Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

9 Negara NATO Setuju Melatih Brigade Ukraina di Polandia

9 negara anggota NATO setuju untuk membantu melatih tentara Ukraina di Polandia. Saat ini NATO dilanda keretakan, terutama karena AS condong ke Rusia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Bobby Wiratama
zoom-in 9 Negara NATO Setuju Melatih Brigade Ukraina di Polandia
kam.lt
NATO VS RUSIA - Foto yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Lithuania, memperlihatkan para menteri pertahanan anggota NATO bertemu di Brussels, Belgia, 15 Oktober 2025. 9 negara anggota NATO setuju untuk membantu melatih tentara Ukraina di Polandia. 
Ringkasan Berita:
  • 9 negara anggota NATO setuju untuk membantu melatih tentara Ukraina di Polandia
  • Saat ini NATO dilanda keretakan, terutama karena Amerika Serikat nampak lebih condong ke Rusia daripada Ukraina
  • Donald Trump masih berupaya mendamaikan perang yang telah berlangsung lebih dari 3 tahun ini

 

TRIBUNNEWS.COM - Lituania mencapai kesepakatan dengan delapan negara lain untuk melatih dan memperlengkapi brigade Ukraina di sebuah pusat pelatihan di Polandia, lapor Lithuanian National Radio and Television (LRT), Selasa (21/10/2025).

Menurut Kementerian Pertahanan Lituania, nota kesepahaman tersebut ditandatangani pada Rabu lalu dalam pertemuan para menteri pertahanan NATO dari negara-negara Skandinavia, Baltik, dan Polandia di Brussel, Belgia.

Negara-negara peserta akan memberikan dukungan berupa pasokan senjata, peralatan, serta pelatihan bagi personel militer untuk mempersiapkan brigade Ukraina sesuai standar modern NATO.

Sebagai bagian dari inisiatif ini, Lituania akan menyediakan tim pelatihan bergerak, amunisi latihan, dan granat.

Lituania juga akan menyumbangkan peralatan pertahanan udara dan perangkat penglihatan malam produksi lokal senilai sekitar €12 juta kepada brigade Ukraina.

Pusat pelatihan OP-LEGIO ini dibuka pada 1 Oktober di Polandia, sekitar 160 kilometer dari perbatasan Ukraina.

Rekomendasi Untuk Anda

Inisiatif ini dipimpin oleh Norwegia, diikuti Denmark, Estonia, Islandia, Latvia, Polandia, Lituania, Finlandia, dan Swedia.

Kementerian Pertahanan Lituania menyatakan bahwa negara tersebut terus memberikan dukungan militer komprehensif bagi Ukraina.

Bersama Islandia, Lituania memimpin koalisi penjinakan ranjau, secara rutin memasok peralatan penjinakan ranjau ke unit teknik tempur Ukraina, serta berpartisipasi dalam lima operasi koalisi lainnya, mulai dari drone hingga sistem peperangan elektronik.

Secara khusus, Lituania telah mengalokasikan €20 juta untuk produksi drone jarak jauh dan secara aktif bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan Ukraina untuk membangun fasilitas produksi bersama di Lituania.

Selain bantuan militer, Lituania juga berpartisipasi dalam inisiatif kemanusiaan: $30 juta telah dialokasikan untuk Daftar Kebutuhan Prioritas Ukraina (PURL), €68 juta untuk inisiatif amunisi Ceko, €5 juta untuk program bantuan keamanan NATO, serta tambahan €30 juta direncanakan untuk pembelian sistem pertahanan udara Patriot.

Upaya Donald Trump Mengakhiri Perang Rusia-Ukraina

Baca juga: Serangan Udara Rusia di Ukraina, 6 Tewas Termasuk Bayi, Pertemuan Trump–Putin Ditunda

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dijadwalkan melakukan kunjungan mendadak ke Washington untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump, hanya beberapa hari setelah Trump tampak menyetujui sebagian tuntutan Presiden Rusia Vladimir Putin guna mengakhiri perang di Ukraina.

Siaran pers singkat dari NATO mengonfirmasi kunjungan dua hari tersebut dan menyebutkan bahwa Rutte akan bertemu dengan Trump, tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai alasan kunjungan.

Rutte merupakan salah satu dari sejumlah pemimpin Eropa yang selama beberapa bulan terakhir berupaya membujuk Trump agar lebih tegas dalam mendukung Ukraina.

Pengumuman ini datang setelah perubahan sikap mendadak Trump pada akhir pekan lalu yang membuatnya tampak lebih sejalan dengan posisi Putin.

Setelah panggilan telepon selama dua jam dengan Putin pada Kamis (16/10/2025), Trump mengumumkan bahwa keduanya sepakat untuk bertemu di Budapest, Hungaria, guna membahas akhir perang.

Sehari kemudian, dalam pertemuan di Gedung Putih dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Trump menolak permintaan Ukraina untuk mendapatkan rudal jarak jauh Tomahawk.

Dalam unggahan media sosial setelah pertemuan itu, Trump menyerukan agar Ukraina menyerahkan sebagian besar wilayahnya kepada Rusia sebagai imbalan perdamaian.

Namun, rencana pertemuan puncak Trump–Putin berikutnya dibatalkan pada Selasa (21/10/2025) setelah panggilan antara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan bahwa Moskow belum siap mengalah dalam tuntutannya.

Perubahan sikap Trump ini membuat frustrasi banyak pemimpin Eropa yang selama ini mendukung Zelenskyy.

Mereka sebelumnya memuji Trump atas upayanya menengahi perdamaian, sembari berusaha meyakinkannya bahwa Rusia — bukan Ukraina — yang menjadi pihak agresor dan tidak memiliki niat tulus untuk mengakhiri perang.

Ringkasan Perang Rusia-Ukraina

Mengutip Global Conflict Tracker, tiga tahun sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, Rusia masih menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina setelah memperoleh lebih dari 4.000 kilometer persegi wilayah tambahan pada tahun 2024.

Rusia terus membombardir kota-kota Ukraina, sementara Ukraina melancarkan serangan drone terhadap kapal dan kendaraan militer Rusia.

Sejak Januari 2022, Ukraina telah menerima bantuan sekitar $407 miliar, termasuk lebih dari $118 miliar dari Amerika Serikat.

Pertempuran dan serangan udara telah menewaskan lebih dari 40.000 warga sipil.

Baca juga: Ukraina Tak Dapat Tomahawk, Zelensky Pilih Beli Sistem Rudal Patriot AS

Sebanyak 3,7 juta orang mengungsi di dalam negeri, sementara 6,9 juta lainnya meninggalkan Ukraina.

Total 12,7 juta orang kini membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Sementara Amerika Serikat berupaya merundingkan akhir perang, pendekatan pemerintahan Trump justru meningkatkan ketegangan antara Ukraina dan AS, serta memperkeruh hubungan dengan sekutu NATO.

AS menekan Ukraina untuk membuat sejumlah konsesi, termasuk pengakuan terhadap Krimea sebagai wilayah Rusia.

Trump sebelumnya bertemu dengan Putin di Anchorage, Alaska, pada 15 Agustus, dengan tujuan mencapai gencatan senjata.

Namun, tidak ada kemajuan konkret yang diumumkan. Trump hanya menyatakan, “Tidak ada kesepakatan sampai ada kesepakatan.”

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas