Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Iran Respons Ancaman Intervensi Militer dari Trump: Jangan Anggap Serius Ucapannya

Iran menepis ancaman militer Donald Trump dan memperingatkan AS soal pembalasan, di tengah sinyal diplomasi diam-diam.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Iran Respons Ancaman Intervensi Militer dari Trump: Jangan Anggap Serius Ucapannya
Kolase Tribunnews.com
IRAN VS AMERIKA. Kolase foto dari HO/IST/Tangkap Layar/RNTV dan Tangkap layar YouTube The White House 10 Januari 2026, menunjukkan Presiden AS Donald Trump saat menggelar pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak dan gas, 10 Januari 2026 dan protes di Teheran pada 29 Desember 2025. Pejabat tinggi Iran menanggapi ancaman terbaru dari Trump dengan menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak perlu dianggap serius. 
Ringkasan Berita:
  • Pejabat Iran menepis ancaman militer Donald Trump dan meminta agar pernyataannya tidak dianggap serius.
  • Teheran memperingatkan akan membalas serangan apa pun dari AS, namun tetap membuka jalur diplomatik.
  • Ketegangan meningkat di tengah protes nasional dan laporan ribuan korban tewas.

 

TRIBUNNEWS.COM - Pejabat tinggi Iran menanggapi ancaman terbaru Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dengan menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak perlu dianggap serius.

Sikap itu disampaikan meski Teheran secara terbuka memperingatkan akan membalas jika Washington melancarkan serangan terhadap Iran.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mengatakan Trump sering melontarkan ancaman tanpa tindak lanjut yang jelas.

Ia menilai pernyataan semacam itu sudah sering terjadi.

“Trump kerap mengatakan hal-hal seperti ini. Jangan anggap serius ucapannya,” kata Larijani, seperti dikutip kantor berita pemerintah IRNA, Rabu (14/1/2026)

Larijani menambahkan bahwa Iran telah berulang kali menunjukkan ketegasannya dalam menghadapi Amerika Serikat dan Israel.

Rekomendasi Untuk Anda

Pernyataan itu muncul setelah Trump menyebut Washington sedang mempertimbangkan “opsi-opsi kuat”, termasuk kemungkinan intervensi militer, sebagai respons atas penanganan protes di Iran.

Meski retorika publik kedua negara semakin keras, Iran juga disebut masih membuka jalur diplomatik untuk mencegah konflik terbuka.

Pada Senin (12/1/2026), sejumlah pejabat senior Iran secara bersamaan menyampaikan peringatan kepada Amerika Serikat, sekaligus menolak klaim Trump bahwa Washington siap melindungi para demonstran Iran.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan bahwa setiap serangan dari Amerika akan memicu respons besar di kawasan.

Dalam rapat umum yang disponsori pemerintah di Teheran, Ghalibaf secara langsung menanggapi pernyataan Trump.

“Kami telah mendengar bahwa Anda mengancam Iran,” ujar Ghalibaf.

Baca juga: Trump Perintahkan Warganya Angkat kaki dari Iran, Sinyal Serangan Semakin Dekat?

Ia menegaskan bahwa para pembela Iran akan memberikan respons keras jika ancaman tersebut diwujudkan.

“Para pembela Iran akan memberi Anda pelajaran yang tak terlupakan,” katanya.

Ghalibaf juga menyatakan bahwa seluruh pangkalan dan pasukan Amerika di kawasan akan menjadi target sah Iran jika Washington melakukan aksi militer.

“Datang dan lihat bagaimana semua kemampuan Anda di wilayah ini akan dimusnahkan,” ujarnya.

Nada serupa disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

Ia menyebut situasi di dalam negeri Iran sepenuhnya terkendali, namun menegaskan bahwa negaranya siap menghadapi perang jika Amerika Serikat tidak mau terlibat dalam pembicaraan yang adil.

“Republik Islam tidak mencari perang, tetapi sepenuhnya siap untuk perang,” kata Araghchi kepada para duta besar asing di Teheran.

Ia menambahkan Iran tetap terbuka untuk bernegosiasi, asalkan pembicaraan dilakukan atas dasar kesetaraan dan saling menghormati.

Baca juga: Perbandingan Kekuatan Militer Amerika Serikat Vs Iran yang di Ambang Perang

Di tengah pernyataan keras tersebut, laporan Axios menyebut Araghchi telah menghubungi utusan khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, pada akhir pekan lalu.

Menurut sumber yang mengetahui pembicaraan itu, langkah tersebut bertujuan untuk meredakan ketegangan dan membuka kemungkinan pertemuan dalam waktu dekat.

Sikap yang tampak bertolak belakang ini mencerminkan dilema yang dihadapi Teheran, seiring berlanjutnya protes nasional di berbagai wilayah Iran.

Pada saat yang sama, Washington juga disebut masih mempertimbangkan langkah lanjutan beserta dampak yang mungkin ditimbulkan.

Sejumlah kesaksian dan video yang ditinjau Iran International menunjukkan penggunaan kekuatan mematikan secara luas dalam penanganan demonstrasi.

Sedikitnya 2.000 orang dilaporkan tewas sejak gelombang protes dimulai.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas