Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Update Kasus Ledakan Pipa Gas Nord Stream 2022, Italia Ekstradisi Seorang Warga Ukraina ke Jerman

Pengadilan Italia memutuskan Serhii Kuznietsov diekstradisi ke Jerman atas dugaan sabotase pipa gas Nord Stream pada 2022.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Update Kasus Ledakan Pipa Gas Nord Stream 2022, Italia Ekstradisi Seorang Warga Ukraina ke Jerman
Kementerian Pertahanan Denmark
NORD STREAM. Kementerian Pertahanan Denmark. Foto lokasi kebocoran pipa Nord Stream. Pada 26 September 2022, pipa ini mengalami ledakan bawah laut yang menyebabkan kebocoran besar. Investigasi oleh Swedia dan Denmark menyimpulkan bahwa insiden tersebut adalah sabotase, bukan kerusakan teknis.Pengadilan di Bologna, Italia, pada Selasa (16/9/2025) memutuskan mengekstradisi seorang warga Ukraina ke Jerman atas dugaan keterlibatan dalam ledakan pipa gas Nord Stream pada 2022. 

Meski begitu, pengadilan Italia menyatakan putusan ekstradisi harus dilaksanakan, sambil menunggu hasil banding di tingkat lebih tinggi.

Kasus Nord Stream masih menyisakan banyak spekulasi mengenai pihak yang bertanggung jawab.

Bagi Eropa, serangan tersebut menjadi salah satu insiden sabotase energi terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Kronologi Sabotase Pipa Gas Nord Stream 2022

Ledakan bawah laut terdeteksi di Laut Baltik, tepatnya di dekat Pulau Bornholm, Denmark pada 26 September 2022.

Empat titik kebocoran ditemukan di jalur pipa Nord Stream 1 dan Nord Stream 2, yang mengalirkan gas dari Rusia ke Jerman.

Pihak berwenang Swedia dan Denmark segera menyatakan bahwa insiden ini kemungkinan besar merupakan tindakan sabotase.

Pada 3–6 Oktober 2022, Jaksa Swedia, Mats Ljungqvist, mengonfirmasi bahwa hasil penyelidikan TKP menunjukkan adanya ledakan yang disengaja, bukan kerusakan teknis.

Rekomendasi Untuk Anda

Barang bukti dikumpulkan, dan zona sekitar kebocoran ditutup sementara untuk investigasi.

Baik Rusia maupun negara-negara Barat saling tuduh sebagai pelaku.

Presiden Vladimir Putin menyebut insiden ini sebagai “serangan teroris” yang didalangi Barat.

Sementara itu, Amerika Serikat dan sekutunya membantah keterlibatan langsung.

Karena ledakan terjadi di perairan Swedia dan Denmark, juga melibatkan infrastruktur milik Jerman, ketiga negara meluncurkan penyelidikan bersama.

Pipa-pipa tersebut saat itu masih berisi gas, meski tidak beroperasi karena sanksi terhadap Rusia pascainvasi ke Ukraina.

Baca juga: Media AS Sebut Jenderal Zaluzhny di Balik Penghancuran Pipa Gas Nord Stream 1

Pada Agustus 2024 kemarin, Jaksa Jerman mengeluarkan surat penangkapan terhadap seorang warga Ukraina yang diduga sebagai otak serangan.

Ia diyakini menyewa kapal pesiar Jerman untuk menanam bahan peledak di pipa.

Sesuai Minatmu
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas