Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Zelensky Minta Eropa Tak Lunak kepada Rusia setelah AS Kubur Harapan soal Tomahawk

Perang Rusia-Ukraina hari 1.335, Presiden Ukraina Zelensky minta sekutu Eropa bereaksi setelah ia gagal mendapat rudal Tomahawk dari AS.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Zelensky Minta Eropa Tak Lunak kepada Rusia setelah AS Kubur Harapan soal Tomahawk
Facebook Zelensky
ZELENSKYY - Foto diunduh dari Facebook Zelensky, Selasa (14/10/2025), memperlihatkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam unggahan pada Senin, 13 Oktober 2025. Pada 19 Oktober 2025, Zelensky minta sekutu Eropa untuk memberikan aksi nyata untuk Ukraina. 
Ringkasan Berita:
  • Presiden Ukraina Zelensky berharap sekutu Eropa memberikan aksi nyata untuk Ukraina dalam menekan Rusia.
  • Zelensky sebelumnya gagal untuk mendapatkan kepastian mengenai rudal Tomahawk AS.
  • Zelensky menegaskan ia siap berunding dengan Rusia, namun harus ada gencatan senjata di garis depan terlebih dahulu.

TRIBUNNEWS.COM - Perang Rusia dengan Ukraina memasuki hari ke-1.335 pada Senin (20/10/2025), memperpanjang perang sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

Presiden Ukraina Zelensky mendesak sekutu-sekutunya agar tidak menenangkan Rusia setelah ia kembali dari perjalanan ke Amerika Serikat (AS).

Seruan itu disampaikan setelah ia gagal mengamankan rudal jelajah jarak jauh Tomahawk untuk menekan Rusia.

"Ukraina tidak akan pernah memberikan hadiah apa pun kepada teroris atas kejahatan mereka, dan kami mengandalkan mitra kami untuk menegakkan posisi ini," tulis Zelensky di media sosial, Minggu (19/10/2025).

Ia menyerukan langkah-langkah tegas dari sekutu-sekutu Eropa dan Amerika.

Menurutnya, sudah waktunya untuk pertemuan lain antara “The Coalition of the Willings” yang dipimpin Eropa.

Zelensky terbang ke Washington setelah berminggu-minggu ada seruan untuk persenjataan, berharap meningkatkan rasa frustrasi Trump terhadap Vladimir Putin setelah pertemuan puncak di Alaska gagal menghasilkan terobosan dalam perang.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun, Presiden Ukraina itu pulang dengan tangan kosong, sedangkan Trump mendesak Rusia dan Ukraina untuk mengambil langkah diplomatik guna mengakhiri perang, lapor The Guardian.

Pada Senin (20/10/2025), Rusia menyerang fasilitas energi di wilayah Chernihiv, menyebabkan lebih dari 55.000 pelanggan tanpa listrik.

Selain itu, Rusia menyerang tambang DTEK di wilayah Dnipropetrovsk saat 192 pekerja berada di bawah tanah, menyebabkan evakuasi darurat yang saat ini masih berlangsung.

Baca juga: Trump Buka Jalan Perdamaian: Yakin Konflik Rusia–Ukraina Segera Berakhir

Kabar Terbaru Perang Rusia-Ukraina

Perang Rusia dan Ukraina berawal dari ketegangan lama sejak bubarnya Uni Soviet pada 1991.

Setelah menjadi negara merdeka, Ukraina sering berselisih dengan Rusia soal perbatasan, jati diri bangsa, dan arah politiknya.

Situasi memanas pada tahun 2014 ketika terjadi Revolusi Maidan yang menggulingkan Presiden Viktor Yanukovych, pemimpin yang dekat dengan Rusia.

Pemerintah baru Ukraina kemudian lebih memilih berhubungan dengan negara-negara Barat, dan hal ini dianggap mengancam pengaruh Rusia.

