Korban Tewas Protes Iran Capai 45 Orang, Pemerintah Matikan Internet dan Telepon
NetBlocks, bersama perusahaan teknologi CloudFlare, melaporkan adanya pemutusan akses komunikasi secara total di berbagai kota besar di Iran
Penulis:
Bobby W
Editor:
Tiara Shelavie
Upaya ini diketahui NetBlocks melalui terputusnya sambungan akses sambungan internet ke Iran yang dilacak dari server Cloudflare di Dubai.
Selain itu, NetBlocks juga melaporkan gagalnya upaya yang mereka lakukan untuk menghubungi telepon rumah dan telepon seluler dari Dubai ke Iran.
Gangguan seperti ini di masa lalu sering diikuti oleh tindakan keras pemerintah.
Meskipun otoritas Iran belum memberikan pernyataan resmi, tindakan ini diduga kuat merupakan upaya pemerintah untuk meredam koordinasi massa, sebagaimana pola yang sering terjadi pada aksi protes sebelumnya.
Seruan Kembalinya Putra Mahkota
Tak hanya permasalahan ekonomi, aksi protes di Iran ini juga mencapai titik baru ketika massa mulai menyuarakan tuntutan politiknya.
Di Provinsi Fars, demonstran merobohkan patung Jenderal Qasem Soleimani sebagai bentuk penolakan terhadap pemerintah.
Sementara itu, di Teheran, warga turun ke jalan setelah adanya seruan dari putra mahkota Iran yang berada di pengasingan, Reza Pahlavi.
Dalam pernyataannya, Pahlavi mendesak rakyat untuk bersatu dan memperingatkan pemerintah bahwa dunia, termasuk Presiden Donald Trump, tengah memantau situasi tersebut.
Yel-yel seperti "Mati untuk diktator!" dan dukungan terhadap kembalinya monarki mulai terdengar di berbagai sudut kota, sebuah tindakan yang di masa lalu dapat dijatuhi hukuman mati.
Presiden Iran, Masoud Peseshkian, mengimbau aparat keamanan untuk menahan diri dan menghindari penggunaan kekerasan.
Baca juga: Maduro Tumbang, Trump Kini Bidik Iran: Teheran Akan Dihantam Serangan Keras Jika Bunuhi Demonstran
Ia menekankan pentingnya toleransi, dialog, dan partisipasi dalam mendengarkan tuntutan rakyat.
Di sisi lain, media garis keras seperti surat kabar Kayhan melaporkan bahwa pasukan keamanan akan menggunakan pesawat nirawak (drone) untuk mengidentifikasi para peserta aksi.
Meskipun skala demonstrasi ini belum menyamai protes "Woman, Life, Freedom" tahun 2022, gerakan ini dianggap sebagai ujian terbesar bagi stabilitas Republik Islam Iran dalam tiga tahun terakhir.
(Tribunnews.com/Bobby)
Baca tanpa iklan