Rusia Bekingi China soal Taiwan, Asia-Pasifik Terancam Jadi Zona Perang
Rusia dukung penuh klaim China atas Taiwan, memicu kekhawatiran konflik di Asia-Pasifik. Jepang dan negara tetangga tingkatkan kesiapan militer.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
- Rusia menyatakan dukungan penuh terhadap China terkait klaim kedaulatan atas Taiwan, menolak setiap bentuk kemerdekaan pulau tersebut.
- Dukungan Rusia meningkatkan risiko konflik di Asia-Pasifik, memicu perlombaan militer, ketegangan regional, dan potensi terbentuknya “zona sengketa” militer-politik.
- Jepang, Korea Selatan, Australia, dan beberapa negara ASEAN memperkuat kesiapan militer sebagai antisipasi potensi eskalasi di Selat Taiwan.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di kawasan Asia-Pasifik kembali meningkat setelah Rusia menyatakan dukungannya penuh terhadap China terkait klaim kedaulatan atas Taiwan.
Pernyataan ini dikeluarkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dalam wawancara dengan kantor berita TASS, Minggu (28/12/2025).
Dalam keterangan resminya Lavrov menegaskan Moskow menentang “segala bentuk kemerdekaan” bagi Taiwan.
Tak sampai disitu, ia mengklaim bahwa keputusan Rusia terkait isu ini tidak berubah dan sudah berulang kali ditegaskan di tingkat tertinggi bahwa Rusia mengakui Taiwan sebagai bagian integral dari China.
Menurutnya isu Taiwan adalah urusan internal China, sehingga Beijing memiliki hak sah untuk menjaga kedaulatan serta integritas wilayahnya.
Alasan itu yang mendorong Rusia mendukung hak Beijing untuk mempertahankan kedaulatan serta integritas wilayahnya.
Pernyataan ini mengacu pada kesepakatan strategis Moskow-Beijing yang pertama kali ditandatangani pada 2001 dan diperpanjang pada 2021.
Dimana dalam perjanjian tersebut keduanya menegaskan kerja sama politik, diplomatik, dan keamanan antara kedua negara, termasuk saling mendukung dalam hal kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing.
“Rusia akan mendukung China dalam melindungi persatuan nasional dan integritas wilayahnya, sesuai perjanjian persahabatan kedua negara yang telah berjalan lebih dari 20 tahun,” ujar Lavrov.
Dukungan Rusia Tingkatkan Risiko Konflik
Meski dukungan Rusia ke China soal Taiwan dapat membuat Moskow memperkuat aliansi strategis dengan Beijing, termasuk dalam bidang militer, politik, dan ekonomi.
Namun pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menimbulkan kekhawatiran potensi konflik di kawasan Asia-Pasifik.
Baca juga: China Gelar Justice Mission 2025, Latihan Militer Besar-besaran di Dekat Taiwan, Ini Respons Taipei
Dukungan ini memperkuat posisi China dalam menghadapi tekanan internasional, terutama dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, dan sekutunya.
Para analis menilai, ketika Rusia secara terbuka berdiri di belakang China untuk menolak kemerdekaan Taiwan, hal ini dapat memicu perlombaan militer dan meningkatkan ketegangan regional.
Lantaran dukungan Rusia ke Beijing secara politis dan strategis mendorong negara-negara tetangga untuk perlu memperkuat pertahanan mereka, sehingga risiko konfrontasi bersenjata meningkat.
Selain itu, perjanjian persahabatan Moskow-Beijing yang telah berlangsung lebih dari dua dekade menegaskan kerja sama militer, diplomatik, dan ekonomi, yang bisa menjadi landasan bagi China untuk lebih agresif mempertahankan klaimnya terhadap Taiwan.
Jika terjadi eskalasi, Selat Taiwan dan kawasan sekitarnya bisa menjadi titik panas, mengancam jalur perdagangan internasional dan stabilitas ekonomi global.
Negara Tetangga Genjot Kesiapan Militer
Pasca ketegangan antara China dan Taiwan memanas, sejumlah negara di kawasan Asia-Pasifik mulai meningkatkan kesiapan militer.
Termasuk Jepang, sebagai negara tetangga yang paling terdampak, telah meningkatkan kesiapan militernya dan menyetujui anggaran pertahanan terbesar sepanjang sejarah sebesar 9,04 triliun yen (sekitar 58 miliar dolar AS) untuk tahun fiskal 2026.
Langkah tersebut dilakukan di tengah kekhawatiran kemungkinan eskalasi militer di Selat Taiwan, setelah Beijing memperkuat klaim atas pulau tersebut dan Moskow menyatakan dukungan penuh terhadap China.
Selain Jepang, negara-negara lain di kawasan seperti Korea Selatan, Australia, dan beberapa anggota ASEAN juga dilaporkan memperkuat latihan militer, meningkatkan patroli laut, dan memperbarui sistem pertahanan udara.
Para pengamat menilai bahwa langkah-langkah ini bersifat pencegahan, namun secara nyata menunjukkan kesiapan menghadapi potensi konflik jika ketegangan meningkat menjadi konfrontasi langsung.
Meskipun dukungan Rusia terhadap China tidak otomatis memicu perang, para analis menekankan bahwa keberpihakan geopolitik ini meningkatkan risiko munculnya “zona sengketa” militer-politik di kawasan Asia-Pasifik.
Ketegangan ini diperparah oleh modernisasi militer China dan ekspansi anggaran pertahanan negara-negara tetangga, yang bisa memicu perlombaan senjata regional dan menimbulkan ketidakstabilan keamanan jangka panjang.
Situasi ini menandai fase baru dalam geopolitik Asia-Pasifik, di mana rivalitas besar antara kekuatan global dan regional mulai membentuk blok-blok strategis yang berpotensi mempengaruhi perdagangan, diplomasi, dan keamanan internasional.
(Tribunnews.com / Namira)
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.