Ribuan Warga Venezuela Turun ke Jalan, Tuntut Trump Bebaskan Presiden Maduro
Ribuan warga Venezuela memadati Caracas, mengecam campur tangan AS dan menuntut Donald Trump segera membebaskan Presiden Nicolás Maduro dari tahanan.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Nuryanti
Ringkasan Berita:
- Ribuan warga Venezuela turun ke jalan di Caracas menuntut Presiden AS Donald Trump membebaskan Nicolás Maduro dan istrinya.
- Aksi ini digerakkan pendukung PSUV sebagai bentuk penolakan campur tangan AS, menguatkan narasi anti-imperialisme dan klaim pelanggaran kedaulatan Venezuela.
- Meski menuntut pembebasan Maduro, massa tetap mendukung Presiden sementara Delcy Rodríguez, demi menjaga stabilitas nasional sambil menunggu proses hukum Maduro di AS.
TRIBUNNEWS.COM - Ribuan orang turun ke jalan di ibu kota Venezuela, Caracas, untuk menuntut pembebasan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores.
Aksi ini digelar tepat satu bulan setelah keduanya ditangkap dalam operasi militer yang melibatkan pasukan Amerika Serikat.
Mengutip laporan Al Jazeera, demo yang terjadi di Caracas dipelopori oleh pendukung Partai Persatuan Sosialis Venezuela (PSUV), yang diorganisir oleh tokoh partai seperti Sekretaris Jenderal PSUV Diosdado Cabello dan kepala mobilisasi jalanan Nahum Fernandez.
Adapun unjuk rasa yang diberi nama “Gran Marcha” atau Pawai Akbar diselenggarakan sebagai bentuk kemarahan dan frustasi publik terhadap intervensi asing yang dianggap merusak kedaulatan nasional Venezuela.
Sambil mengibarkan spanduk bertuliskan tuntutan agar pasangan pemimpin Venezuela segera dibebaskan, peserta aksi kompak meneriakkan kecaman “Venezuela membutuhkan Nicolas! Kekaisaran menculik mereka, kami ingin mereka kembali!”.
Dalam aksi yang berpadu dengan musik keras dari truk-truk dan gelombang seragam merah khas gerakan “Chavista,” beberapa kelompok lain juga menyerukan pemulihan menyeluruh bagi korban kekerasan yang didukung negara.
Selain di ibukota Caracas, sejumlah kelompok masyarakat lain juga melakukan aksi terpisah di ibu kota.
Seorang peserta aksi, Jose Perdomo, 58 tahun, menggambarkan suasana emosional di antara pengunjuk rasa sebagai campuran kebingungan, kesedihan, dan kemarahan, sambil menegaskan keyakinannya bahwa Maduro harus dibebaskan “cepat atau lambat.”
Hal ini menunjukkan bahwa demo bukan sekadar tuntutan terhadap pembebasan satu orang, tetapi juga mencerminkan kemarahan publik terhadap apa yang mereka pandang sebagai campur tangan asing dan penghinaan terhadap martabat nasional.
Demonstran Tolak Campur Tangan Trump
Selain menuntut kembalinya Maduro, aksi massa ini juga dimaksudkan untuk menolak campur tangan Amerika Serikat dalam urusan internal Venezuela.
Para pengunjuk rasa menilai operasi militer AS yang menangkap Maduro sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional.
Narasi anti-imperialisme menjadi pesan utama yang terus digaungkan sepanjang aksi, baik melalui orasi politik maupun slogan-slogan yang dibentangkan di jalanan ibu kota.
Tujuan lain dari demonstrasi ini adalah menunjukkan solidaritas dan konsolidasi kekuatan pendukung Partai Persatuan Sosialis Venezuela (PSUV).
Dengan melibatkan ribuan massa, termasuk pekerja sektor publik, pemerintah ingin memperlihatkan bahwa basis pendukung Maduro masih solid dan tetap setia pada garis politik “Chavista”, meskipun kepemimpinan nasional kini dijalankan oleh Presiden sementara Delcy Rodríguez.
Di sisi internal, demo juga berfungsi sebagai alat legitimasi politik bagi pemerintahan sementara.