Dalam 24 Jam, AS Diperkirakan Memulai Invasi Militer ke Iran
Presiden AS Donald Trump tampaknya telah memutuskan untuk campur tangan terhadap Iran meskipun cakupan dan waktu serangannya belum jelas.
Penulis:
Hasanudin Aco
Ringkasan Berita:
- Dua pejabat Eropa pada Rabu (14/1/2026) malam seperti dilansir Reuters mengkonfirmasi kemungkinan Invasi militer Amerika Serikat (AS) ke Iran bisa terjadi dalam 24 jam ke depan
- Presiden AS Donald Trump tampaknya telah memutuskan untuk campur tangan terhadap Iran meskipun cakupan dan waktu serangannya masih belum jelas.
- Kementerian Luar Negeri RI merintahkan Dubes Indonesia di Tehran, Iran, untuk mempersiapkan langkah evakuasi terhadap WNI
TRIBUNNEWS.COM, AS - Invasi militer Amerika Serikat (AS) ke Iran bisa terjadi dalam 24 jam ke depan.
Demikian kata dua pejabat Eropa pada Rabu (14/1/2026) malam, seperti dilaporkan Reuters.
Prediksi itu diperkuat pernyataan seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya seperti dikutip dari JPost.
Media itu memberitakan tampaknya Presiden AS Donald Trump telah memutuskan untuk campur tangan terhadap Iran meskipun cakupan dan waktu serangannya masih belum jelas.
Update situasi di Iran dan sikap AS pagi ini, Kamis 15 Januari 2025:
- Presiden AS Donald Trump menolak untuk mengesampingkan tindakan militer di Iran dengan mengatakan pemerintahannya akan menunggu dan melihat, seperti dikutip dari CNN.
- Beberapa personel AS didesak untuk meninggalkan pangkalan militer AS di Qatar sebagai "tindakan pencegahan," menurut sumber yang dikutip CNN. Beberapa negara telah mendesak warganya untuk meninggalkan Iran.
- Inggris juga menarik sebagian personel dari pangkalan udara di Qatar menjelang kemungkinan serangan oleh Amerika Serikat
- Sementara beberapa maskapai penerbangan mengalihkan rute penerbangan untuk menghindari wilayah udara Iran.
- Termasuk Lufthansa Group telah mengumumkan bahwa maskapai penerbangannya akan menghindari wilayah udara Iran dan Irak di tengah meningkatnya ancaman serangan militer AS ke Iran
- Perusahaan Jerman tersebut, yang mengoperasikan beberapa maskapai penerbangan termasuk Lufthansa, SWISS, Austrian Airlines, Brussels Airlines, dan Eurowings, juga mengatakan akan menghindari penerbangan malam ke dan dari Bandara Ben Gurion Tel Aviv Israel karena "situasi terkini di Timur Tengah," seperti dikutip dari Newsweek.
- Setidaknya 2.400 demonstran telah tewas di Iran dalam beberapa hari terakhir menurut sebuah kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, dan pemadaman internet masih berlangsung. Suasana di Teheran "sangat mencekam dan tegang," kata seorang warga kepada CNN .
- Televisi pemerintah Iran mengeluarkan ancaman untuk membunuh Trump pada hari Rabu, memperingatkan bahwa "kali ini, peluru itu tidak akan meleset."
- Para pejabat Iran dan media pemerintah telah berulang kali mengeluarkan ancaman terhadap Trump sejak serangan pesawat tak berawak AS yang menewaskan Jenderal Qassem Soleimani pada Januari 2020 .
- Iran tetap berada di bawah pengamanan ketat, dengan sumber-sumber menggambarkan suasana sebagai tegang dan penuh ketakutan.
- Iran memasuki hari keenam pemadaman internet nasional, yang diperkirakan akan berlangsung satu hingga dua minggu.
- Protes dimulai pada 28 Desember karena runtuhnya nilai mata uang, tetapi kemudian berkembang menjadi seruan untuk mengakhiri pemerintahan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
- Negara-negara Eropa, termasuk Prancis, Spanyol, Finlandia, Belgia, Jerman, dan Inggris, telah memanggil utusan Iran terkait kekerasan tersebut.
Kemlu RI siapkan evakuasi WNI di Iran
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Sugiono telah memerintahkan Dubes Indonesia di Tehran, Iran, untuk mempersiapkan langkah evakuasi jika situasi di negara tersebut kian memburuk dan mengancaman keselamatan warga negara Indonesia (WNI).
Pemerintah Iran saat ini sedang menghadapi aksi demonstrasi dari serikat pekerja dan ekonomi yang terdiri dari beberapa pengusaha dan pedagang di Teheran.
"Saya sudah menyampaikan kepada Dubes kita di Teheran untuk mempersiapkan langkah-langkah jika sewaktu-waktu evakuasi itu perlu dilakukan," kata Sugiono saat ditemui di Gedung Kemlu RI, Jakarta Pusat, Rabu (14/1/2026).
Demonstrasi besar di Iran dipicu melemahnya nilai mata uang Iran yang berdampak terhadap kegiatan bisnis dan daya beli masyarakat.
Saat ini, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) masih belum melihat situasi di Iran mengharuskan adanya evakuasi bagi para WNI yang ada di sana.
Sebab aksi demonstrasi besar yang terjadi di Iran hanya berpusat pada sejumlah titik.
Baca tanpa iklan