Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kembali Ditunjuk Macron Jadi PM, Ini Tugas Sebastien Lecornu Hadapi Krisis Politik Prancis

Presiden Prancis Emmanuel Macron kembali menunjuk Sebastien Lecornu sebagai Perdana Menteri Prancis.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Kembali Ditunjuk Macron Jadi PM, Ini Tugas Sebastien Lecornu Hadapi Krisis Politik Prancis
Tangkapan layar YouTube France24
SEBASTIEN LECORNU - Tangkapan layar YouTube France24 pada Minggu (12/10/2025). Presiden Prancis Emmanuel Macron mengangkat kembali Sebastien Lecornu sebagai perdana menteri pada hari Jumat (10/10/2025). 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Prancis Emmanuel Macron kembali menunjuk Sebastien Lecornu sebagai Perdana Menteri Prancis.

Penunjukan ini hanya beberapa hari setelah Lecornu memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya.

Keputusan mengejutkan ini diumumkan pada Jumat (10/10/2025), malam, waktu setempat, setelah serangkaian negosiasi intens selama berhari-hari untuk mengakhiri kebuntuan politik yang mengguncang pemerintahan Prancis.

Lecornu, sebelumnya menjabat sebagai menteri pertahanan dan dikenal sebagai salah satu sekutu politik terdekat Macron. 

Pengunduran dirinya pada Senin lalu terjadi hanya beberapa jam setelah ia mengumumkan susunan kabinet barunya, langkah yang memicu kekacauan politik dan gelombang kritik dari oposisi.

Kini, Macron memberinya mandat baru untuk membentuk kabinet yang 'lebih inklusif' dan segera menyiapkan rancangan anggaran 2026, yang harus diserahkan ke parlemen paling lambat Senin mendatang.

"Saya menerima  karena kewajiban misi yang dipercayakan kepada saya oleh Presiden Republik untuk melakukan segala yang mungkin guna menyediakan anggaran bagi Prancis pada akhir tahun dan untuk mengatasi masalah kehidupan sehari-hari warga negara kita," tulis Lecornu di X, dikutip dari Al Jazeera.

Rekomendasi Untuk Anda

“Kita harus mengakhiri krisis politik yang meresahkan rakyat Prancis dan ketidakstabilan yang merugikan citra dan kepentingan Prancis," tambahnya.

Tugas Berat Menanti Lecornu

Sebagai perdana menteri termuda dalam sejarah modern Prancis, Lecornu menghadapi tantangan besar. Dalam waktu yang sangat singkat, ia harus:

Baca juga: Macron Cari Jalan Keluar dari Kebuntuan Politik Prancis, PM Baru Segera Diumumkan

  • Menyusun kabinet baru dengan representasi lintas partai
  • Menyusun dan mengesahkan anggaran tahun 2026
  • Menjaga stabilitas politik dan ekonomi di tengah protes publik yang meningkat

Kepala Bank Sentral Prancis, François Villeroy de Galhau, memperingatkan bahwa ketidakpastian politik yang terus berlanjut dapat “menghambat pertumbuhan ekonomi dan kepercayaan konsumen.”

Langkah Tak Terduga di Tengah Krisis Politik

Penunjukan kembali Lecornu dianggap sebagai langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah politik modern Prancis. 

Biasanya, seorang perdana menteri yang telah mengundurkan diri jarang sekali diangkat kembali dalam waktu sedemikian singkat. 

Namun, Macron tampaknya tidak memiliki banyak pilihan di tengah kondisi politik yang semakin rapuh.

Krisis ini berakar pada keputusan Macron untuk membubarkan Majelis Nasional pada Juni 2024 dan menggelar pemilu dadakan, dikutip dari EuroNews.

Hasilnya justru memperburuk keadaan: tidak ada blok politik, baik kiri, kanan, maupun tengah  yang berhasil meraih mayoritas. 

Sejak itu, Prancis terjebak dalam kebuntuan legislatif, dengan pemerintahan yang terus berganti dalam waktu singkat.

Tanpa mayoritas parlemen dan menghadapi kritik tajam dari oposisi maupun anggota partainya sendiri, Macron kini memiliki ruang gerak politik yang sangat sempit. 

Situasi tersebut semakin menekan setelah Lecornu mundur tiba-tiba pada awal pekan ini, memicu seruan dari pihak oposisi agar Macron mengundurkan diri atau menyerukan pemilu baru.

Reaksi dari Oposisi dan Berbagai Pihak di Prancis

Langkah Macron ini menuai reaksi keras dari berbagai pihak. 

Partai oposisi sayap kanan dan kiri sama-sama menganggap keputusan tersebut sebagai tanda bahwa Macron gagal mengakui realitas politik baru di parlemen.

Presiden Partai Rassemblement National (RN), Jordan Bardella, menulis di media sosial bahwa pengangkatan kembali Lecornu adalah 'lelucon buruk' dan 'penghinaan terhadap demokrasi', dikutip dari The Guardian.

Ia bahkan berjanji akan mengajukan mosi tidak percaya terhadap pemerintahan baru Lecornu.

Sementara itu, pemimpin Partai Hijau, Marine Tondelier, menyebut keputusan Macron 'luar biasa' dalam konteks negatif. 

Namun, beberapa politisi dari partai tengah dan kanan moderat melihat langkah ini sebagai upaya pragmatis untuk memulihkan stabilitas.

Anggota parlemen partai Renaisans, Shannon Seban, mengatakan bahwa kembalinya Lecornu 'krusial untuk memastikan stabilitas politik dan ekonomi Prancis'. 

Sedangkan mantan Menteri Pendidikan, Élisabeth Borne, menilai Lecornu sebagai figur yang mampu “membangun kompromi bagi Prancis”.

Baca juga: Isi Percakapan Macron saat Terjebak Tot Tot Wuk Wuk Trump: Tebak Apa yang Terjadi dengan Saya?

Krisis Terparah Sejak Macron Menjabat

Pengamat politik menilai bahwa Macron kini menghadapi krisis domestik terburuk sejak menjabat sebagai presiden pada 2017. 

Popularitasnya merosot tajam, dengan survei terbaru menunjukkan tingkat penerimaan publik berada di titik terendah sepanjang masa kepemimpinannya.

Analis politik Alain Minc bahkan menyebut Macron kini “radioaktif secara politik”. 

Ia menilai langkah menunjuk kembali Lecornu menunjukkan “Macron telah kehabisan opsi politik yang realistis”.

Menuju Pemerintahan Baru

Lecornu dijadwalkan mengumumkan daftar kabinet barunya akhir pekan ini, sebelum rapat kabinet perdana digelar pada Senin pagi. 

Wajah-wajah baru diperkirakan akan muncul dalam pemerintahan, meskipun beberapa partai politik utama menyatakan enggan bergabung.

Reporter Al Jazeera, Natacha Butler, melaporkan dari Paris bahwa suasana politik Prancis saat ini “tidak dapat diprediksi”. 

Ia menyebut pengangkatan Lecornu sebagai “bab terbaru dari minggu yang penuh drama dalam politik Prancis”.

“Setelah pertemuan dengan para pemimpin partai, banyak yang keluar dari Istana Élysée dengan perasaan tidak didengarkan,” ujar Butler.

“Sebagian mengatakan, rasanya seperti berbicara dengan tembok," tambahnya.

Kini, semua mata tertuju pada bagaimana Lecornu akan menavigasi parlemen yang sangat terpecah untuk meloloskan anggaran dan menstabilkan pemerintahan.

(Tribunnews.com/Farra)

Artikel Lain Terkait Emmanuel Macron

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas