"Peluru Beterbangan di Atas Atap Rumah Saya"
Dia kini meninggalkan rumah kesayangan bersama putranya yang masih kecil-kecil didampingi suami yang bekerja sebagai sopir taksi.
Penulis:
Hasanudin Aco
Ringkasan Berita:
- Dua negara bertetangga di Asia Tenggara, Thailand dan Kamboja, sudah enam hari berperang di perbatasan
- Puluhan orang tewas dari kedua belah pihak, baik militer maupun warga sipil
- Saat ini 300 ribu warga Kamboja mengungsi meninggalkan rumah akibat perang
TRIBUNNEWS.COM, KAMBOJA - Ibu Sao Sopha namanya.
Dia terlihat gugup dan ketakukan.
Mengenakan daster, Sopha tengah hamil besar.
Dia kini meninggalkan rumah kesayangan bersama putranya yang masih kecil-kecil didampingi suami yang bekerja sebagai sopir taksi.
Sopha terpaksa meninggal rumah untuk mencari perlindungan pada 9 Desember 2025.
Karena perang berkecamuk di dekat rumahnya, perang antara tentara Kamboja dan Thailand.
“Saya khawatir dan takut karena peluru beterbangan di atas atap rumah saya dan atapnya bergetar,” kata Sopha, 27 tahun, yang berasal dari komune O'Beichoan di provinsi Banteay Meanchey Kamboja, dekat perbatasan dengan Thailand.
Sopha dan keluarganya tiba dengan selamat di lokasi pengungsian sementara yang didirikan di halaman sebuah pagoda di distrik O'Chrov, sekitar satu jam perjalanan dari rumahnya.
Dua hari kemudian tepatnya pada 11 Desember 2025, dia melahirkan di tempat pengungsian.
Ya, dia melahirkan putrinya di tengah perang.
“Saya merasa khawatir sebelum dia lahir, tetapi sekarang saya merasa sedikit lebih baik karena dia telah lahir dengan selamat,” kata Sopha kepada The Straits Times di tempat penampungan sambil menggendong bayinya.
Ratusan ribu orang mengungsi
Sopha dan keluarganya termasuk di antara 303.200 warga sipil Kambojayang mengungsi akibat pertempuran dengan Thailand sejak 8 November 2025 lalu.
Menurut data dari pihak berwenang Kamboja, total 909 sekolah negeri dan swasta terpaksa ditutup, yang berdampak pada lebih dari 216.000 siswa diliburkan.
Setidaknya 100 keluarga telah mendirikan kemah di lokasi pengungsian pagoda sejak pertempuran antara Thailand dan Kamboja kembali pecah pada 8 Desember lalu.
Banyak keluarga memiliki anak berusia antara tiga dan 14 tahun.
Baca tanpa iklan