Terungkap Kekejaman Aparat Iran dalam Membendung Demonstran, Tembakan Jarak Dekat Sering Digunakan
Dalam sebuah investigasi menyatakan bahwa para aparat di Iran sering menggunakan tembakan jarak dekat untuk membendung aksi demonstrasi.
Penulis:
Whiesa Daniswara
Editor:
Endra Kurniawan
Ringkasan Berita:
- Dalam sebuah investigasi yang dilakukan The Washington Post mengungkapkan kekejaman yang dilakukan aparat Iran dalam membendung demonstran.
- Laporan investigasi ini menyoroti penggunaan kekuatan mematikan yang tidak proporsional oleh pasukan keamanan, termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan pasukan Basij.
- Penyelidikan visual menunjukkan bahwa aparat sering kali melepaskan tembakan jarak dekat ke arah kerumunan massa yang tidak bersenjata.
TRIBUNNEWS.COM - Sebuah investigasi mendalam yang dirilis oleh The Washington Post mengungkap bukti-bukti baru terkait tindakan represif aparat keamanan Iran terhadap warga sipil.
Melalui analisis ratusan video, citra satelit, dan kesaksian medis, laporan tersebut merinci pola kekerasan sistematis yang dilakukan pemerintah untuk memadamkan gelombang protes terbaru di negara tersebut.
Laporan investigasi ini menyoroti penggunaan kekuatan mematikan yang tidak proporsional oleh pasukan keamanan, termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan pasukan Basij.
Penyelidikan visual menunjukkan bahwa aparat sering kali melepaskan tembakan jarak dekat ke arah kerumunan massa yang tidak bersenjata.
Investigasi ini mengandalkan teknik forensik digital untuk memverifikasi lokasi dan waktu kejadian dari video-video yang diunggah ke media sosial.
Hasilnya, ditemukan pola di mana aparat keamanan sengaja mengepung demonstran di area sempit sebelum melakukan penyerangan.
"Data video menunjukkan bahwa ini bukan sekadar tindakan oknum, melainkan strategi terkoordinasi untuk menimbulkan ketakutan," tulis laporan tersebut.
Salah satu bukti paling mencolok adalah rekaman yang menunjukkan penggunaan senapan serbu dan senapan gentel (shotgun) yang diarahkan ke bagian vital tubuh demonstran, seperti wajah dan dada.
Selain kekerasan fisik, investigasi ini juga mengungkap bagaimana pemerintah Iran menggunakan pemutusan akses internet sebagai senjata.
Saat koneksi terputus, intensitas kekerasan di lapangan dilaporkan meningkat tajam karena pengawasan dunia internasional terhadap situasi di dalam negeri menjadi terhambat.
Tim investigasi The Washington Post juga melacak penggunaan teknologi pengenalan wajah yang digunakan aparat untuk mengidentifikasi dan menangkap para pengunjuk rasa beberapa hari setelah aksi protes berakhir.
Baca juga: Iran Siaga Penuh, Tutup Wilayah Udara Usai AS Kerahkan Jet Tempur ke Qatar
Banyak dari mereka yang ditangkap dilaporkan mengalami penyiksaan di pusat-pusat penahanan rahasia.
Kekerasan Telah Berhenti
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengaku telah mendapatkan laporan mengenai situasi saat ini di Iran.
Trump mengatakan sebuah laporan menyebut bahwa kekerasan dan pembunuhan di Iran sudah berhenti.
Pernyataan ini muncul di tengah gelombang protes besar-besaran yang mengguncang berbagai kota di Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Baca tanpa iklan