Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.294, 60 Diplomat Asing Tur ke Gedung yang Diserang Rusia

Perang Rusia-Ukraina hari ke-1.294, Perdana Menteri Ukraina mengajak 60 diplomat asing untuk tur ke gedung pemerintah yang diserang Rusia pada Senin.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Nuryanti
zoom-in Perang Rusia-Ukraina Hari ke-1.294, 60 Diplomat Asing Tur ke Gedung yang Diserang Rusia
Facebook PM Ukraina
TUR GEDUNG - Gambar diambil dari Facebook PM Ukraina, Selasa (9/9/2025), memperlihatkan Perdana Menteri Ukraina, Yuliia Svyrydenko, membagikan foto-foto ketika ia mengajak 60 diplomat asing untuk menunjukkan kerusakan pada gedung pemerintah Ukraina akibat serangan Rusia pada hari Senin (8/9/2025). (Facebook PM Ukraina) 

TRIBUNNEWS.COM - Perang Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.294 pada Selasa (9/9/2025), memperpanjang perang sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

Hari ini, militer Ukraina melaporkan perkembangan di medan perang.

Pada tengah malam, tentara Rusia menyerang Zaporizhzhia dengan UAV, mengakibatkan sebuah rumah pribadi dilaporkan terbakar.

Tiga jam kemudian, seorang wanita berusia 66 tahun dilaporkan terluka akibat serangan itu.

Perang Rusia–Ukraina berakar dari ketegangan yang berlangsung lama sejak runtuhnya Uni Soviet pada 1991.

Sejak merdeka, hubungan Ukraina dan Rusia kerap diwarnai perselisihan, terutama terkait wilayah, identitas nasional, dan kebijakan luar negeri.

Ketegangan meningkat setelah Revolusi Maidan 2014, yang menggulingkan presiden pro-Rusia Viktor Yanukovych dan menggantinya dengan pemerintahan yang lebih condong ke Barat.

Rekomendasi Untuk Anda

Tak lama kemudian, Rusia mencaplok Krimea dan mendukung kelompok separatis di Donetsk dan Luhansk, memicu konflik berkepanjangan di wilayah Donbas.

Ketika mengumumkan invasi penuh pada Februari 2022, Presiden Vladimir Putin menyatakan bahwa “operasi militer khusus” bertujuan melemahkan militer Ukraina, yang menurut Rusia mengancam keamanan negaranya.

Putin juga menuduh pemerintahan Ukraina dipengaruhi kelompok “neo-Nazi” dan menegaskan Rusia berkewajiban melindungi warga keturunan Rusia di Donetsk dan Luhansk.

Selain itu, Kremlin menolak keinginan Ukraina untuk bergabung dengan NATO, karena kehadiran aliansi militer Barat di perbatasan Rusia dianggap ancaman langsung bagi keamanan nasional, dikutip dari EBSCO.

Baca juga: Trump Ancam Putin dengan Paket Sanksi Baru setelah Serangan Brutal Rusia ke Ukraina

Ukraina Serang Fasilitas Minyak Rusia

Militer Ukraina menyerang stasiun pompa minyak Vtorovo di wilayah Vladimir, Rusia.

Pada hari Minggu (7/9/2025), pesawat tempur dari Resimen ke-14 Angkatan Bersenjata Pasukan Sistem Tak Berawak Ukraina menyerang stasiun pompa perantara Vtorovo. 

Menurut Panglima Pasukan Sistem Tak Berawak Angkatan Bersenjata Ukraina, Robert Brovdi, stasiun dan operasinya mengalami kerusakan, yang berdampak pada pasokan bahan bakar ke Moskow.

"Bahan bakar di Moskow akan sedikit langka... Bensin menjadi cairan langka, dan gas serta minyak menjadi mudah terbakar," tulis komandan SBS pada hari Senin.

Serangan tersebut mengganggu sebagian operasional fasilitas tersebut, yang merupakan bagian dari infrastruktur perusahaan Transneft.

Sekjen NATO akan Kunjungi Inggris, Bahas Ukraina

Sekretaris Jenderal Mark Rutte akan mengunjungi Inggris untuk membahas Ukraina pada hari Selasa (9/9/2025). 

Mark Rutte akan mengadakan sejumlah pertemuan bilateral selama kunjungannya.

Ia juga akan berpartisipasi dalam pertemuan berformat Ramstein dari Kelompok Kontak tentang pertahanan Ukraina.

Selama kunjungannya, Rutte juga mengadakan serangkaian pertemuan bilateral dengan pejabat Inggris dan sekutu lainnya. 

