Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Eks Bos Intelijen Israel Akui Rezim Iran Tetap Kuat dan Solid: Berdaya Tahan

Eks Bos Intelijen Israel Amos Yadlin mengakui bahwa rezim Iran tetap solid dan berdaya tahan.

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Nuryanti
zoom-in Eks Bos Intelijen Israel Akui Rezim Iran Tetap Kuat dan Solid: Berdaya Tahan
shafaq/tangkap layar
IRGC IRAN - (Ilustrasi) Kolompok pasukan perempuan yang menjadi personel Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Eks Bos Intelijen Israel Amos Yadlin mengakui bahwa rezim Iran tetap solid dan berdaya tahan. 
Ringkasan Berita:
  • Mantan Kepala Intelijen Militer Israel, Amos Yadlin, mengakui bahwa rezim Iran tetap kuat dan solid.
  • Hal ini bertentangan dengan narasi media Israel yang menggambarkan pemerintahan Iran melemah di tengah gejolak.
  • Diketahui protes besar-besaran di Iran sejak 28 Desember 2025 dipicu krisis ekonomi, termasuk anjloknya nilai rial, inflasi tinggi, dan lonjakan harga kebutuhan pokok, yang menyebabkan ratusan korban jiwa.

TRIBUNNEWS.COM - Seorang mantan pejabat tinggi intelijen Israel, Amos Yadlin, mengakui bahwa rezim Iran tetap solid dan berdaya tahan.

Pernyataannya tersebut berlawanan dengan narasi yang berkembang di media Israel dalam beberapa pekan terakhir, terutama di tengah memanasnya situasi di Iran.

Diketahui Iran tengah memanas, demo besar-besaran terjadi, protes rakyat dimulai pada 28 Desember 2025, terutama sebagai reaksi terhadap keruntuhan nilai mata uang rial, inflasi tinggi, dan melonjaknya harga kebutuhan pokok.

Aksi demonstrasi tersebut pun membuat ratusan korban jiwa berjatuhan.

Di tengah gejolak rakyat, tampak narasi yang beredar di media makin kompleks usai Amerika Serikat (AS) dinilai campur tangan, termasuk soal cuitan Presiden AS Donald Trump yang meminta rakyat Iran untuk terus berdemo.

Sementara itu soal pengakuan eks petinggi intelijen Israel tersebut dinilai mengekspos kekeliruan penilaian serta bias dalam pemberitaan mengenai kondisi internal Iran.

Amos Yadlin, yang merupakan mantan Kepala Intelijen Militer Israel menyatakan bahwa analisis yang beredar di media Israel terkait melemahnya pemerintahan Iran tidak mencerminkan realitas di lapangan.

Rekomendasi Untuk Anda

Dalam pernyataannya yang dikutip Channel 13, Yadlin menegaskan bahwa otoritas Iran masih sangat kuat dan mampu mempertahankan stabilitas negara.

“Rezim Iran sangat kuat dan telah turun ke jalan,” ujar Yadlin.

Ia menekankan bahwa interpretasi sejumlah komentator berbahasa Persia yang menggambarkan adanya keretakan serius dalam tubuh pemerintahan Iran tidak sesuai dengan fakta.

Menurutnya, kohesi internal dan kemampuan negara untuk merespons perkembangan terbaru justru menunjukkan kekuatan struktural yang signifikan.

Baca juga: Kali Ini Peluru Tak Akan Meleset, Ancaman Pembunuhan Trump di Tengah Niat AS Serang Iran

Sementara itu, pemerintah Iran menyatakan bahwa kerusuhan yang terjadi baru-baru ini bukanlah murni protes damai, melainkan telah disusupi oleh aksi kekerasan dan sabotase.

Teheran menuding kelompok teroris dan separatis yang didukung oleh badan intelijen Israel, Mossad, serta Amerika Serikat berada di balik eskalasi kekerasan tersebut.

Pihak berwenang Iran menegaskan telah memiliki bukti atas keterlibatan pihak asing, yang diklaim telah dikonfirmasi melalui penyelidikan awal.

Pemerintah Iran juga mengkritik pernyataan Donald Trump, yang dinilai sebagai hasutan terhadap kekerasan alih-alih dukungan terhadap demonstrasi damai.

IRGC Lancarkan Operasi

Dalam perkembangan terkait, Organisasi Intelijen Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah melancarkan operasi pre-emptive terhadap apa yang disebut sebagai “jaringan tempur musuh.”

Operasi tersebut menargetkan aktivitas lapangan serta jaringan pendukung keuangan dan persenjataan, yang disebut menghasilkan capaian signifikan.

IRGC mengklaim telah menangkap seorang penghubung utama antara “organisasi Shahanshahi” dan Israel di wilayah selatan Iran.

Selain itu, sebanyak 31 orang yang dituduh bekerja sama dengan Mossad ditangkap, serta jaringan operasional di sembilan provinsi berhasil dibongkar.

Dinas intelijen IRGC juga mengungkap telah menerima sekitar 400.000 laporan dari masyarakat, yang berkontribusi pada penangkapan para terduga penyabot dalam demo Iran.

Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi, sebelumnya menyatakan bahwa banyak serangan baru-baru ini merupakan tindakan sabotase dan upaya subversi yang direncanakan secara matang.

Di sisi lain, Iran menegaskan kembali persatuan nasional di tengah situasi tersebut.

Korban Tewas Kerusuhan Dimakamkan

Sementara itu pada Rabu (14/1/2026), prosesi pemakaman digelar di Teheran untuk sekitar 300 warga yang tewas selama kerusuhan, termasuk personel keamanan dan warga sipil, mengutip Al Mayadeen.

Prosesi berlangsung dari Universitas Teheran menuju Persimpangan Valiasr dan dihadiri oleh delegasi resmi serta masyarakat luas.

Dilaporkan bahwa para peserta membawa bendera Iran dan meneriakkan slogan yang mengecam para perusuh.

Menampilkan apa yang disebut sebagai simbol kohesi nasional dan solidaritas terhadap Republik Islam Iran.

Selain itu, pada 12 Januari 2026, jutaan warga Iran dilaporkan menggelar aksi protes besar-besaran di berbagai wilayah dengan mengusung tema “Solidaritas Nasional dan Menghormati Perdamaian dan Persahabatan.” 

Aksi tersebut mengecam kerusuhan bersenjata dan menegaskan dukungan terhadap stabilitas negara.

Para demonstran juga menyuarakan penolakan terhadap campur tangan AS dan Israel dalam urusan domestik Iran.

(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas