Trump Tolak Saran Ekstrem Zelenskyy, Tegaskan Tim Khusus AS Tak Akan Culik Putin seperti Maduro
Trump tolak usulan Zelenskyy untuk menculik Putin. AS pilih jalur diplomasi, khawatir operasi ekstrem picu eskalasi global di tengah perang Ukraina.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Nuryanti
Ringkasan Berita:
- Trump menolak saran Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy agar AS menangkap atau menculik Presiden Rusia Vladimir Putin, karena berisiko memicu eskalasi global berbahaya.
- Penolakan Trump didasari pertimbangan diplomasi dan stabilitas global, karena operasi terhadap pemimpin negara berkekuatan nuklir seperti Rusia berpotensi menyeret NATO ke konflik luas.
- Meski menolak langkah ekstrem, Trump mengakui frustrasi atas perang Ukraina–Rusia, menyoroti tingginya korban jiwa dan tekanan ekonomi Rusia.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menegaskan sikap kerasnya terkait konflik Rusia dan Ukraina, dengan menolak saran Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Donald Trump secara tegas menolak saran Volodymyr Zelenskyy bahwa Washington dapat menangkap Presiden Rusia Vladimir Putin merujuk pada operasi militer Amerika Serikat yang baru-baru ini berujung pada penangkapan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro.
“Saya tidak berpikir itu akan diperlukan,” kata Trump menanggapi apakah AS akan meluncurkan misi militer untuk menangkap Putin.
Pernyataan Trump ini muncul di tengah rasa frustrasi atas perang Rusia–Ukraina yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun dan belum menemukan titik akhir.
Dalam keterangan resmi yang dikutip dari Fox News, Presiden Amerika Serikat Donald menilai langkah tersebut tidak diperlukan, tidak proporsional, dan berisiko memicu eskalasi global yang jauh lebih berbahaya.
Trump Khawatir Perang Berkelanjutan
Sikap itu didasari pandangan Trump bahwa konflik Rusia–Ukraina masih memiliki ruang untuk diselesaikan melalui jalur negosiasi dan diplomasi, bukan melalui operasi militer ekstrem terhadap kepala negara dari kekuatan nuklir utama dunia.
Selain faktor diplomasi, Trump juga mempertimbangkan risiko eskalasi global.
Operasi terhadap Putin berpotensi memicu respons militer Rusia, memperluas konflik ke luar Ukraina, dan menyeret NATO serta sekutu Barat ke dalam krisis keamanan berskala dunia.
Dalam skenario terburuk, langkah tersebut dapat meningkatkan ancaman penggunaan senjata strategis, sesuatu yang selama ini berusaha dihindari oleh Washington.
Baca juga: Analis Peringatkan Eropa: Ambisi AS atas Greenland Berisiko Lemahkan NATO dan Untungkan Rusia
Trump juga menilai bahwa penculikan pemimpin negara berdaulat akan menimbulkan konsekuensi hukum internasional dan preseden berbahaya dalam tatanan global.
Langkah semacam itu dapat melemahkan norma internasional, merusak stabilitas geopolitik, dan justru memperumit upaya penyelesaian perang yang ingin segera diakhiri.
Dengan demikian, penolakan Trump bukan semata-mata bentuk pembelaan terhadap Putin, melainkan cerminan kalkulasi strategis Amerika Serikat.
Trump memandang bahwa menekan Rusia melalui diplomasi, negosiasi, dan mekanisme politik internasional tetap menjadi opsi yang lebih efektif dan aman dibandingkan tindakan militer ekstrem yang berisiko memicu konflik global berskala besar.
Trump Kecewa Perang Ukraina Tak Kunjung Usai
Meski menepis gagasan tersebut, Trump tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya terhadap kelanjutan konflik Ukraina yang terus berlarut tanpa tanda-tanda penyelesaian,
Dalam pernyataannya, Trump menyoroti kerugian besar, tingginya korban di medan perang serta tekanan ekonomi yang menurutnya semakin membebani Moskow, sebagai gambaran bahwa konflik Ukraina–Rusia justru bergerak ke arah yang semakin memburuk.