Trump akan Telepon Pemimpin Thailand-Kamboja untuk Akhiri Perang
Presiden AS Donald Trump akan menelepon para pemimpin Thailand-Kamboja untuk mengakhiri perang yang kembali meletus dan memasuki hari ketiga.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Bobby Wiratama
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump berupaya menengahi konflik Thailand-Kamboja yang kembali meletus dan memasuki hari ketiga.
- Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menengahi gencatan senjata Thailand-Kamboja dan disepakati pada Oktober lalu.
- Kedua pihak yang bermusuhan saling tuduh atas kegagalan gencatan senjata.
TRIBUNNEWS.COM - Di tengah meletusnya perang Thailand dan Kamboja, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampil sebagai penengah untuk mengakhiri permusuhan tersebut.
Permusuhan itu merupakan buntut dari konflik perbatasan selama bertahun-tahun yang berubah menjadi eskalasi terbuka pada 24 Juli lalu dan berlangsung selama lima hari.
Setelah gencatan senjata, kedua negara Asia Tenggara tersebut kembali bermusuhan.
Dalam sebuah rapat umum di Pennsylvania, Trump menyebutkan perang-perang yang menurutnya telah ia hentikan, ketika ia menyebutkan pertempuran antara Thailand dan Kamboja.
“Dan saya menyesal harus mengatakan ini, ada satu konflik bernama Kamboja-Thailand yang dimulai hari ini. Besok, saya harus menelepon,” kata presiden AS kepada hadirin, Selasa (9/12/2025).
“Siapa lagi yang bisa berkata, 'Saya akan menelepon dan menghentikan perang antara dua negara yang sangat kuat, Thailand dan Kamboja.' Mereka kembali berkonflik, tetapi saya akan melakukannya,” tambahnya.
Bentrokan berlanjut untuk hari ketiga pada hari Rabu (10/12/2025) di sepanjang sebagian perbatasan sepanjang 500 mil yang dipersengketakan.
Pihak Thailand dan Kamboja saling menyalahkan atas kegagalan gencatan senjata yang disepakati pada Oktober lalu.
Perundingan tersebut ditengahi oleh Presiden AS Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, seperti dikutip dari BBC.
Menanggapi pertempuran baru-baru ini, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menolak negosiasi dengan Kamboja, baik dengan mediator AS atau negara lain dengan tujuan memulihkan gencatan senjata.
Ia menegaskan Thailand akan mengambil tindakan militer yang dianggap perlu untuk melindungi kedaulatannya, menyebut kesabaran mereka telah habis untuk menghadapi ancaman Kamboja.
Baca juga: Kamboja Tembakkan Sejumlah Rudal ke Desa di Thailand
Sementara itu, Kamboja berulang kali menyerukan pemulihan gencatan senjata dan menyebut pihaknya berupaya membela diri.
Konflik Thailand dan Kamboja
Perselisihan panjang antara Thailand dan Kamboja terkait wilayah perbatasan—yang sebagian besar dulu ditetapkan oleh Prancis saat menjajah Kamboja—kembali memanas pada Mei, setelah terjadi baku tembak yang menewaskan seorang tentara Kamboja.
Ketegangan meningkat lagi pada Juli dan berubah menjadi bentrokan lebih luas, sebelum perundingan di Malaysia menghasilkan kesepakatan gencatan senjata.
Trump kemudian mengklaim keberhasilan itu terjadi berkat tekanan yang ia berikan, termasuk ancaman sanksi lebih keras kepada kedua negara.
Baca tanpa iklan