Panti Lansia Satu-satunya di Jepang Ini Hampir Tutup, Diselamatkan Perawat asal Indonesia
Panti lansia di kota kecil Hokkaido hampir tutup, namun justru diselamatkan perawat asal Indonesia. Jepang kian bergantung pada tenaga asing
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Krisis tenaga kerja perawatan lansia membuat panti jompo di kota kecil Nakatonbetsu, Hokkaido, nyaris ditutup.
- Fasilitas rumah terakhir bagi puluhan lansia itu justru diselamatkan oleh kehadiran perawat asal Indonesia di tengah kekurangan staf akut.
- Kasus ini menegaskan Jepang kini semakin bergantung pada tenaga asing untuk menjaga sistem perawatan lansia tetap berjalan.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, HOKKAIDO – Krisis tenaga kerja perawatan lansia di Jepang kian nyata. Di tengah lonjakan jumlah warga lanjut usia, sebuah kota kecil di Hokkaido nyaris kehilangan satu-satunya panti jompo khusus (tokuyo) yang menjadi “rumah terakhir” bagi puluhan lansia.
Ironisnya, yang menyelamatkan fasilitas tersebut justru perawat asal Indonesia.
Jepang pada 2025 memasuki fase demografis yang belum pernah terjadi sebelumnya: seluruh generasi baby boomers kini berusia 75 tahun ke atas.
Permintaan layanan perawatan melonjak tajam, namun kekurangan tenaga kerja kronis membuat banyak fasilitas berada di ambang kolaps.
Baca juga: Pertahanan Diajarkan Sejak SD, Jepang Diuji soal Netralitas Pendidikan
Kota Kecil, Masalah Besar
Di Nakatonbetsu, tingkat penuaan penduduk telah mencapai 41,5 persen dan diproyeksikan melampaui 50 persen pada 2040.
Kota ini hanya memiliki satu panti lansia khusus bernama Chojyuen, tempat tinggal 43 lansia berusia 80–90 tahun.
Pada 2023, pengelola sebelumnya mundur akibat kekurangan tenaga kerja dan defisit keuangan, membuat fasilitas itu terancam ditutup.
Menutup Chojyuen berarti memindahkan para lansia ke kota lain—sesuatu yang dinilai nyaris mustahil.
Diselamatkan Tenaga Asing
Dalam situasi genting, pemerintah kota mengambil alih pengelolaan dan mencari bantuan ke Higashikawa, kota yang sejak lama aktif mendatangkan mahasiswa perawatan dari Asia. Kini, dari 17 staf Chojyuen, empat di antaranya adalah tenaga asing, termasuk perawat Indonesia.
Salah satunya Dino Ramdan Pamungkas (28), lulusan sekolah keperawatan di Higashikawa. Ia datang ke Nakatonbetsu saat panti itu berada di ambang penutupan.
“Melihat penghuni tersenyum saat diajak bicara membuat saya bahagia,” ujar Dino sambil membantu lansia makan dan berpindah dari kursi roda ke tempat tidur.
Kehadiran Dino dan rekan-rekannya mendapat sambutan positif dari keluarga penghuni.
“Mereka rajin dan sangat serius bekerja. Jujur saja, Jepang tidak bisa lagi mengandalkan orang Jepang saja,” ujar salah satu keluarga lansia.
Krisis Nasional Perawatan Lansia
Kondisi di Hokkaido mencerminkan krisis nasional. Survei lembaga riset menunjukkan 98,3 persen pemerintah daerah dan fasilitas perawatan di Hokkaido kekurangan tenaga perawat lansia. Kementerian Kesehatan Jepang memprediksi kekurangan sekitar 28.000 perawat lansia di Hokkaido dalam 15 tahun ke depan.
Baca tanpa iklan