Pengakuan Eks-Ajudan Trump Kembali Viral: Rusia Bersedia Tumbalkan Venezuela Demi Ukraina
Rusia bersedia menarik dukungan mereka untuk Nicolas Maduro di Venezuela dengan imbalan: kebebasan bertindak di Ukraina.
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Ringkasan Berita:
- Mantan penasihat Trump untuk spesialisasi urusan Rusia pernah mengatakan kalau Moskow pernah mengusulkan kesepakatan aneh ke AS
- Pengakuan yang dibuat pada 2019 silam ini kembali viral setelah penangkapan Nicolas Maduro oleh AS pada 3 Januari 2026.
TRIBUNNEWS.COM - Dalam beberapa hari terakhir, Rusia sangat vokal menyuarakan dukungannya untuk Venezuela terkait serangan pasukan Amerika Serikat (AS).
Operasi militer AS pada Sabtu (3/1/2026) itu berujung penculikan dan penangkapan pemimpin negara Amerika Selatan itu, Nicolas Maduro.
Reaksi keras Rusia ini memantik kembali viralnya pengakuan Fiona Hill, mantan ajudan dan penasihat Presiden AS, Donald Trump untuk spesialisasi urusan Rusia.
Baca juga: Rafael Correa: Amerika Culik Maduro, Bayangkan Respons Dunia Kalau Putin Tangkap Zelensky
Hill menjabat posisi tersebut pada periode pertama kepemimpinan Trump.
Menurut HIll, Moskow pernah menawarkan "kesepakatan pertukaran yang sangat aneh antara Venezuela dan Ukraina".
Hill menyampaikan klaim tersebut dalam sidang kongres tahun 2019, dan kini kembali viral di media sosial.
Rusia Bersedia Tumbalkan Venezuela Demi Ukraina
Menurut Hill, selama masa jabatan pertama Trump, Rusia mengisyaratkan kalau mereka bersedia "menumbakan" Venezuela; Menarik dukungan mereka untuk Nicolas Maduro di Venezuela dengan imbalan: kebebasan bertindak di Ukraina.
"Selama sidang Kongres pada tahun 2019, dia mengatakan bahwa para pejabat Rusia berulang kali mengemukakan gagasan tentang "pengaturan pertukaran yang sangat aneh antara Venezuela dan Ukraina," tulis laporan WN, dikutip Rabu (7/1/2026).
Pada saat itu, ia mengatakan bahwa Rusia mendorong gagasan tersebut menggunakan artikel di media Rusia yang merujuk pada Doktrin Monroe - deklarasi tahun 1823 oleh presiden kelima AS, James Monroe, yang menegaskan dominasi di Belahan Barat.
Baca juga: Penculikan Nicolas Maduro Bukan Barang Baru: Doktrin Monroe dan Jejak AS Obok-obok Amerika Latin
Sebagai gagasan inti di balik kebijakan luar negeri Amerika selama berabad-abad, kebijakan luar negeri AS menyatakan kalau Eropa harus menjauh dari Amerika, dan sebagai gantinya, AS akan menjauh dari Eropa.
Doktrin yang sama digunakan oleh Trump untuk membenarkan operasi Venezuela.
Komentar Hill kembali mencuat dan banyak dibagikan di media sosial setelah misi rahasia AS terhadap Maduro.
Saat berbicara dengan AP, dia mengulangi klaimnya dan mengatakan, “Sebelumnya ada 'petunjuk terselubung, isyarat terselubung, kedipan mata, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?' Tapi tidak ada seorang pun (di AS) yang tertarik saat itu.”
Pada saat itu, menurut AP, Hill, yang saat itu menjabat sebagai penasihat senior Trump untuk Rusia dan Eropa, mengatakan kepada pejabat Rusia, “Ukraina dan Venezuela tidak memiliki hubungan satu sama lain.”
(oln/wn/*)