Gurun Arab Saudi Memutih usai Salju Langka Turun Setelah 30 Tahun, Ternyata Ini Penyebabnya
Gurun Arab Saudi mendadak memutih usai salju langka turun setelah 30 tahun. Fenomena cuaca ekstrem ini disebut dampak udara dingin
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Garudea Prabawati
Ringkasan Berita:
- Salju langka menyelimuti gurun Arab Saudi setelah gelombang udara dingin ekstrem, mengubah wilayah Tabuk dan Al-Jawf yang biasanya panas menjadi putih.
- Kombinasi massa udara dingin, sistem tekanan rendah Mediterania, dan dampak perubahan iklim global memicu paradoks pemanasan sehingga cuaca ekstrem seperti hujan salju bisa terjadi di wilayah gurun.
- Fenomena ini memperkuat arah Visi 2030 Arab Saudi, yang melihat potensi wisata musim dingin melalui proyek Trojena di Neom.
TRIBUNNEWS.COM - Arab Saudi mengalami peristiwa cuaca tak biasa setelah hujan salju lebat menyelimuti wilayah gurun di bagian utara negara itu.
Sebuah fenomena yang disebut-sebut sebagai yang terparah dalam hampir 30 tahun terakhir.
Mengutip laporan The Print, kawasan Tabuk dan Al-Jawf yang identik dengan hamparan pasir keemasan belakangan ini berubah putih, ketika suhu udara turun drastis hingga di bawah titik beku.
Pemandangan langka unta berjalan di atas pasir bersalju pun viral di media sosial, memicu perhatian publik internasional.
Gelombang dingin tersebut tidak hanya terjadi di wilayah utara. Sejumlah daerah di Arab Saudi bagian tengah dan timur, termasuk Al-Ahsa yang dikenal bercuaca panas, turut mengalami hujan es dan salju ringan.
Penyebab Salju Langka Selimuti Arab Saudi
Adapun Fenomena salju langka yang menyelimuti gurun Arab Saudi terjadi akibat kombinasi kondisi atmosfer ekstrem yang jarang bertemu di kawasan tersebut.
Wilayah Arab Saudi yang identik dengan iklim panas dan kering sesekali memang dapat mengalami musim dingin, namun peristiwa salju kali ini dinilai luar biasa karena cakupan dan intensitasnya.
Penyebab utama fenomena ini adalah masuknya massa udara dingin yang sangat kuat dari wilayah utara, terutama dari Eropa Timur dan Asia Tengah.
Massa udara dingin tersebut terdorong ke selatan akibat pergerakan sistem tekanan rendah yang dalam dari Laut Mediterania.
Ketika udara dingin ini bertemu dengan awan pembawa hujan yang sarat uap air, terjadilah penurunan suhu drastis hingga di bawah titik beku, memungkinkan hujan berubah menjadi salju.
Selain faktor cuaca regional, perubahan iklim global turut berperan.
Para ahli meteorologi menjelaskan bahwa kawasan Timur Tengah mengalami pemanasan lebih cepat dibanding rata-rata global.
Baca juga: Arab Saudi Gencar Rekrut Bartender Seiring Pelonggaran Aturan Pelarangan Alkohol
Kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai paradoks pemanasan, dimana atmosfer yang lebih hangat mampu menampung lebih banyak uap air. Saat sistem cuaca ekstrem terjadi, uap air tersebut dilepaskan dalam bentuk hujan atau salju yang lebih intens dari biasanya.
Kombinasi udara dingin ekstrem, kelembaban tinggi, serta pola tekanan udara yang tidak lazim inilah yang menyebabkan salju turun hingga ke wilayah gurun datar, bukan hanya di pegunungan.
Karena kondisi tersebut jarang terjadi secara bersamaan, peristiwa ini dinilai sebagai kejadian langka yang terakhir kali tercatat puluhan tahun lalu.