Meloni vs Takaichi: Dua Kepala Negara, Dua Arah Kebijakan Fiskal
Giorgia Meloni dan Sanae Takaichi sama-sama PM perempuan pertama, tetapi berbeda tajam soal fiskal. Disiplin anggaran versus ekspansi
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Kunjungan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni ke Jepang memicu perbandingan dengan PM Jepang Sanae Takaichi
- Keduanya sama-sama pemimpin perempuan pertama di negaranya, namun menempuh arah kebijakan fiskal yang berlawanan
- Meloni menekankan disiplin anggaran, sementara Takaichi mendorong ekspansi fiskal untuk pertumbuhan
l.Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni tiba di Jepang pada Kamis sore (15/1/2026) untuk kunjungan hingga 17 Januari
. Kehadirannya kerap dibandingkan dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, seiring keduanya dijadwalkan menggelar pertemuan resmi pada Jumat (16/1/2026).
“Keduanya sama-sama perdana menteri perempuan pertama di negaranya dan memiliki sejumlah kesamaan, termasuk sikap tegas terhadap kebijakan imigrasi. Namun dalam kebijakan fiskal, mereka berada di kutub yang berlawanan,” ujar seorang pejabat senior Jepang kepada Tribunnews.com.
Giorgia Meloni dikenal menekankan disiplin fiskal yang ketat. Berangkat dari pengalaman pahit krisis utang Eropa satu dekade lalu, ia meyakini bahwa menjaga kepercayaan pasar keuangan menjadi kunci stabilitas pemerintahan.
Pendekatan ini membuahkan hasil ketika Moody’s menaikkan peringkat kredit Italia dari Baa3 menjadi Baa2 pada November lalu, kenaikan pertama dalam 23 tahun.
Baca juga: Pemerintah Jepang Desak X Perbaiki Fitur AI yang Disalahgunakan untuk Manipulasi
Saat Meloni mulai menjabat pada Oktober 2022, pasar sempat khawatir Italia akan mengadopsi kebijakan populis dengan belanja besar.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Pemerintahannya melonggarkan beban jaminan sosial kelas menengah, memperkuat pajak sektor keuangan, serta memangkas belanja kementerian dan pemerintah daerah.
Dampaknya, defisit anggaran Italia yang mencapai sekitar 8 persen dari PDB pada 2022 diperkirakan turun mendekati batas Uni Eropa, yakni sekitar 3 persen pada 2025.
Pasar merespons positif, tercermin dari menyempitnya selisih imbal hasil obligasi Italia terhadap obligasi Jerman ke level terendah dalam 16 tahun.
Sejumlah lembaga pemeringkat internasional lain juga menaikkan peringkat Italia sepanjang 2025.
Bagi Meloni, disiplin fiskal merupakan pelajaran dari krisis masa lalu yang sempat mengguncang Italia, Spanyol, dan Yunani, serta memicu lengsernya Perdana Menteri Silvio Berlusconi pada 2011.
Seorang politikus senior Italia mengatakan kepada Financial Times, Meloni memahami bahwa krisis keuangan dapat menghapus seluruh capaian politik.
Sebaliknya, kebijakan fiskal Jepang di bawah kepemimpinan Sanae Takaichi bergerak ke arah ekspansi. Pemerintah meningkatkan belanja secara signifikan, dengan anggaran tambahan 2025 sekitar 18 triliun yen dan rancangan anggaran 2026 mencapai 122 triliun yen.
Takaichi menyebut pendekatan ini sebagai “ekspansi fiskal yang bertanggung jawab”.
Namun, pasar merespons dengan kehati-hatian.
Baca juga: 68 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia–Jepang, Wisma Duta yang Menjadi Simbol Persahabatan
Penjualan obligasi meningkat, suku bunga jangka panjang sempat menyentuh level tertinggi dalam 27 tahun, dan tekanan pelemahan yen semakin terasa.
Meski dinilai sukses menjaga stabilitas fiskal, ekonomi Italia di bawah Meloni juga menghadapi tantangan.
Reformasi struktural besar cenderung tertunda demi menghindari konflik politik, sementara daya saing industri utama seperti otomotif melemah.
Proyeksi Komisi Eropa menunjukkan pertumbuhan ekonomi Italia hingga 2027 diperkirakan berada di bawah 1 persen, kondisi yang juga dialami Jepang.
Dua pemimpin perempuan dengan pendekatan ekonomi berbeda kini menjadi sorotan global.
Takaichi mengandalkan stimulus fiskal untuk mendorong pertumbuhan, sementara Meloni memilih disiplin anggaran demi menjaga kepercayaan pasar.
Keduanya sama-sama menikmati tingkat dukungan publik yang tinggi di dalam negeri.
Dalam kunjungan ini, Takaichi dan Meloni dijadwalkan mengumumkan peningkatan hubungan Jepang–Italia menjadi “Kemitraan Strategis Khusus”.
Pernyataan bersama akan mencakup penguatan kerja sama keamanan, pengembangan pesawat tempur generasi berikutnya, kerja sama teknologi antariksa, serta penguatan sektor energi.
Perusahaan energi Italia, ENI, juga akan menyepakati pasokan LNG prioritas ke Jepang dalam kondisi darurat.
Kesepakatan ini menandai babak baru hubungan politik, ekonomi, dan keamanan Jepang–Italia di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Diskusi mengenai pemimpiin wanita di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.