Jakarta Bertahan di Peringkat 45 GPCI 2025, Bandara Membaik tapi Kemacetan Masih Jadi Tantangan
Peringkat Jakarta di GPCI 2025 tak berubah meski skor naik. Bandara membaik, tapi kemacetan masih jadi penghambat utama daya saing kota
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Jakarta kembali menempati peringkat ke-45 dalam Global Power City Index (GPCI) 2025 meski skor meningkat 44 poin menjadi 797,6.
- Mori Memorial Foundation menilai kualitas bandara Indonesia membaik, namun kemacetan lalu lintas masih menjadi tantangan utama daya saing kota.
- Pembenahan transportasi darat dinilai krusial agar potensi ekonomi Jakarta lebih optimal.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO — Jakarta kembali menempati peringkat ke-45 dalam Global Power City Index (GPCI) 2025 yang diumumkan Mori Memorial Foundation, Jepang, Rabu (17/12/2025).
Posisi tersebut tidak berubah dibanding tahun sebelumnya meski skor Jakarta meningkat 44 poin menjadi 797,6.
Chairman Mori Memorial Foundation, Heizo Takenaka, menilai kualitas bandara di Indonesia menunjukkan perbaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, ia menegaskan kemacetan lalu lintas masih menjadi pekerjaan rumah utama yang menghambat mobilitas dan aktivitas ekonomi di kota-kota besar.
“Peningkatan kualitas bandara terlihat jelas, tetapi kemacetan lalu lintas masih belum tertangani dengan baik,” ujar Heizo Takenaka kepada Tribunnews.com, Rabu (17/12/2025).
Kemacetan, terutama pada jam sibuk, dinilai masih membebani pergerakan masyarakat dan efisiensi ekonomi.
Baca juga: CEO JPX Hiromi Yamaji: Transparansi Jadi Syarat Perusahaan Indonesia IPO di Jepang
Kondisi ini dinilai kontras dengan kemajuan sektor bandara yang semakin modern, nyaman, dan kompetitif di tingkat regional.
Para pengamat menilai pembangunan infrastruktur transportasi darat perlu mendapat perhatian lebih serius dan terintegrasi.
Perbaikan jalan, penguatan transportasi publik massal, manajemen lalu lintas, serta konektivitas antarmoda disebut menjadi kunci untuk mengatasi kemacetan kronis.
Di sisi lain, jumlah penduduk yang besar dinilai menjadi potensi utama pertumbuhan kota.
Pasar domestik yang kuat, bonus demografi, dan aktivitas ekonomi yang tinggi memberikan peluang bagi kota-kota besar di Indonesia untuk berkembang menjadi kota berdaya saing global.
Namun, potensi tersebut dinilai tidak akan optimal tanpa penanganan infrastruktur yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Kemacetan berkepanjangan tidak hanya menurunkan kualitas hidup warga, tetapi juga berdampak pada daya tarik investasi dan efisiensi ekonomi.
GPCI merupakan indeks kota global berbasis di Jepang yang secara rutin menilai daya saing kota dunia berdasarkan enam indikator utama, yakni ekonomi, riset dan pengembangan, interaksi budaya, kelayakan huni, lingkungan, dan aksesibilitas.
Dalam GPCI 2025, indeks ini menilai 48 kota besar dunia.
Pada edisi terbaru, London menempati peringkat pertama global, disusul Tokyo di posisi kedua. Jakarta tetap berada di papan bawah, meski mencatatkan peningkatan skor.
Jakarta juga menunjukkan tren perbaikan dalam indeks kota global lainnya.
Dalam Global Cities Index (GCI) 2025, Jakarta dilaporkan mengalami kenaikan peringkat, mencerminkan peningkatan peran ekonomi dan konektivitas global.
Namun, para pengamat menegaskan metodologi GPCI berbeda dengan indeks lain, sehingga hasilnya tidak dapat disamakan secara langsung.
Ke depan, peningkatan investasi, pembangunan infrastruktur terintegrasi, serta transformasi ekonomi digital dinilai berpotensi memperkuat posisi Jakarta dalam persaingan kota global.
Diskusi perekonomian di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.