Gedung Putih Ancam PHK Massal di Tengah Shutdown Pemerintah AS yang Kian Memanas
Gedung Putih memperingatkan potensi PHK massal di tengah kebuntuan politik antara Trump dan Demokrat dalam penutupan pemerintah AS.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Garudea Prabawati
Partai Republik menekan pemotongan belanja, sementara Demokrat menolak langkah tersebut.
Shutdown akan berakhir jika Kongres berhasil meloloskan RUU anggaran sementara (continuing resolution).
Opsi lain adalah kesepakatan penuh mengenai anggaran tahunan.
Menurut Politico, perpecahan internal di Partai Republik membuat kompromi sulit dicapai dalam waktu dekat.
Dengan kondisi ini, warga Amerika kembali dihadapkan pada ketidakpastian layanan publik dan ancaman meluasnya dampak ekonomi.
Seperti dikatakan analis Brookings, shutdown bukan hanya soal politik di Capitol Hill.
Lebih jauh, ini adalah soal “siapa yang menanggung beban” di lapangan—yaitu jutaan pegawai dan masyarakat yang bergantung pada layanan pemerintah.
Dampak Langsung
1. Pegawai Federal Tanpa Gaji
Sekitar 4 juta pegawai federal terdampak.
Dari jumlah itu, 2 juta di antaranya tetap bekerja di sektor esensial, seperti militer, pengatur lalu lintas udara, dan petugas keamanan bandara.
Mereka tidak akan menerima gaji sampai Kongres menyetujui anggaran baru.
2. Layanan Publik Tutup
Taman nasional, museum, dan sejumlah kantor administrasi publik ditutup sementara.
Warga AS akan merasakan langsung dampak ini dalam bentuk penundaan layanan paspor, visa, hingga bantuan sosial tertentu.
3. Perekonomian Ikut Terimbas
Kantor Anggaran Kongres (CBO) mencatat shutdown terlama pada 2018–2019 menyebabkan kerugian permanen sekitar US$3 miliar.
Baca juga: Trump Ancam Hamas Hadapi Kehancuran Total jika Tolak Serahkan Kekuasaan di Gaza
Ekonom memperingatkan dampak serupa bisa muncul jika kebuntuan politik kali ini berlangsung lama.
Sejarah Shutdown di AS
Fenomena ini bukan kali pertama terjadi.