Tangis Warga Tepi Barat: Israel Dituding Lakukan Pembakaran dan Kerja Paksa di Tulkarem
Israel dituduh melakukan pembakaran, pembongkaran, dan kerja paksa terhadap warga Palestina di Tulkarem. PBB dan lembaga HAM bereaksi.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Bobby Wiratama
Ringkasan Berita:
- Israel dituduh melakukan pembakaran, pembongkaran massal, dan kerja paksa terhadap warga Palestina di Tulkarem dan kamp pengungsi Nur Shams, Tepi Barat.
- Laporan investigatif Al Jazeera mengungkap tentara Israel mengusir ribuan warga dan menghancurkan lebih dari 160 bangunan.
- PBB dan lembaga HAM mengecam keras tindakan ini sebagai eksploitasi sistematis dan bentuk dehumanisasi.
- Sedikitnya 198 warga Palestina tewas sejak awal tahun.
TRIBUNNEWS.COM – Kekerasan militer Israel di Tepi Barat kembali meningkat.
Laporan investigatif Al Jazeera mengungkapkan bahwa tentara Israel melakukan pembakaran, penggusuran, dan kerja paksa terhadap warga Palestina di kawasan Tulkarem dan kamp pengungsi Nur Shams.
Blok-blok apartemen kini kosong, toko-toko hangus, dan puing-puing rumah berserakan.
Warga setempat menyebut situasi di kamp seperti “zona perang” dengan tentara Israel memegang kendali penuh di area militer tertutup.
Menurut Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), sejak dimulainya Operation Iron Wall atau Operasi Tembok Besi pada Januari 2025, sekitar 32.000 warga Palestina telah mengungsi dari kamp Tulkarem, Nur Shams, dan Jenin.
Tentara Israel diduga masih menempati wilayah tersebut dan menembaki siapa pun yang berusaha kembali.
Operation Iron Wall adalah nama operasi militer Israel yang dilancarkan di wilayah Tepi Barat, sebagai bagian dari eskalasi konflik berkepanjangan melawan kelompok Palestina.
Operasi ini termasuk tahap agresif kedua (jilid 2), dengan intensifikasi kegiatan militer seperti penggerebekan, pengusiran paksa, dan pembongkaran fasilitas warga Palestina.
Israel menyebut langkah ini sebagai upaya untuk mempertahankan keamanan dan menindak jaringan militan, sementara kritik internasional menyebutnya sebagai pelanggaran hak asasi dan hukum humaniter.
Operasi ini juga memunculkan gelombang pengungsian dari kamp-kamp Palestina, tekanan pada infrastruktur layanan dasar (air, listrik), dan kondisi kehidupan warga sipil yang semakin memburuk.
Kerja Paksa dan Intimidasi
Salah satu warga, Abdel (nama samaran), mengaku dipaksa bekerja untuk tentara Israel tanpa bayaran sejak Februari.
Baca juga: Hamas Serahkan 4 Jenazah Sandera setelah Israel Ancam Batasi Bantuan ke Gaza
Ia diperintahkan memperbaiki listrik dan membawa makanan untuk para prajurit, dengan ancaman rumahnya akan dihancurkan jika menolak.
“Salah satu dari mereka bahkan berkata, ‘Akulah tuanmu, kamu di sini untuk melayaniku',” ujar Abdel kepada Al Jazeera.
Ia menghabiskan sekitar 1.500 shekel (US$440) atau sekitar Rp 7 juta per bulan untuk memenuhi permintaan tentara demi menjaga keluarganya tetap aman.
Kasus serupa juga dialami warga lain bernama Nihad, yang rumahnya diambil alih tentara selama 75 hari.
Baca tanpa iklan