Sebagai reaksi, Rusia merebut wilayah Krimea dan mendukung kelompok separatis di Donetsk dan Luhansk, sehingga pecah konflik bersenjata di kawasan Donbas.

Ketegangan itu akhirnya berubah menjadi perang besar pada Februari 2022, ketika Presiden Vladimir Putin memerintahkan invasi ke Ukraina.

Ia beralasan invasi itu untuk memberantas kelompok neo-Nazi di Kyiv, melindungi warga keturunan Rusia di Donbas, serta mencegah Ukraina bergabung dengan NATO, yang dianggap mengancam keamanan Rusia.

Sementara itu, Ukraina mendapat dukungan senjata dan bantuan militer dari Amerika Serikat dan negara-negara anggota NATO di Eropa.

Dalam perkembangan di medan perang dan sisi politik, di bawah ini sejumlah kabar terbaru mengenai perang Rusia-Ukraina:

  • Rusia Meningkatkan Propaganda

Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiga mengatakan Rusia terus mengintensifkan perang informasinya melawan Ukraina

Meskipun anggaran militer dalam anggaran 2026 dikurangi, pendanaan untuk propaganda negara akan meningkat sebesar 54 persen, yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Hal ini jelas menunjukkan prioritas negara agresor: mereka tidak bisa menang di medan perang, sehingga mereka mengandalkan disinformasi,” tegas Sibiga dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri di Telegram.

Ia menekankan di dunia modern, kata-kata juga merupakan senjata, terutama di bidang diplomasi, lapor Suspilne.

  • Polandia: Dunia Tak Boleh Tekan Ukraina untuk Serahkan Wilayah

Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengatakan bahwa dunia tidak boleh memberikan tekanan pada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengenai konsesi teritorial kepada Rusia.

"Tak seorang pun dari kita seharusnya menekan Zelensky dalam hal konsesi teritorial. Kita semua seharusnya menekan Rusia untuk menghentikan agresinya. Kebijakan peredaan tidak pernah menjadi jalan menuju perdamaian yang adil dan abadi," tulis Tusk di jejaring sosial X, Minggu.

  • Komentar Trump soal 'Apakah Ukraina akan Berikan Wilayah ke Rusia'

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Ukraina mungkin akan memberikan konsesi kepada Rusia untuk mengakhiri perang.

Ketika ditanya apakah mungkin mengakhiri perang Rusia dan Ukraina tanpa mengambil "properti" penting dari Ukraina, Trump menjawab Ukraina pasti akan memberikan beberapa konsesi.

"Yah, (Presiden Rusia Vladimir Putin) akan mengambil sesuatu. Maksud saya, mereka bertarung, dan dia punya banyak properti. Maksud saya, dia telah memenangkan sejumlah properti," kata Trump kepada Fox News.

Sementara itu, Ukraina menolak usulan apa pun untuk menyerahkan wilayahnya kepada Rusia demi mengakhiri perang.

Trump menegaskan AS telah memberikan banyak senjata kepada Ukraina dan tidak melakukan lebih banyak karena AS juga membutuhkan senjata untuk pertahanannya.

  • Zelensky Siap Berunding dengan Rusia

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan ia siap untuk melakukan perundingan dalam format apa pun dengan Rusia.

Namun, Zelensky memberikan syarat gencatan senjata di garis depan sebelum perundingan itu dilakukan.

"Ya, saya setuju. Jika kita ingin menghentikan perang ini dan berunding damai, segera dan dengan cara diplomatis, kita harus tetap di tempat kita berada," kata Zelensky kepada Kristen Welker dalam acara Meet the Press di NBC, Minggu.

"Tidak dengan rudal, tidak dengan drone," lanjutnya, lapor Russia Today.

Presiden Ukraina itu menegaskan bahwa Ukraina tidak akan menyerahkan wilayahnya kepada Rusia.

Ia juga bersedia untuk mendukung rencana pertemuan Trump dengan Putin di Budapest, Hongaria.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas