Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam, Pasar Ketar-Ketir Pantau Dinamika AS–Venezuela
Harga minyak dunia melonjak tajam seiring ketegangan AS–Venezuela. Pasar waswas antara risiko geopolitik dan potensi banjir pasokan minyak global.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Ringkasan Berita:
- Harga minyak dunia melonjak tajam didorong risiko geopolitik dan dinamika AS–Venezuela, dengan Brent naik 0,95 persen dan WTI menguat 0,9 persen pada akhir pekan.
- Pasar bereaksi fluktuatif karena rencana transfer minyak Venezuela ke AS memicu kekhawatiran sekaligus harapan tambahan pasokan jika sanksi dilonggarkan.
- Analis menilai kenaikan bersifat sementara, sebab kontribusi produksi Venezuela masih kecil dan pasokan minyak global dinilai tetap relatif longgar dalam jangka menengah.
TRIBUNNEWS.COM - Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan akhir pekan ini, buntut meningkatnya risiko geopolitik serta dinamika hubungan AS dan Venezuela.
Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent naik 59 sen atau 0,95 persen menjadi 62,58 dolar AS per barel pada penutupan perdagangan Jumat (9/1/2026)
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melesat 54 sen atau 0,9 persen ke level 58,30 dolar AS per barel.
Kedua acuan harga tersebut telah melonjak lebih dari 3 persen, setelah sempat melemah selama dua hari berturut-turut.
Secara mingguan, Brent diperkirakan mencatat kenaikan sekitar 3 persen, sedangkan WTI menguat 1,7 persen, menandai pemulihan harga yang cukup solid.
Ketegangan Geopolitik Jadi Pemicu Awal
Adapun lonjakan harga minyak mulai terlihat sejak awal pekan, ketika pasar mulai menghitung potensi dampak langkah Amerika Serikat di Venezuela.
Di mana pada awal pekan kemarin Presiden AS Donald Trump membidik transfer antara 30 hingga 50 juta barel minyak mentah Venezuela ke Amerika Serikat.
Trump menggambarkan kesepakatan ini sebagai peluang ekonomi sekaligus langkah kemanusiaan.
Menurunnya, hasil penjualan minyak akan dijual dengan harga pasar dan pendapatannya dikendalikan langsung oleh pemerintah AS untuk memastikan dana tersebut digunakan bagi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat.
Namun, ekspektasi tersebut justru membatasi ruang kenaikan harga, karena pasar mulai mengantisipasi tambahan pasokan baru jika sanksi terhadap Venezuela dilonggarkan secara selektif.
Baca juga: Terungkap! Ini Alasan Trump Ngotot Kuasai Minyak Venezuela, Bukan Sekadar Bisnis Energi
Meski Venezuela saat ini hanya menyumbang sebagian kecil dari total pasokan global, negara itu memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.
Setiap prospek perubahan besar pada produksi atau aliran minyaknya membuka ketidakpastian tentang bagaimana minyak tersebut akan didistribusikan atau diperdagangkan ke depan.
Ketidakpastian ini membuat harga dunia bergerak naik dan turun (fluktuatif) karena trader dan investor menilai dampaknya secara terus-menerus.
Hal tersebut menyebabkan harga minyak bergerak fluktuatif, karena kekuatan pasar berupaya menyeimbangkan antara risiko geopolitik yang meningkat dan realitas pasokan yang masih mencukupi.
Faktor Pendukung Menahan Tekanan Penurunan
Meski dihadapkan pada potensi lonjakan pasokan, analis pasar energi meyakini bahwa kenaikan harga akibat konflik semacam ini cenderung bersifat sementara, dan bukan jaminan bahwa harga akan terus naik dalam jangka panjang.