Mata Uang Iran Jatuh Bebas, Apa yang Terjadi jika Rial Kehilangan Nilainya?
Mata uang Iran, rial, berada dalam kondisi jatuh bebas yang memicu krisis ekonomi dan kekhawatiran ketidakstabilan ekonomi.
Penulis:
Whiesa Daniswara
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
Ringkasan Berita:
- Mata uang Iran, rial, mengalami kondisi "terjun bebas" ke titik terendah sepanjang sejarah, yaitu 1,4 juta rial per dolar AS.
- Anjloknya nilai tukar ini memperburuk krisis ekonomi di Teheran dan memicu kekhawatiran akan ketidakstabilan ekonomi jangka panjang di negara tersebut.
- Lantas, apa yang terjadi jika mata uang rial kehilangan nilainya?
TRIBUNNEWS.COM - Mata uang Iran, rial, telah mengalami kondisi "terjun bebas" setelah menyentuh rekor terendah baru terhadap dolar AS.
Dalam laporan terbaru, rial kini anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah yaitu 1,4 juta rial per dolar AS di pasar terbuka.
Anjloknya nilai tukar ini memperburuk krisis ekonomi di Teheran dan memicu kekhawatiran akan ketidakstabilan ekonomi jangka panjang di negara tersebut.
Penurunan terbaru ini terjadi setelah satu tahun lagi mengalami depresiasi tajam.
Lantas, apa yang terjadi jika mata uang rial kehilangan nilainya?
Dalam dinamika ekonomi global yang fluktuatif, istilah "depresiasi mata uang" sering kali muncul sebagai indikator kesehatan ekonomi suatu negara.
Secara sederhana, depresiasi mata uang adalah penurunan nilai sebuah mata uang dalam sistem nilai tukar mengambang terhadap mata uang asing lainnya.
Fenomena ini tidak terjadi begitu saja, melainkan dipicu oleh berbagai faktor fundamental ekonomi dan persepsi pasar di bursa valuta asing.
Mengutip Investopedia, penurunan nilai mata uang sering kali dikaitkan dengan hukum permintaan dan penawaran.
Beberapa pemicu utamanya meliputi:
- Indikator Ekonomi yang Lemah: Angka pertumbuhan ekonomi (PDB) yang rendah atau defisit neraca perdagangan yang membengkak dapat menurunkan kepercayaan investor.
- Perbedaan Suku Bunga: Jika sebuah negara memiliki suku bunga yang lebih rendah dibandingkan negara lain, investor cenderung memindahkan modalnya ke negara dengan imbal hasil lebih tinggi, sehingga permintaan terhadap mata uang lokal menurun.
- Sentimen Pasar dan Geopolitik: Ketidakpastian politik atau risiko konflik sering kali membuat investor melepas mata uang yang dianggap berisiko tinggi.
Baca juga: Demo di Iran Memakan Korban Jiwa 12.000 Orang, Trump: AS Bakal Ambil Tindakan Tegas!
Depresiasi mata uang membawa dampak yang kompleks bagi negara yang mengalaminya.
Di satu sisi, pelemahan mata uang dapat memberikan keuntungan kompetitif bagi eksportir.
Produk dalam negeri menjadi lebih murah di pasar internasional, yang berpotensi meningkatkan volume ekspor.
Namun di sisi lain, depresiasi menjadi kabar buruk bagi importir dan konsumen domestik.
Biaya impor bahan baku akan membengkak, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga barang di dalam negeri atau yang dikenal sebagai inflasi.