Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 00:00 WIB
Portugal
Portugal
1 - 1
DR Congo
RD Kongo
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 03:00 WIB
England
Inggris
4 - 2
Croatia
Kroasia
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ghana
Ghana
Live
Panama
Panama
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:00 WIB
Uzbekistan
Uzbekistan
VS
Colombia
Kolombia
Grup A - Matchday 2
Kamis, 18 Juni 2026 | 23:00 WIB
Czechia
Ceko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
BBC

Saat politik memecah pendukung Iran di Piala Dunia 2026

Tim Iran mungkin ingin menyatukan orang-orang, tetapi apa yang terungkap dalam pertandingan melawan Selandia Baru menunjukkan betapa…

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Saat politik memecah pendukung Iran di Piala Dunia 2026
BBC Indonesia
Saat politik memecah pendukung Iran di Piala Dunia 2026 
Memuat video…

Pada tiket dan jadwal resmi Piala Dunia 2026, pertandingan yang berlangsung di Stadion Los Angeles adalah laga antara Iran melawan Selandia Baru. Namun, di tribun penonton dan di luar stadion, lawan paling vokal bagi Iran bukanlah timnas Selandia Baru—melainkan warga mereka sendiri.

Berulang kali, para pejabat tim Iran menyatakan bahwa mereka ingin sepak bola menjadi pemersatu bangsa. Namun, atmosfer yang terasa dalam laga fase grup Piala Dunia ini sama sekali jauh dari kata bersatu.

Di luar Stadion Los Angeles, ketegangan politik begitu terasa. Ratusan bendera Iran berkibar, dan yang paling mencolok adalah bendera era pra-Revolusi 1979 yang menampilkan lambang Singa dan Matahari.

Bagi banyak warga Iran-Amerika, bendera tersebut telah menjadi simbol perlawanan terhadap rezim di Teheran.

Meski FIFA telah melarang bendera itu masuk ke dalam stadion karena dianggap sebagai simbol politik, bendera itu tetap saja berkibar di dalam tribun dan terpampang pada berbagai kaus penonton.

Beberapa ratus demonstran berkumpul di luar, meluapkan amarah atas keputusan FIFA dan atas apa yang mereka pandang sebagai tim nasional yang lebih mewakili Republik Islam ketimbang rakyat Iran itu sendiri.

"Tim Mullah bukanlah tim saya," seru salah satu kelompok.

Rekomendasi Untuk Anda

"Pergantian rezim di Iran," sahut kelompok lainnya dalam nyanyian mereka.

Tak lama, mereka mulai menyanyikan lagu kebangsaan Iran era pra-Revolusi 1979.

Seorang pemuda tersenyum saat diminta menerjemahkan arti lagu tersebut.

"Artinya adalah kebebasan dan harga diri," ujarnya.

Namun, begitu melangkah ke dalam stadion, riuh rendah suasana seketika berubah drastis.

'Saya di sini untuk mendukung Iran, bukan rezimnya'

Di luar, yel-yel kecaman terhadap rezim dan tim nasional terus menggema.

Di dalam, gemuruh dukungan untuk para pemain justru membahana. Sorak-sorai pecah saat Iran mencetak dua gol untuk bangkit dari ketertinggalan dan memaksakan hasil imbang 2-2 melawan Selandia Baru.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/3
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas