Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Korban Tewas Protes Iran Capai 45 Orang, Pemerintah Matikan Internet dan Telepon

NetBlocks, bersama perusahaan teknologi CloudFlare, melaporkan adanya pemutusan akses komunikasi secara total di berbagai kota besar di Iran

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Bobby W
Editor: Tiara Shelavie
zoom-in Korban Tewas Protes Iran Capai 45 Orang, Pemerintah Matikan Internet dan Telepon
HO/IST/Tangkap Layar/RNTV
GELOMBANG PROTES - Para pemilik toko dan pedagang melakukan protes di jalanan memprotes buruknya kondisi ekonomi dan mata uang Iran yang sedang terpuruk di Teheran pada 29 Desember 2025.  Gelombang protes massal di Iran telah memasuki hari ke-12 berturut-turut pada Kamis malam (8/1/2026).Berdasarkan laporan organisasi Hak Asasi Manusia Iran (IHR) yang berbasis di Norwegia, setidaknya 45 pengunjuk rasa, termasuk delapan anak-anak, telah tewas sejak demonstrasi dimulai akhir Desember lalu. 
Ringkasan Berita:
  • Protes massal di Iran memasuki hari ke-12, sedikitnya 45 demonstran tewas dan lebih dari 2.000 orang ditangkap
  • Protoes dipicu krisis ekonomi parah akibat anjloknya nilai Rial, lonjakan harga pangan hingga 70 persen, dan obat-obatan sekitar 50 persen
  • Pemerintah Iran memutus akses internet dan telepon untuk batasi koordinasi dan penyebaran informasi antar demonstran
  • Tuntutan berkembang ke arah politik, termasuk seruan jatuhkan rezim Ali Khamenei hingga dukungan kembalinya monarki melalui seruan Reza Pahlavi

TRIBUNNEWS.COM - Gelombang protes massal di Iran telah memasuki hari ke-12 berturut-turut pada Kamis malam (8/1/2026).

Demonstrasi yang dipicu oleh krisis ekonomi hebat ini telah meluas ke 31 provinsi di seluruh penjuru Iran dan meningkatkan tekanan signifikan terhadap kepemimpinan politik pemerintahan Ali Khamenei

Aksi ini sendiri dipicu oleh depresiasi mata uang domestik Rial Iran yang menurun drastis serta kemerosotan ekonomi masyarakat Iran secara umum . 

Masyarakat kini kesulitan memenuhi kebutuhan hidup karena harga pangan melonjak hingga 70?n harga obat-obatan naik sekitar 50 persen dibanding tahun lalu.

Pemerintah Iran berdalih bahwa krisis ini sebagian besar berada di luar kendali mereka dan menyalahkan sanksi keras negara-negara Barat terkait program nuklir Iran.

Meski telah menghapus subsidi nilai tukar bagi importir untuk memberantas korupsi, langkah tersebut justru memicu lonjakan harga barang konsumsi di pasar.

Menurunnya standar hidup secara drastis ini pun memicu amukan massa di seluruh Iran.

Rekomendasi Untuk Anda

Sayangnya, aksi untuk menyurakan protes kepada pemerintahan Iran ini ditanggapi dengan langkah opresif dan fatal dari Pemerintah Iran.

Berdasarkan laporan organisasi Hak Asasi Manusia Iran (IHR) yang berbasis di Norwegia, setidaknya 45 pengunjuk rasa, termasuk delapan anak-anak, telah tewas sejak demonstrasi dimulai akhir Desember lalu.

Rabu lalu (7/1/2026) tercatat sebagai hari paling berdarah dengan 13 korban jiwa dan lebih dari 2.000 warga Iran ditangkap oleh pemerintah. 

Namun demikian, media domestik milik pemerintah Iran hanya menyebutkan jumlah korban tewas sebanyak 21 orang, termasuk dari pihak personel keamanan.

