Volltexte
Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
Live
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
VS
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
VS
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
VS
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Deutsche Welle

Hormuz Akan Dibuka, tapi Pelayaran Normal Masih Jauh dari Kenyataan

Harapan muncul seiring rencana kesepakatan AS-Iran untuk membuka kembali aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Tapi ranjau liar,…

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Hormuz Akan Dibuka, tapi Pelayaran Normal Masih Jauh dari Kenyataan
Deutsche Welle
Hormuz Akan Dibuka, tapi Pelayaran Normal Masih Jauh dari Kenyataan 
Memuat video…

"Jepang, Korea, dan Cina kurang terbuka terhadap risiko tinggi, sementara Yunani punya selera yang berbeda—jadi mungkin kita akan melihat sebagian mulai bergerak," kata Singh kepada Bloomberg.

Kapan kapal-kapal yang terjebak bisa mulai bergerak?

Begitu koridor aman di selat selesai dibangun, ratusan kapal beserta awaknya yang sudah berbulan-bulan terdampar di kawasan Teluk bisa mulai bergerak.

Bloomberg mengutip data dari firma intelijen komoditas Kpler yang menyebut 300 kapal bermuatan penuh saat ini berdiam di Teluk, sementara 250 kapal lainnya kosong dan menunggu untuk dimuat begitu selat dibuka.

Di dekat Teluk Oman, 300 tanker kosong lainnya mengantri izin masuk ke Teluk.

Mengisi awak kapal-kapal itu pun bisa jadi tantangan tersendiri. Sekitar 20.000 pelaut diperkirakan masih tertahan di atas kapal yang terjebak, menurut Organisasi Maritim Internasional (IMO) PBB.

Badan itu juga mengonfirmasi 14 anggota awak tewas dalam serangan, sekitar separuhnya warga India yang merupakan pemasok pelaut terbesar ketiga di dunia setelah Filipina dan Cina.

Di tengah keengganan yang makin besar di kalangan awak untuk menerima penugasan di kawasan Teluk, Direktorat Jenderal Pelayaran India pada Minggu (14/06) memerintahkan agen ketenagakerjaan membatasi penugasan ke daerah konflik.

Fasilitas energi yang rusak dan jalan menuju normal

Rekomendasi Untuk Anda

Negara-negara Teluk kini bisa mulai menggenjot produksi minyak dan gas. Tapi ini butuh inspeksi keamanan fasilitas energi, perbaikan infrastruktur yang rusak, serta pemulangan bertahap para pekerja dan kru pemeliharaan.

Pemulihan penuh juga bergantung pada pulihnya jadwal pengiriman, tersedianya cukup tanker, dan keyakinan pembeli internasional bahwa pasokan sudah bisa diandalkan lagi.

Neil Shearing, kepala ekonom grup di Capital Economics yang berbasis di Inggris, memproyeksikan Senin bahwa sekitar 80% aliran energi melalui Hormuz baru bisa pulih pada akhir September.

Ia memperingatkan bahwa aliran gas alam "akan lebih lambat pulih," dengan menunjuk kerusakan di pusat LNG Ras Laffan milik Qatar—di mana serangan melumpuhkan sekitar 17% kapasitas ekspor negara itu, kemungkinan untuk beberapa tahun ke depan.

Apa lagi yang bisa menghambat pemulihan?

Masalah terbesar yang belum terselesaikan adalah bahwa kesepakatan AS-Iran ini baru sebuah kerangka—bukan perjanjian final.

AS bersikeras menginginkan selat yang bebas bea secara permanen, sementara Iran berbicara soal "biaya layanan" dan mempertahankan kendali atas jalur perairan itu bersama Oman.

Dengan isu-isu besar yang masih menggantung seperti ambisi nuklir Iran, keringanan sanksi, dukungan Teheran terhadap Hezbollah dan Houthi, para analis menilai risiko serangan susulan masih nyata.

Iran, yang makin percaya diri dengan kartu Hormuz di tangannya, kemungkinan akan terus menguji batas.

Sementara itu PM Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya tidak terikat kesepakatan itu dan akan terus bertindak membela diri, memunculkan kekhawatiran bahwa serangan sepihak bisa meruntuhkan kerangka rapuh ini kapan saja.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Fika Ramadhani

Editor: Rizki Nugraha

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas