UEA Hapus Program Beasiswa ke UK: Inggris Kini Jadi Sarang Islam Radikal
Kekhawatiran utama Abu Dhabi adalah tren organisasi islam radikal di Inggris yang kian merajalela.
Penulis:
Bobby W
Editor:
Endra Kurniawan
Namun demikian, mahasiswa baru yang memulai perkuliahan di Inggris pada tahun ajaran baru 2025 akan menghadapi keterbatasan atau bahkan kehilangan akses pendanaan pemerintah sepenuhnya.
Dampak dari kebijakan ini sudah mulai terasa secara nyata.
Hingga September 2025, hanya 213 mahasiswa UEA yang diberikan visa untuk belajar di universitas Inggris.
Angka ini menandai penurunan sebesar 27 persen dari tahun sebelumnya, dan merosot tajam hingga 55 persen dibandingkan tahun 2022.
Selain pembatasan beasiswa, UEA juga menyatakan bahwa kualifikasi dari universitas yang tidak masuk dalam daftar resmi tidak akan diakui secara domestik.
Hal ini pun menurunkan nilai gelar dari Inggris bagi warga UEA yang ingin mencari pekerjaan atau melanjutkan studi di negara asal mereka.
Ikhwanul Muslimin Jadi Akar Masalah
Adapun langkah UEA untuk menghapus beasiswa ke Inggris ini didasari dengan kekhawatiran jangka panjang terhadap gerakan radikal islam di Britania, khususnya dari kelompok yang terafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin.
Sejak gejolak Arab Spring pada 2011, Abu Dhabi telah menerapkan kontrol ketat terhadap aktivitas kelompok tersebut di dalam negeri dan berupaya membatasi pengaruh politik Islam di kawasan Emirat.
Di bawah kepemimpinan Presiden Syekh Mohammed bin Zayed al-Nahyan, UEA juga telah berulang kali mempertanyakan keputusan Inggris yang tidak melarang kegiatan organisasi Ikhwanul Muslimin.
Data resmi Inggris menunjukkan bahwa selama tahun akademik 2023-2024, terdapat 70 mahasiswa di universitas-universitas Inggris yang dirujuk ke program deradikalisasi pemerintah, Prevent, karena indikasi "radikalisasi Islam".
Jumlah ini naik hampir dua kali lipat dari periode yang sama di tahun sebelumnya.
Baca juga: Arab Saudi-UEA Panas di Yaman Seusai STC Rebut Hadramaut, Emir Qatar Turun Tangan Jadi Penengah
Beberapa akademisi Inggris mencatat bahwa peristiwa global seperti konflik Israel-Gaza turut memicu ketegangan dan protes di lingkungan kampus.
Meskipun tensi politik sedang memanas, Inggris sendiri masih terus memperluas jejak pendidikannya di UEA.
Beberapa universitas ternama seperti University of Manchester dan Heriot-Watt University tetap mengoperasikan kampus cabang mereka di Dubai.
(Tribunnews.com/Bobby)
Baca tanpa iklan