Pemutusan Akses Internet dan Telepon

DEMONSTRASI DI IRAN - Gelombang protes besar-besaran telah terjadi di Iran sejak Minggu (28/12/2025) lalu.
DEMONSTRASI DI IRAN - Gelombang protes besar-besaran telah terjadi di Iran sejak Minggu (28/12/2025) lalu. (Tangkapan Layar YouTube Al Jazeera)

Baca juga: Teheran Kecam Dukungan Trump untuk Demonstran Iran: AS Jangan Ikut Campur Urusan Domestik Kami

Guna memutus rangkaian protes tersebut, berbagai upaya dilakukan oleh Pemerintah Iran.

Salah satu di antaranya mematikan akses komunikasi di seluruh Iran sebagai upaya pembatasan penyebaran informasi antar pengunjuk rasa.

Dikutip dari Euronews, Lembaga pemantau kebebasan internet, NetBlocks, bersama perusahaan teknologi CloudFlare, melaporkan adanya pemutusan akses komunikasi secara total di berbagai kota besar di Iran, termasuk di Teheran dan Kermanshah.

Pemutusan akses komunikasi tersebut diduga dilakukan oleh pemerintahan Ali Khamenei dengan mematikan sambungan Internet dan Telepon

Upaya ini diketahui NetBlocks melalui terputusnya sambungan akses sambungan internet ke Iran yang dilacak dari server Cloudflare di Dubai.

Selain itu, NetBlocks juga melaporkan gagalnya upaya yang mereka lakukan untuk menghubungi telepon rumah dan telepon seluler dari Dubai ke Iran

Gangguan seperti ini di masa lalu sering diikuti oleh tindakan keras pemerintah.

Meskipun otoritas Iran belum memberikan pernyataan resmi, tindakan ini diduga kuat merupakan upaya pemerintah untuk meredam koordinasi massa, sebagaimana pola yang sering terjadi pada aksi protes sebelumnya.

Seruan Kembalinya Putra Mahkota

PUTRA SHAH IRAN - Tangkapan layar YouTube Official Reza Pahlavi diambil pada Rabu (25/6/2025), memperlihatkan Putra Shah Iran terakhir, Reza Pahlavi, mengatakan rezim Iran Ali Khamenei akan segera tumbang, dalam tayangan pada 18 Juni 2025.
PUTRA SHAH IRAN - Tangkapan layar YouTube Official Reza Pahlavi diambil pada Rabu (25/6/2025), memperlihatkan Putra Shah Iran terakhir, Reza Pahlavi, mengatakan rezim Iran Ali Khamenei akan segera tumbang, dalam tayangan pada 18 Juni 2025. (YouTube Official Reza Pahlavi)

Tak hanya permasalahan ekonomi, aksi protes di Iran ini juga mencapai titik baru ketika massa mulai menyuarakan tuntutan politiknya.

Di Provinsi Fars, demonstran merobohkan patung Jenderal Qasem Soleimani sebagai bentuk penolakan terhadap pemerintah.

Sementara itu, di Teheran, warga turun ke jalan setelah adanya seruan dari putra mahkota Iran yang berada di pengasingan, Reza Pahlavi.

Dalam pernyataannya, Pahlavi mendesak rakyat untuk bersatu dan memperingatkan pemerintah bahwa dunia, termasuk Presiden Donald Trump, tengah memantau situasi tersebut.

Yel-yel seperti "Mati untuk diktator!" dan dukungan terhadap kembalinya monarki mulai terdengar di berbagai sudut kota, sebuah tindakan yang di masa lalu dapat dijatuhi hukuman mati.

Presiden Iran, Masoud Peseshkian, mengimbau aparat keamanan untuk menahan diri dan menghindari penggunaan kekerasan.

Baca juga: Maduro Tumbang, Trump Kini Bidik Iran: Teheran Akan Dihantam Serangan Keras Jika Bunuhi Demonstran

Ia menekankan pentingnya toleransi, dialog, dan partisipasi dalam mendengarkan tuntutan rakyat.

Di sisi lain, media garis keras seperti surat kabar Kayhan melaporkan bahwa pasukan keamanan akan menggunakan pesawat nirawak (drone) untuk mengidentifikasi para peserta aksi.

Meskipun skala demonstrasi ini belum menyamai protes "Woman, Life, Freedom" tahun 2022, gerakan ini dianggap sebagai ujian terbesar bagi stabilitas Republik Islam Iran dalam tiga tahun terakhir.

(Tribunnews.com/Bobby)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas