Pelajaran dari Laut Hitam: Mengapa Armada ke-7 AS Menjadi Rentan Jika Konfrontasi dengan China?
Apakah armada raksasa seperti Armada ke-7 Amerika Serikat masih relevan di era teknologi ini?
Penulis:
Malvyandie Haryadi
Ringkasan Berita:
- Perang Rusia-Ukraina membuka babak baru dalam sejarah militer dunia melalui inovasi penggunaan drone.
- Ukraina awalnya tidak memiliki angkatan laut, sementara Rusia mengandalkan Armada Laut Hitam dengan 80 kapal.
- Armada ke-7 AS di Pasifik, simbol dominasi maritim Amerika, terancam kehilangan relevansi.
- Jika konflik dengan China pecah, revolusi drone Ukraina menjadi gambaran risiko besar bagi Washington.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perang Rusia-Ukraina menghadirkan babak baru dalam sejarah militer dunia.
Inovasi penggunaan drone, baik di darat maupun laut, telah mengubah wajah peperangan modern dan menimbulkan pertanyaan besar: apakah armada raksasa seperti Armada ke-7 Amerika Serikat masih relevan di era teknologi ini?
Dari Bom Nuklir ke Drone
Sejarah mencatat beberapa momen yang mengubah peperangan selamanya. Uji coba nuklir Trinity pada 1945 mengakhiri Perang Dunia Kedua sekaligus mencegah Perang Dunia Ketiga melalui doktrin Mutually Assured Destruction (MAD).
Sebelumnya, Billy Mitchell membuktikan bahwa pesawat pembom bisa menenggelamkan kapal perang besar, menandai berakhirnya era kapal perang klasik.
Kini, Ukraina menghadirkan “momen Billy Mitchell” baru lewat revolusi drone. FPV dan drone serat optik telah menggantikan artileri tradisional, sementara drone laut mulai mengubah strategi perang maritim.
Drone Laut Mengguncang Armada Rusia
Analis geopolitik, pertahanan, dan hubungan internasional, Nitin J Ticku, mengulas tentang apa yang terjadi dalam perang Rusia vs Ukraina di Laut Hitam untuk menggambarkan perubahan wajah perang modern.
Laut Hitam adalah sebuah laut pedalaman yang terletak di antara ujung tenggara Eropa dan Asia Kecil. Secara geopolitik, kawasan ini merupakan salah satu wilayah paling strategis di dunia karena menjadi titik temu antara pengaruh Rusia, Eropa, dan Timur Tengah.
Laut Hitam bukan sekadar latar belakang geografis, melainkan "jantung" dari konflik Rusia vs Ukraina.
"Saat perang dimulai pada 2022, Ukraina praktis tidak memiliki angkatan laut. Rusia justru mengandalkan Armada Laut Hitam dengan 80 kapal, termasuk kapal selam kelas Kilo bersenjata rudal Kalibr. Namun, tiga tahun kemudian, blokade laut Rusia gagal total," kata peraih master dari Universitas Glasgow ini.
Melalui inovasi, Ukraina mencetak sejarah:
- Desember 2024: Drone MAGURA V5 menembak jatuh dua helikopter Mi-8 Rusia dengan rudal modifikasi.
- Mei 2025: Drone MAGURA V7 menembak jatuh jet tempur Su-30SM Rusia di Laut Hitam.
- Desember 2025: Ukraina mengklaim drone bawah laut berhasil menyerang kapal selam kelas Kilo di pangkalan Novorossiysk.
Implikasi Besar bagi Masa Depan
Keberhasilan Ukraina menunjukkan bahwa proyeksi kekuatan laut tradisional kini menghadapi tantangan serius. Beberapa implikasi penting:
Kapal induk dan kapal besar bukan lagi aset strategis, melainkan kerentanan.
Baca tanpa iklan