Iran Respons Ancaman Intervensi Militer dari Trump: Jangan Anggap Serius Ucapannya
Iran menepis ancaman militer Donald Trump dan memperingatkan AS soal pembalasan, di tengah sinyal diplomasi diam-diam.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Endra Kurniawan
Ghalibaf juga menyatakan bahwa seluruh pangkalan dan pasukan Amerika di kawasan akan menjadi target sah Iran jika Washington melakukan aksi militer.
“Datang dan lihat bagaimana semua kemampuan Anda di wilayah ini akan dimusnahkan,” ujarnya.
Nada serupa disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Ia menyebut situasi di dalam negeri Iran sepenuhnya terkendali, namun menegaskan bahwa negaranya siap menghadapi perang jika Amerika Serikat tidak mau terlibat dalam pembicaraan yang adil.
“Republik Islam tidak mencari perang, tetapi sepenuhnya siap untuk perang,” kata Araghchi kepada para duta besar asing di Teheran.
Ia menambahkan Iran tetap terbuka untuk bernegosiasi, asalkan pembicaraan dilakukan atas dasar kesetaraan dan saling menghormati.
Baca juga: Perbandingan Kekuatan Militer Amerika Serikat Vs Iran yang di Ambang Perang
Di tengah pernyataan keras tersebut, laporan Axios menyebut Araghchi telah menghubungi utusan khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, pada akhir pekan lalu.
Menurut sumber yang mengetahui pembicaraan itu, langkah tersebut bertujuan untuk meredakan ketegangan dan membuka kemungkinan pertemuan dalam waktu dekat.
Sikap yang tampak bertolak belakang ini mencerminkan dilema yang dihadapi Teheran, seiring berlanjutnya protes nasional di berbagai wilayah Iran.
Pada saat yang sama, Washington juga disebut masih mempertimbangkan langkah lanjutan beserta dampak yang mungkin ditimbulkan.
Sejumlah kesaksian dan video yang ditinjau Iran International menunjukkan penggunaan kekuatan mematikan secara luas dalam penanganan demonstrasi.
Sedikitnya 2.000 orang dilaporkan tewas sejak gelombang protes dimulai.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)