Siapa yang Akan Ambil Alih Jika Terjadi Perubahan Pemerintahan di Iran? Marco Rubio Menjawab
Rubio menilai perubahan rezim di Iran lebih rumit dibandingkan Venezuela dan tidak ada yang tahu siapa yang akan mengambil alih jika Khamenei jatuh.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Bobby Wiratama
Ringkasan Berita:
- Rubio menilai perubahan rezim di Iran lebih rumit dibandingkan Venezuela dan tidak ada yang tahu siapa yang akan mengambil alih jika Khamenei jatuh.
- Trump meningkatkan tekanan dengan mengirim armada besar ke Iran dan menegaskan ancaman militer jika negosiasi nuklir gagal.
- Iran menolak berunding di bawah ancaman dan memperingatkan akan membalas keras jika diserang.
TRIBUNNEWS.COM - Di tengah peringatan terbaru Presiden AS Donald Trump kepada Iran terkait program nuklirnya, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyampaikan pandangannya mengenai siapa yang akan mengambil alih kepemimpinan Iran jika pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, digulingkan.
Dalam pidatonya di hadapan Komite Senat, Rabu (28/1/2026), Rubio mengakui bahwa memaksakan perubahan rezim di Iran akan jauh lebih rumit dibandingkan di Venezuela, tempat AS berupaya menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.
"Ini bukan makanan beku siap saji yang bisa Anda masukkan ke dalam microwave dan dalam dua setengah menit sudah siap dimakan," kata Rubio, mengutip NDTV.
"Ini adalah hal-hal yang kompleks."
Ia menambahkan bahwa tidak ada yang mengetahui secara pasti siapa yang akan mengambil alih kekuasaan jika pemimpin tertinggi Iran digulingkan.
"Saya rasa tidak ada yang bisa memberi Anda jawaban sederhana tentang apa yang akan terjadi selanjutnya di Iran jika Pemimpin Tertinggi dan rezimnya jatuh," ujarnya.
AS-Iran Memanas
Dalam sebuah unggahan di platform media sosial Truth Social pada hari Rabu, Trump mengatakan bahwa kekuatan angkatan laut AS dalam jumlah besar, yang digambarkan sebagai "armada besar" yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln, sedang bergerak menuju Iran.
Ia menegaskan urgensi agar Iran kembali ke meja perundingan dan mendesak Teheran untuk mencapai kesepakatan yang akan melarang pengembangan senjata nuklir.
Ia memperingatkan bahwa waktu hampir habis dan jika Iran tidak mematuhi seruan tersebut, serangan berikutnya akan jauh lebih buruk daripada serangan sebelumnya.
"Armada besar sedang menuju Iran. Armada ini bergerak cepat dengan kekuatan, antusiasme, dan tujuan yang besar.
Armada ini lebih besar, dipimpin oleh Kapal Induk Abraham Lincoln yang hebat, dibandingkan yang dikirim ke Venezuela.
Seperti halnya dengan Venezuela, armada ini siap, bersedia, dan mampu untuk segera memenuhi misinya, dengan kecepatan dan kekuatan jika diperlukan.
Semoga Iran segera 'datang ke meja perundingan' dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan seimbang — TANPA SENJATA NUKLIR — kesepakatan yang menguntungkan semua pihak.
Waktu hampir habis, ini benar-benar sangat penting! Seperti yang pernah saya katakan kepada Iran sebelumnya, BUAT KESEPAKATAN!
Mereka tidak melakukannya, dan terjadilah 'Operasi Midnight Hammer', penghancuran besar-besaran di Iran.
Baca tanpa iklan