Didemo Gen Z, Presiden Madagaskar Andry Rajoelina Kabur dengan Pesawat Militer Prancis
Presiden Madagaskar Andry Rajoelina dilaporkan kabur dengan pesawat militer Prancis di tengah gelombang protes besar kaum muda Gen Z.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Bobby Wiratama
Demonstrasi yang dipimpin oleh generasi muda—sebagian besar berusia di bawah 25 tahun—menuntut pengunduran diri presiden yang dinilai gagal memperbaiki ekonomi.
“Selama 16 tahun, pemerintah hanya memperkaya diri sendiri sementara rakyat tetap miskin,” kata Adrianarivony Fanomegantsoa (22) kepada Reuters.
Data PBB mencatat sedikitnya 22 orang tewas dalam bentrokan antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan sejak protes dimulai.
Kemarahan publik semakin meningkat setelah unit elite CAPSAT, yang dahulu membantu Rajoelina merebut kekuasaan lewat kudeta 2009, menyatakan membelot dan menolak menembaki warga sipil.
CAPSAT bahkan mengumumkan telah mengambil alih kendali militer dan menunjuk panglima baru.
Krisis Politik Semakin Dalam
Kehilangan dukungan militer membuat posisi Rajoelina kian rapuh.
Senat Madagaskar kemudian memberhentikan presidennya yang pro-pemerintah dan menunjuk Jean André Ndremanjary sebagai pemimpin sementara.
Menurut konstitusi, bila presiden berhalangan, posisi kepala negara akan diambil alih oleh ketua senat hingga pemilihan baru digelar.
Ribuan warga kembali turun ke jalan di ibu kota Antananarivo, meneriakkan “Presiden harus mundur sekarang!” dan melambaikan bendera nasional.
“Kami ingin presiden meminta maaf dan mundur agar pemilu bisa diselenggarakan,” kata Finaritra Manitra Andrianamelasoa (24) kepada AFP.
Gelombang protes Gen Z di Madagaskar ini mengikuti tren global serupa di Nepal dan Maroko, di mana kemarahan kaum muda terhadap elite politik menyebabkan pergantian kekuasaan mendadak.
Negara Termiskin dengan Penduduk Termuda
Madagaskar, dengan populasi sekitar 30 juta jiwa, memiliki usia rata-rata di bawah 20 tahun dan tiga perempat penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan.
Menurut Bank Dunia, PDB per kapita negara itu turun 45 persen sejak kemerdekaan pada 1960.
Baca juga: Gelar Pertemuan Pejabat Tinggi di Madagaskar, AIS Forum Perkenalkan Dua Inisiatif Baru
Meskipun dikenal sebagai penghasil utama vanili dunia, ketimpangan ekonomi dan korupsi membuat sektor lain seperti nikel, kobalt, tekstil, dan perikanan tak mampu menyerap banyak tenaga kerja.
Menjelang kepergiannya, Reuters melaporkan bahwa Rajoelina sempat menandatangani pengampunan untuk beberapa tahanan, termasuk dua warga Prancis yang dihukum atas dugaan upaya kudeta pada 2021.