Kesepakatan Damai AS-Iran Masih Sarat Ketidakpastian
Kesepakatan damai antara AS dan Iran dijadwalkan akan ditandatangani pada Jumat (19/06) pekan ini. Meski harapan akan perdamaian masih…
Salah satu batasan paling jelas dari kesepakatan ini adalah bahwa Israel tidak secara resmi menjadi pihak di dalamnya, meskipun sangat terdampak oleh kesepakatan tersebut. Hal ini penting karena beberapa konflik regional paling sensitif, terutama di Lebanon, sangat bergantung pada langkah-langkah yang diambil Israel.
Dorbeiki menyebut ini sebagai salah satu titik lemah struktural kesepakatan ini. Menurutnya, Washington mungkin bersedia menerima kerangka yang mengurangi risiko langsung dan memulihkan stabilitas maritim, sementara Israel dapat terus melakukan operasi sepihak di Gaza, Lebanon, atau Suriah, jika menilai kesepakatan itu tidak cukup menjawab kekhawatirannya.
Kemungkinan ini juga memicu kritik di Iran. The Guardian melaporkan bahwa kelompok garis keras Iran mengecam kesepakatan tersebut sebagai kompromi yang memalukan. Mereka menilai kesepakatan itu tidak memberikan jaminan kompensasi, keringanan sanksi menyeluruh, maupun keuntungan keamanan jangka panjang bagi Teheran.
Disambut baik di luar negeri, picu kemarahan di dalam negeri
Pengumuman tersebut mendapat reaksi positif dan dukungan dari para pemimpin dunia, termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Namun, pejabat tinggi Israel tidak antusias menyambut kabar itu. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menulis bahwa “kesepakatan Trump tidak mengikat kami” dan bahwa Israel tidak boleh berkompromi pada “apa pun yang kurang dari pelucutan Hizbullah” atau mundur dari “wilayah apa pun yang telah direbut dan dibersihkan dari infrastruktur teror oleh pasukan kami.”
Ketidakpuasan dari lingkaran pejabat senior Israel ini kemungkinan akan diperkuat oleh sekutu politik Israel di AS. Komentator pro-perang, seperti Mark Levin dan Ben Shapiro, mempertanyakan kesepakatan damai tersebut. Shapiro menyebut upacara penandatanganan di Swiss sebagai “ide buruk” dan “sekadar ajang foto besar-besaran” bagi rezim Iran.
Meski demikian, kritik mereka sedikit tertahan karena rincian kerangka kesepakatan tersebut masih belum terverifikasi. Mereka mendesak Gedung Putih merilis teks lengkap dari perjanjian itu.
Namun, sejumlah analis percaya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak punya banyak pilihan selain mengikuti arah Washington.
“Apa pun yang Donald Trump inginkan dari seorang perdana menteri Israel, dia akan mendapatkannya,” kata Aaron David Miller dari Carnegie Endowment for International Peace kepada DW. Miller mencatat bahwa Netanyahu akan menghadapi pemilu pada musim gugur ini dan membutuhkan “dukungan aktif” dari Trump.
“Netanyahu akan melakukan apa pun yang Trump minta darinya,” katanya.
Sebuah kesepahaman yang terbatas
Reza Alijani, analis politik berbasis di Paris yang berasal dari Iran, memperingatkan bahwa kesepakatan ini sebaiknya dipahami sebagai memorandum yang terbatas, bukan penyelesaian menyeluruh.
“Ini adalah kesepakatan terbatas,” katanya kepada DW.
Alijani mengatakan Teheran tampaknya telah menerima pembukaan kembali Selat Hormuz dan kembalinya kondisi pelayaran sebelum perang, setidaknya secara prinsip. Sementara, Amerika Serikat tampaknya siap melonggarkan blokade laut.
Menurutnya, itu adalah pertukaran nilai langsung yang menjadi inti kesepakatan tersebut. Sementara, hal-hal yang lebih ambisius pada dasarnya telah ditunda ke 60 hari berikutnya.
Alijani juga menyoroti isu Lebanon sebagai salah satu bagian paling penting dari kesepakatan ini. Menurutnya, Teheran tampak bereaksi secara lambat dan hati-hati terhadap serangan Israel yang berlanjut di Lebanon. Hal ini menunjukkan bahwa Iran mungkin sudah memutuskan untuk mengesampingkan sebagian konflik itu demi de-eskalasi yang lebih luas.
