China Peringatkan Warganya untuk Tidak Pergi ke Jepang, Saham Perusahaan Pariwisata Anjlok
Pernyataan PM Jepang Sanae Takaichi bahwa Pasukan Bela Diri Jepang bisa intervensi jika China menyerang Taiwan memicu respons keras Beijing.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Ringkasan Berita:
- Pernyataan PM Jepang Sanae Takaichi bahwa Pasukan Bela Diri Jepang bisa intervensi jika China menyerang Taiwan memicu respons keras Beijing.
- China menyerukan warganya untuk memboikot Jepang sebagai destinasi wisata, memperburuk hubungan bilateral.
- Imbauan China langsung menekan saham sektor pariwisata dan ritel Jepang.
TRIBUNNEWS.COM - Saham perusahaan pariwisata dan ritel Jepang anjlok tajam pada Senin (17/11/2025) setelah China mengeluarkan imbauan kepada warganya untuk tidak bepergian ke Jepang, The Guardian melaporkan.
Hubungan kedua negara memanas dalam sepekan terakhir setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan bahwa Pasukan Bela Diri Jepang dapat melakukan intervensi jika upaya China menginvasi Taiwan dianggap sebagai ancaman terhadap kelangsungan hidup Jepang.
"Jika keadaan darurat Taiwan melibatkan kapal perang dan penggunaan kekuatan, maka itu bisa menjadi situasi yang mengancam kelangsungan hidup [Jepang], bagaimanapun Anda melihatnya," ujar Takaichi pada pada 7 November.
Takaichi dikenal sebagai tokoh konservatif dengan sikap keras terhadap China.
Pernyataannya menuai respons tegas dari Beijing, termasuk seruan agar warga China memboikot Jepang sebagai destinasi wisata.
Untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, Masaaki Kanai, Direktur Jenderal Biro Asia dan Oseania Kementerian Luar Negeri Jepang, dijadwalkan bertemu dengan mitranya dari China, Liu Jinsong, pada Selasa, menurut laporan media Jepang.
Kanai diperkirakan akan menegaskan bahwa pernyataan Takaichi tidak mencerminkan perubahan kebijakan keamanan Jepang dan meminta China untuk menahan diri dari tindakan yang dapat memperburuk hubungan bilateral.
Taiwan terletak lebih dari 110 km dari pulau-pulau paling barat Jepang dan dekat dengan jalur laut vital yang diandalkan Tokyo untuk pengiriman minyak dan gas.
Jepang juga menjadi tuan rumah konsentrasi kekuatan militer AS terbesar di luar Amerika Serikat.
"Berbagai saluran komunikasi terbuka," kata Kepala Sekretaris Kabinet Jepang dalam jumpa pers rutin ketika ditanya tentang kunjungan Kanai ke China.
"Peringatan perjalanan China tidak sejalan dengan arahan umum untuk mempromosikan hubungan strategis yang saling menguntungkan. Kami telah mengajukan permintaan tegas kepada pihak Tiongkok untuk mengambil langkah-langkah yang tepat," tambahnya.
Saham dan Sektor Pariwisata Tertekan
Seruan Beijing agar wisatawan dan mahasiswa China menghindari Jepang berdampak besar pada sektor bisnis dan pasar saham.
Pada perdagangan Senin pagi, saham perusahaan kosmetik Shiseido turun 9 persen, saham Takashimaya, grup department store, turun lebih dari 5 persen, dan saham Fast Retailing, pemilik Uniqlo, turun lebih dari 4 persen.
Baca juga: China Peringatkan Jepang Akan Kalah Telak Jika Nekat Intervensi Militer di Taiwan
China merupakan sumber wisatawan terbesar bagi Jepang.
Turis China dikenal menghabiskan banyak uang untuk kosmetik, pakaian, dan barang elektronik ketika berkunjung ke Jepang.
Baca tanpa iklan