443 Hari Terpisah, Kucing yang Hilang Saat Badai Helene Terjang AS Kembali ke Pelukan Keluarga
Awalnya, Gabby yang dikira sebagai kucing liar dan tersesat diserahkan ke penampungan hewan di North Carolina, AS pada Sabtu (13/12/2025).
Penulis:
Rizkianingtyas Tiarasari
Editor:
Bobby Wiratama
Saat terjadi bencana alam, kericuhan, atau bahkan kecelakaan sehari-hari, microchip dapat menjadi satu hal yang bisa menuntun hewan piaraan yang hilang untuk kembali pulang.
Microchip adalah chip RFID kecil seukuran beras yang ditanam di bawah kulit kucing (biasanya di antara tulang belikat) untuk identifikasi permanen, sehingga fungsinya mirip kartu identitas digital.
Dalam microchip, ada kode unik yang terdaftar, jadi jika kucing tersesat dan ditemukan, microchip bisa dipindai untuk mengetahui data pemiliknya.
Di luar negeri, seperti Amerika Serikat (AS) atau Inggris, pemasangan microchip pada binatang peliharaan (misalnya, anjing dan kucing) adalah hal yang lumrah, bahkan ada yang diwajibkan.
Berikut bunyi unggahan lengkap Avery Humane Society:
This is why microchipping your pets matters
Yesterday, a sweet cat was brought to us as a stray. When we scanned her, we discovered she had a microchip.
With a little digging, we learned she had gone missing after Hurricane Helene - 443 days ago.
Today, after all that time, she is finally back where she belongs - reunited with her family.
Microchips are more than just a number; they are a lifeline. In times of chaos, natural disasters, or even everyday accidents, they can be the one thing that brings a lost pet home.
But, a microchip only works if the information attached to it is kept up to date.
Please take a moment to check your pet's microchip registration and make sure your contact information is current.
That small step can make the difference between heartbreak and a happy reunion.
After 443 days apart, this family got their miracle - and it all started with a microchip. Congratulations! Kieran (Gabby)
Sekilas tentang Badai Helene
Dikutip dari laman Britannica, Badai Helene adalah siklon tropis besar dan dahsyat yang dikenal dengan intensifikasinya yang begitu cepat.
Badai ini mendarat di Florida barat laut pada 26 September 2024, lalu meluas ke negara bagian lain seperti North Carolina dan South Carolina, serta Tennessee dan Georgia.
Dalam waktu kurang dari 10 jam, Badai Helene bertransformasi dari badai hurikan Kategori 2 menjadi Kategori 4, dengan kecepatan yang berkembang dari 155 kilometer per jam menjadi 215 kilometer per jam.
Angin kencang dan banjir yang ditimbulkan Helene menewaskan lebih dari 250 orang.
Sehingga, Badai Helene menjadi badai paling mematikan yang melanda AS sejak Badai Maria menerjang Puerto Rico pada 2017.
Selain itu, Badai Helene juga merupakan badai dengan kerugian materiil termahal dalam sejarah AS, sebab dampak ekonomi yang mencakup kerusakan properti dan infrastruktur, mencapai 200 miliar US dollar atau setara Rp3,5 triliun.
Transformasi Helene dari area badai petir dan hujan yang tersebar menjadi badai Kategori 4 hanya dalam waktu dua hari lebih sedikit dipicu oleh perairan yang sangat hangat di Laut Karibia dan Teluk Meksiko, yang oleh para ahli meteorologi telah dikait-kaitkan dengan pemanasan global.
(Tribunnews.com/Rizki A.)