasar dalam cara kita bersiap melawan pandemi."
Uji coba pada 39 orang dirancang untuk menilai apakah vaksin semacam ini aman.
Studi kedua—yang melibatkan sekitar 200 orang—akan memberikan pemahaman lebih besar tentang seberapa baik vaksin ini melatih sistem kekebalan tubuh.
Temuan yang dirinci dalam Journal of Infection menyatakan bahwa dampaknya terhadap sistem kekebalan tubuh "sederhana", tetapi tetap menimbulkan antusiasme.
Prof Saul Faust, yang melakukan sebagian uji coba di University of Southampton, mengatakan desain AI "jelas memiliki potensi" dan "sangat menarik".
Ia mengatakan kepada BBC: "Yang benar-benar menarik adalah teknologi ini jauh lebih baik dalam merancang vaksin untuk potensi pandemi ketika virus berubah."
Tim peneliti Cambridge kini sudah melakukan penelitian pada hewan untuk vaksin flu musiman universal yang tidak perlu disesuaikan setiap tahun dan vaksin flu burung H5N1, jika virus tersebut berubah menjadi pandemi pada manusia.
Mereka juga meneliti vaksin untuk demam berdarah virus, yang mencakup spesies Ebola.
Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo disebabkan oleh spesies yang belum mendapat perlawanan vaksin.
Prof Andy Pollard, direktur Oxford Vaccine Group, tidak terlibat dalam penelitian ini, tetapi mengatakan pendekatan menggunakan AI menghasilkan bukti yang meyakinkan dalam penelitian pada hewan.
"Ini adalah data yang menarik dan orang tidak akan memperkirakan bahwa mereka mampu menghasilkan respons kekebalan seperti ini," katanya kepada BBC News.
Ujian sebenarnya, katanya, adalah apa yang terjadi dalam uji coba pada manusia karena sistem kekebalan manusia berbeda dengan tikus laboratorium, karena sistem kita dibentuk oleh bertahun-tahun infeksi.
Secara lebih luas ia mengatakan kecerdasan buatan akan menjadi "pengubah permainan" dalam penelitian vaksin. Alat AI, menurutnya, berpotensi memprediksi bagaimana respons sistem kekebalan terhadap vaksin, sehingga pengembangan menjadi jauh lebih cepat dan akan "menyelamatkan nyawa".