Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Realitas Evakuasi di Jepang: Kapasitas Terbatas, Risiko Kesehatan dan Pentingnya Evakuasi Mandiri

Prinsip dasar yang harus dikedepankan adalah swadaya (melindungi diri sendiri) dan saling membantu di lingkungan sekitar

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Realitas Evakuasi di Jepang: Kapasitas Terbatas, Risiko Kesehatan dan Pentingnya Evakuasi Mandiri
Tribunnews.com/Ricard Susilo
ALUR EVAKUASI - Alur Evakuasi Saat Terjadi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami atau Banjir 

Ringkasan Berita:
  • Ketika bencana berskala besar melanda Jepang, tidak semua korban dapat tertampung di pusat evakuasi resmi
  • Di wilayah perkotaan, kekurangan tempat evakuasi menjadi persoalan struktural
  • Para ahli kebencanaan menekankan bahwa masyarakat tidak bisa sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO –   Ketika bencana berskala besar melanda Jepang, tidak semua korban dapat tertampung di pusat evakuasi resmi.

Fakta ini semakin jelas terutama di kawasan perkotaan padat seperti Tokyo, di mana keterbatasan ruang dan populasi tinggi menjadi tantangan serius dalam penanganan bencana.

Profesor Kehormatan Universitas Nagoya,  Fukuwa Nobuo mengatakan, berdasarkan asumsi kerusakan terbaru Gempa Bumi Metropolitan Tokyo (Tokyo Selatan) yang diumumkan pemerintah Jepang pada Desember 2025, jumlah pengungsi yang diperkirakan masuk ke pusat evakuasi resmi seperti gedung olahraga sekolah negeri dapat mencapai sekitar 4,8 juta orang dua minggu setelah bencana.

"Dari jumlah tersebut, sekitar 1,6 juta orang berada di wilayah metropolitan Tokyo. Angka ini disebut melampaui kapasitas pusat evakuasi yang tersedia," ungkap Profesor Kehormatan Universitas Nagoya,  Fukuwa Nobuo baru-baru ini.

Baca juga: Kemlu: Belum Ada Informasi WNI Jadi Korban Gempa Jepang M 7,1

Kota Padat, Tempat Evakuasi Sangat Terbatas

Di wilayah perkotaan, kekurangan tempat evakuasi menjadi persoalan struktural. Jika bencana besar seperti gempa Palung Nankai atau gempa besar Tokyo benar-benar terjadi, kemampuan pemerintah dalam memberikan bantuan akan sangat terbatas.

Rekomendasi Untuk Anda

Para ahli kebencanaan menekankan bahwa masyarakat tidak bisa sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah (public assistance). 

Prinsip dasar yang harus dikedepankan adalah swadaya (melindungi diri sendiri) dan saling membantu di lingkungan sekitar.

"Bahkan ketika berhasil masuk ke pusat evakuasi, para pengungsi belum tentu dapat menjalani kehidupan yang layak dan nyaman," katanya.

Standar kemanusiaan internasional Sphere Standard merekomendasikan minimal 3,5 meter persegi ruang hidup per pengungsi. 

Namun, kenyataannya banyak pusat evakuasi di Jepang hanya menyediakan sekitar 2 meter persegi per orang, setara dengan sekitar 1,2 tatami.

Kondisi ini menyebabkan ruang yang sangat sempit, minim privasi, dan meningkatkan stres psikologis. Tidur berdesakan dengan sekat seadanya menjadi pemandangan umum dalam situasi darurat.

Masalah Toilet: Ancaman Nyata bagi Kesehatan

Salah satu persoalan paling serius di pusat evakuasi adalah toilet. Ketika pasokan air terputus, toilet siram tidak dapat digunakan. 

Keterbatasan jumlah toilet darurat dan buruknya sanitasi langsung berdampak pada kesehatan pengungsi.

Pedoman Kantor Kabinet Jepang menyebutkan bahwa kerusakan lingkungan toilet berkorelasi langsung dengan risiko kesehatan. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas