Ukraina Tak Dapat Tomahawk, Zelensky Pilih Beli Sistem Rudal Patriot AS
Presiden Ukraina Zelensky mengatakan akan membeli sistem pertahanan udara Patriot AS, klaim kunjungannya ke AS sukses meski gagal dapat Tomahawk.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
Ringkasan Berita:
- Presiden Ukraina Zelensky sebut negaranya akan membeli sistem pertahanan udara Patriot dari Amerika Serikat.
- Zelensky mengklaim pertemuannya dengan Presiden AS Donald Trump berlangsung positif.
- Setelah gagal mendapat rudal Tomahawk dari AS, Zelensky berpaling ke Eropa untuk mencari lebih banyak dukungan.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut pertemuannya dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pekan lalu sebagai sukses, dengan kemajuan dalam pembelian sistem pertahanan udara baru.
Meskipun tidak memperoleh rudal jelajah Tomahawk, Ukraina kini bersiap menandatangani kontrak pembelian 25 sistem pertahanan udara Patriot.
Zelensky menggambarkan sikap Trump sebagai positif, meski laporan lain menyebut pertemuan itu berlangsung tegang.
Pernyataan Zelensky kontras dengan laporan bahwa Trump telah mencaci-makinya dengan kata-kata kasar di Gedung Putih dan mendesak Ukraina untuk menyerahkan wilayahnya kepada Rusia.
Kabar Terbaru Perang Rusia-Ukraina
Perang Rusia dengan Ukraina memasuki hari ke-1.336 pada Selasa (21/10/2025), memperpanjang perang sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022.
Serangan pesawat tak berawak menghantam wilayah Voronezh dan Rostov di Federasi Rusia pada dini hari.
Sebelumnya, otoritas setempat melaporkan intersepsi 4 UAV di distrik Rossoshansky dan Bogucharsky.
Tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut.
Sementara itu di Kharkiv, koresponden Suspilne di Ukraina melaporkan serangkaian ledakan pada tengah malam hingga dini hari.
Perang antara Rusia dan Ukraina berawal dari ketegangan lama sejak bubarnya Uni Soviet pada tahun 1991.
Baca juga: Trump Usulkan Pembagian Wilayah Donbas di Ukraina untuk Akhiri Perang Usai Bertemu Zelensky
Setelah menjadi negara merdeka, Ukraina sering berselisih dengan Rusia mengenai batas wilayah, identitas nasional, dan arah politiknya.
Ketegangan semakin memuncak pada tahun 2014 saat terjadi Revolusi Maidan yang menggulingkan Presiden Viktor Yanukovych, pemimpin yang dikenal dekat dengan Rusia.
Pemerintah baru Ukraina kemudian memilih menjalin hubungan lebih erat dengan negara-negara Barat. Langkah ini dianggap Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruhnya.
Sebagai tanggapan, Rusia merebut wilayah Krimea dan mendukung kelompok separatis di Donetsk dan Luhansk. Hal itu memicu konflik bersenjata di kawasan Donbas.
Situasi tersebut akhirnya berkembang menjadi perang besar pada Februari 2022, ketika Presiden Vladimir Putin memerintahkan pasukannya menginvasi Ukraina.
Baca tanpa iklan