Hamas: Kami Siap Redam Serangan tapi Tolak Dilucuti, Senjata Adalah Jiwa Palestina
Hamas tolak pelucutan senjata dalam rencana damai Trump, sebut itu ancaman bagi masa depan Palestina. Gencatan fase kedua terancam terhenti
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
Ringkasan Berita:
- Hamas bersedia meredam serangan namun menolak pelucutan senjata, dengan Khaled Mashaal menegaskan bahwa menyerahkan senjata sama saja “mencabut jiwa Palestina”.
- Rencana damai Trump mengharuskan pelucutan senjata pada fase kedua, namun Hamas menilai langkah itu sebagai bentuk pendudukan baru dan tidak percaya jaminan keamanan pasukan internasional.
- Gencatan senjata fase kedua belum dimulai karena syarat utama termasuk pelucutan senjata dan penyelesaian urusan sandera belum terpenuhi.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan diplomatik terkait rencana perdamaian Gaza kembali memanas setelah pernyataan terbaru dari pimpinan senior Hamas, Khaled Mashaal.
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Mashaal menegaskan bahwa Hamas bersedia “menyimpan” senjatanya.
Namun ia menolak keras menyerahkannya sebagaimana yang tercantum dalam rencana gencatan senjata komprehensif yang diajukan Presiden AS Donald Trump.
Rencana perdamaian yang didukung resolusi PBB diketahui mengatur agar Hamas melucuti senjatanya pada fase kedua.
Akan tetapi Mashaal menegaskan bahwa pelucutan total tidak akan pernah diterima oleh Hamas.
“Gagasan perlucutan senjata total tidak dapat diterima oleh gerakan perlawanan,” tegas Mashaal.
Menurutnya, sejarah telah menunjukkan bahwa setiap kali kekuatan militer Palestina dilemahkan, warga justru menjadi sasaran kekerasan.
Mashaal mengutip tragedi Sabra dan Shatila pada tahun 1982 sebagai contoh paling kelam, ketika ribuan pengungsi Palestina dibantai setelah Organisasi Pembebasan Palestina (Palestine Liberation Organization / PLO),dilucuti dan dipaksa meninggalkan Lebanon.
Ia menegaskan bahwa peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa pelucutan senjata tidak membawa keamanan, melainkan membuka pintu bagi pembantaian.
Karena itu, bagi Hamas, menyerahkan senjata bukan hanya persoalan teknis melainkan menyangkut kelangsungan hidup rakyat Palestina.
Mashaal juga menekankan bahwa senjata telah menjadi simbol identitas perlawanan.
Ia menyebut pelucutan total sebagai tindakan yang “mencabut jiwa Palestina”, karena bagi Hamas dan sebagian warga, senjata bukan sekadar alat bertempur, melainkan lambang bahwa mereka masih memiliki kemampuan mempertahankan diri.
Penyerahan senjata dianggap sama dengan menyerah di hadapan pendudukan, sesuatu yang menurut mereka tidak dapat dinegosiasikan.
Baca juga: Hamas Akhirnya Mau Serahkan Senjata, tapi Menolak Bila Dipaksa
Lebih lanjut Hamas menunjukkan ketidakpercayaan terhadap jaminan keamanan dari pihak asing.
Rencana Trump mencakup pengerahan pasukan stabilisasi internasional untuk mengambil alih Gaza setelah pelucutan senjata, namun Mashaal menilai langkah itu sebagai bentuk pendudukan baru.