Pasukan Khusus Iran Siap Bertindak Tegas, Siaga Hadapi Serangan AS Kapan Saja
IRGC nyatakan siaga penuh hadapi ancaman AS. Penarikan pasukan, desakan Netanyahu, dan tekanan sekutu memicu kekhawatiran perang besar Timur Tengah.
Penulis:
Namira Yunia Lestanti
Editor:
Garudea Prabawati
Meski demikian, sumber lain mengingatkan bahwa dinamika kebijakan luar negeri AS di bawah Presiden Donald Trump kerap diwarnai ketidakpastian strategis.
Karakter kepemimpinan Trump yang sering mengkombinasikan tekanan militer dengan manuver politik mendadak membuat arah kebijakan sulit diprediksi secara pasti, termasuk apakah ancaman militer akan benar-benar diwujudkan atau digunakan sebagai alat tekanan diplomatik.
Kondisi tersebut semakin memperuncing ketegangan regional, mendorong Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meningkatkan status kewaspadaan.
Netanyahu Minta Trump Tahan Diri
Di tengah meningkatnya ancaman konflik terbuka di Timur Tengah, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menahan diri dan menunda rencana serangan militer terhadap Iran.
Informasi tersebut pertama kali diungkap oleh New York Times, mengutip seorang pejabat senior AS yang mengetahui langsung pembahasan tersebut.
Menurut laporan itu, Netanyahu secara khusus meminta Trump untuk “menunda rencana apa pun” terkait aksi militer terhadap Teheran.
Gedung Putih kemudian mengonfirmasi bahwa kedua pemimpin telah melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon.
Namun, pihak Gedung Putih tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai substansi percakapan tersebut.
Langkah Netanyahu dinilai sebagai upaya untuk menahan eskalasi konflik yang berisiko meluas menjadi perang regional.
Kekhawatiran itu muncul mengingat Iran telah secara terbuka mengancam akan membalas Israel jika Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap wilayahnya, yang berpotensi menempatkan Israel sebagai sasaran utama serangan balasan.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt membenarkan adanya komunikasi antara Trump dan Netanyahu, namun menegaskan bahwa pemerintah AS tidak akan mengungkap isi pembicaraan tersebut kepada publik.
Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Israel hingga kini belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan tersebut.
Tekanan untuk menahan diri juga datang dari sejumlah sekutu utama Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk Qatar, Arab Saudi, Oman, dan Mesir.
Seorang pejabat negara Teluk Arab memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran dapat memicu konflik regional berskala luas yang dampaknya sulit dikendalikan, baik secara politik, keamanan, maupun ekonomi.
Desakan dari Israel dan negara-negara sekutu ini mencerminkan kekhawatiran internasional yang semakin besar terhadap kemungkinan pecahnya perang besar di Timur Tengah, di tengah situasi keamanan yang dinilai semakin rapuh dan penuh ketidakpastian.
(Tribunnews.com / Namira)
Baca tanpa iklan