"Agenda utama pertemuan tersebut mencakup pembahasan tentang dukungan militer berkelanjutan untuk Ukraina, peningkatan kapasitas pertahanan, dan upaya diplomatik untuk mencapai perdamaian yang adil dan berkelanjutan," tulis NATO dalam pernyataan resminya.

Pertemuan ini merupakan bagian dari upaya kolektif untuk memperkuat posisi Ukraina dan menanggapi tantangan keamanan yang ditimbulkan oleh agresi Rusia.

Kelompok Kontak Pertahanan Ukraina dalam format Ramstein dibentuk untuk memfasilitasi koordinasi antara negara-negara penyedia bantuan militer kepada Ukraina.

Zelensky: Rusia Serang Sistem Energi Ukraina

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan militer Rusia kembali memfokuskan serangannya pada sistem energi Ukraina.

Ia menegaskan Ukraina harus dan akan merespons serangan semacam itu.

"Hari ini, saya mengadakan rapat Staf [Panglima Tertinggi] yang berfokus terutama pada isu-isu teknologi: stok sistem pertahanan udara dan rudalnya, jadwal produksi, dan jadwal pengiriman. Perlindungan infrastruktur penting Ukraina – terutama, sektor energi. Rusia sekali lagi memfokuskan serangan pada fasilitas energi kami. Tentu saja, kami memiliki tanggapan untuk ini dan akan terus menanggapi, tetapi prioritas utamanya adalah stabilitas sistem," kata Zelensky.

Zelensky mengatakan Staf militernya juga menerima laporan tentang produksi drone, termasuk kualitas dan hasilnya, serta membahas tujuan Ukraina untuk pertemuan Kelompok Kontak Pertahanan Ukraina (format Ramstein) yang akan datang.

"Dalam beberapa hari mendatang, menteri akan menghadiri pertemuan Ramstein – kami telah menetapkan tujuan-tujuan utama. Memperkuat pertahanan udara adalah tujuan utama Ramstein ini dan juga bagi kontak-kontak kami di Eropa dan Amerika Serikat secara umum," kata Zelensky.

"Bersama menteri, kami juga menetapkan prioritas untuk tahun 2026 – baik dari segi aset-aset penting yang dibutuhkan oleh angkatan pertahanan maupun dari segi pendanaan," lanjutnya, seperti diberitakan Pravda.

Sebelumnya, pada dini hari 8 September 2025, Rusia melancarkan serangan besar terhadap fasilitas pembangkit listrik termal di Oblast Kyiv.

Militer Ukraina: Rusia Tunda Serangan ke Zaporizhzhia

Panglima Angkatan Bersenjata Ukraina, Oleksandr Syrsky, mengatakan Rusia menunda serangannya ke Zaporizhzhia.

Ia mengatakan Rusia telah merencanakan serangan besar ke wilayah tersebut namun berhasil digagalkan oleh militer Ukraina.

"Pada bulan Agustus, musuh berharap untuk meraih keuntungan strategis, melakukan terobosan dan mengepung pasukan kami di wilayah aglomerasi Pokrovsko-Mirnograd, serta merencanakan operasi ofensif skala besar ke arah Novopavlovsk dan Zaporizhzhia," katanya.

Menurut laporan tersebut, tentara Rusia terpaksa menunda serangan di Zaporizhzhia dan memindahkan marinirnya ke wilayah Donetsk.

"Namun, pasukan kami tidak membiarkan niat ini terwujud. Rusia terpaksa menunda serangan di Zaporizhzhia dan memindahkan unit-unit marinir ke wilayah Donetsk," tambahnya.

Laporan tersebut mengatakan Rusia memfokuskan serangannya ke arah Lymansky, Dobropolsky, Pokrovsky, dan Novopavlivsky (persimpangan wilayah Zaporozhye, Dnepropetrovsk, dan Donetsk).

"Musuh menggunakan taktik maju secara merayap oleh kelompok infanteri kecil, mencoba menyusup ke permukiman, memanfaatkan ruang antar posisi, dan menghindari bentrokan," tambah Syrsky.

