Israel Murka Gara-gara 'Pin Gembok' di Jas Presiden Palestina saat Pidato di PBB
Israel marah karena melihat pin berbentuk kunci di jas Presiden Palestina Mahmoud Abbas saat pidato virtual di Majelis Umum PBB pada hari Kamis.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Nuryanti
TRIBUNNEWS.COM - Kementerian Luar Negeri Israel marah karena Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, mengenakan pin berbentuk kunci di dadanya ketika ia berpidato melalui video yang diputar di Majelis Umum ke-80 Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (25/9/2025).
Kementerian itu menggambarkan pin tersebut sebagai tanda bahwa Palestina menginginkan kehancuran Israel.
Mereka menyebutkan lencana berbentuk kunci di dadanya itu mengingatkan pada Perang "Kemerdekaan" Israel dan pengusiran massal warga Palestina pada tahun 1948 yang disebut Nakba (malapetaka), ketika Israel mendeklarasikan berdirinya negara Yahudi.
Mahmoud Abbas menyampaikan pidatonya melalui konferensi video pada 22 September dalam putaran kedua konferensi perdamaian Palestina-Israel, yang diselenggarakan di sela-sela pekan tingkat tinggi Majelis Umum.
Arti Pin Kunci di Jas Presiden Palestina
Kunci tersebut, yang lambangnya muncul di jas Abbas selama pidatonya, secara tradisional memperingati eksodus massal warga Palestina dari tanah mereka setelah pembentukan Negara Israel pada tahun 1948.
Simbol kunci itu juga melambangkan "The Right of Return" yaitu mewakili keinginan rakyat Palestina untuk kembali ke tanah dan rumah mereka setelah mereka diusir oleh para Zionis pada tahun 1948.
Namun, Kementerian Luar Negeri Israel mengklaim bahwa simbol itu merupakan simbol untuk menghancurkan Israel dengan mendorong kembalinya keturunan Palestina dari warga lokal Palestina yang dulu terusir dari tanahnya.
"Saat berpidato di Majelis Umum PBB, ia mengenakan lencana 'kunci' di jaketnya – simbol yang tak terpahami dari tujuannya untuk menghapus Israel dari muka Bumi. Kunci Abbas melambangkan rencana lama PLO: dua negara untuk satu rakyat Palestina dan penghancuran negara Yahudi. Ini tidak akan terjadi," tulis Kementerian Luar Negeri Israel mengunggah di akun X-nya, Kamis (25/9/2025).
Kementerian Luar Negeri Israel mengklaim bahwa Abbas "ingin menciptakan banjirnya sendiri" dengan mengembalikan jutaan keturunan Arab yang diusir pada tahun 1948 ke tanah yang direbut oleh para Zionis, untuk menghancurkan negara Yahudi tersebut.
Kementerian itu mengklaim bahwa selama tahun-tahun "Perang Kemerdekaan", jumlah orang Yahudi yang mengungsi dari negara-negara Arab lebih besar daripada jumlah orang Arab Palestina yang meninggalkan rumah mereka.
Baca juga: Trump: Saya Tak Izinkan Israel Caplok Tepi Barat, Sudah Cukup
Menurut pernytaaan itu, "sudah lama berlalu" bagi negara-negara Arab yang menampung warga Palestina untuk memberikan kewarganegaraan kepada keturunan mereka.
Selain itu, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar juga mengunggah postingan serupa.
Ia menyudutkan Otoritas Palestina yang lemah dan mudah dikalahkan oleh Hamas pada tahun 2007 hingga organisasi itu terusir dari Jalur Gaza dan hanya memerintah di Tepi Barat.
"Kepada Barat ia mengucapkan kata-kata yang manis. Namun rakyatnya sendiri seharusnya menarik kesimpulan dari kunci yang ia kenakan di kerah jasnya. Inilah kodenya. Inilah simbol membanjiri Israel dengan keturunan orang-orang Arab Israel yang meninggalkan negara itu pada tahun 1948, dan eliminasi Israel. Namun Israel tidak akan tertipu lagi," tulisnya.
Pidato Presiden Palestina
Dalam pidatonya, Abbas menyerukan diakhirinya konflik Palestina-Israel demi tercapainya perdamaian abadi dan hubungan bertetangga yang baik antara kedua negara.
Baca tanpa iklan