PM Ukraina Ajak 60 Diplomat Asing Tur ke Bangunan yang Diserang Rusia

TUR GEDUNG - Gambar diambil dari Facebook PM Ukraina, Selasa (9/9/2025), memperlihatkan Perdana Menteri Ukraina, Yuliia Svyrydenko, membagikan foto-foto ketika ia mengajak 60 diplomat asing untuk menunjukkan kerusakan pada gedung pemerintah Ukraina akibat serangan Rusia pada hari Senin (8/9/2025). (Facebook PM Ukraina)
TUR GEDUNG - Gambar diambil dari Facebook PM Ukraina, Selasa (9/9/2025), memperlihatkan Perdana Menteri Ukraina, Yuliia Svyrydenko, membagikan foto-foto ketika ia mengajak 60 diplomat asing untuk menunjukkan kerusakan pada gedung pemerintah Ukraina akibat serangan Rusia pada hari Senin (8/9/2025). (Facebook PM Ukraina) (Facebook PM Ukraina)

Pejabat pemerintah Ukraina memberi pengarahan kepada 60 kepala misi diplomatik tentang dampak salah satu serangan udara terbesar Rusia sejak invasi penuh dimulai.

Dalam postingan yang diunggah di Facebook PM Ukraina, terlihat Gedung Kabinet di Kyiv rusak akibat serangan Rusia pada malam 6–7 September, dan beberapa atap telah diperbaiki.

Perdana Menteri Ukraina Yuliia Svyrydenko menekankan bahwa serangan ini berbeda dari sebelumnya, karena Moskow kini menargetkan lembaga pemerintah, bukan hanya bisnis.

"Ini bukan perilaku negara yang mencari perdamaian. Ini adalah ejekan langsung terhadap setiap upaya diplomatik yang dilakukan oleh dunia beradab," kata Yuliia Svyrydenko pada hari Senin (8/9/2025).

"Ini perang eksistensial. Di antara korban tewas kemarin terdapat seorang bayi berusia dua bulan dan seorang ibu muda. Rusia membunuh anak-anak kita, berusaha menghancurkan masa depan kita," lanjutnya.

"Kami sangat berterima kasih kepada semua diplomat yang telah bersama kami pagi ini. Kehadiran Anda merupakan sinyal solidaritas yang kuat dengan Ukraina selagi kami melanjutkan perjuangan untuk bertahan hidup," tambahnya.

Serangan gabungan Rusia menggunakan drone, amunisi loitering, dan rudal menghantam gedung pemerintahan Ukraina di Kyiv.

Pertahanan udara Ukraina menghancurkan 751 dari 823 aset udara yang diluncurkan Rusia, tetapi 9 rudal dan 54 amunisi loitering mengenai 33 lokasi, menewaskan 4 orang dan melukai lebih dari 44 orang di seluruh Ukraina.

Sebelumnya, Gedung Kabinet Menteri terkena rudal Iskander, menurut pernyataan layanan pers Kementerian Dalam Negeri mengonfirmasi kepada Suspilne.

Kemungkinan rudal tersebut merupakan rudal jelajah, tetapi hasil akhirnya akan diketahui setelah pemeriksaan.

"Rudal tersebut secara khusus ditujukan ke kompleks pemerintahan," tambah Kementerian Dalam Negeri Ukraina.

Ukraina Buka 2 Sekolah Bawah Tanah Baru

Di kota Balakliia, Oblast Kharkiv, dua ruang pendidikan bawah tanah baru telah dibuka untuk siswa setelah wilayah ini dibebaskan.

Satu ruang berada di lyceum (sekolah menengah khusus) seluas lebih dari 1.100 meter persegi. 

Sebelumnya, lyceum ini sempat diserang pesawat tanpa awak Rusia pada musim semi 2025, merusak atap dan sebagian bangunan. 

Sejak 2023, tempat penampungan ini menjadi pusat pendidikan Vulyk ("Sarang Lebah"), dan ruang bawah tanah tambahan kini mencakup enam kelas, area olahraga, membaca, makan, dan bersantai.

Ruang bawah tanah kedua dibuka di lyceum lain yang juga pernah rusak akibat serangan udara dan dijarah pasukan Rusia. Tempat penampungan ini kini bisa menampung lebih dari 100 anak belajar sekaligus.

Menurut Kementerian Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Ukraina, lebih dari 147.000 anak belajar daring, sementara 54.000 anak belajar dengan format campuran.

"Kelas luring penuh di Oblast Kharkiv belum ada selama empat tahun ajaran berturut-turut. Karena risiko keamanan, tidak ada alternatif selain sekolah bawah tanah," kata Hanna Novosad, salah satu pendiri dana amal savED.

Sebagai tambahan, tujuh sekolah bawah tanah dijadwalkan mulai beroperasi di kota Kharkiv pada 1 September, hari pertama tahun ajaran, dan enam stasiun metro dialihfungsikan menjadi ruang kelas.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas